HUT Kopassus: Aktualisasi Peran Pasukan Khusus

Maraknya aksi teror di Tanah Air dan mancanegara, semakin menguatkan asumsi bahwa keberadaan pasukan khusus selalu aktual. Terlebih aksi teror atau ledakan bom itu sulit diramalkan kapan akan terjadi, itu sebabnya selalu dibutuhkan satuan yang mampu bereaksi cepat guna mengatasinya. Salah satu satuan yang sejak lama disiapkan untuk mengatasi teror adalah Kopassus. Dengan terus mengasah kemampuan di bidang anti-teror, Kopassus telah memberi andil besar bagi terciptanya rasa aman masyarakat.

Unit Anti Teror

Peristiwa ledakan bom yang terus menghantui masyarakat kita, telah menambah kesadaran tentang arti penting keberadaan satuan anti-teror. Pembentukan atau pengembangan unit-unit anti-teror pada satuan-satuan TNI dan Polri, didasari pemikiran, bahwa telah terjadi metamorfosa pada berbagai bentuk ancaman, dan acapkali bentuk ancaman itu demikian canggih, hingga sulit terdeteksi.

Di lingkungan Angkatan Darat, semula hanya Kopassus yang memiliki secara khusus unit Anti-Teror (Detasemen 81), tapi kini kesatuan di bawah Kodam dan Kostrad, telah pula memilikinya, tentu saja dengan merujuk pada Detasemen 81, yang kini sebutannya adalah Satuan Penanggulangan Teror 81, disingkat Satgultor 81. Satuan-satuan di bawah Kostrad dan Kodam (khususnya Kodam Jaya), juga mengembangkan pelatihan pertempuran di kawasan perkotaan, yang biasa dikenal sebagai PJD (Pertempuran Jarak Dekat, Close Quarters Battle).

Pada Operasi Tinombala (Poso dan sekitarnya), sekitar setahun lalu, yang berhasil menyergap Santoso, adalah  Yonif 509 Kostrad (markas Jember). Artinya kemampuan anti-teror sudah merata pada tiap satuan. Secara umum bisa dikatakan, pada tiap bataliyon di TNI AD selalu disiapkan satu unit (setingkat peleton) aksi khusus, guna mengatasi ancaman dengan intensitas tinggi.

Isu mengenai ancaman teroris internasional semakin marak, setelah peristiwa 11 September 2001 di New York. Namun sejak tahun 1970-an, sebenarnya sudah banyak negara yang membentuk satuan khusus anti-teror. Karena sejak saat itu, sudah mulai dikenal operasi penyanderaan dan pembajakan pesawat, baik bermotif politik maupun ekonomi. Salah satu peristiwa yang banyak menarik perhatian dunia, adalah penyanderaan atlet Israel pada Olimpiade di Munich (1972).

Berdasar pengalaman itu, kepolisian Jerman (Barat) membentuk satuan khusus anti-teror yang dikenal sebagai GSG 9 (Grenzschutzgruppe 9). Satuan anti-teror GSG 9 termasuk yang terbaik di dunia untuk kategori satuan sejenis. Beberapa negara yang juga mengembangkan satuan anti-teror antara lain: Perancis (Groupe d’Intervention de la Gendarmerie Nationale dan RAID), Israel (ZAHAL), Italia (Gruppo d’Intervento Speziale, GIS),  Korea Selatan (707th Special Missions Battalion), Belanda (BijzondereBijstands Eenheid = Special Support Unit), Inggris (Special Air Service, SAS), dan Amerika (1st Special Force Operation Detachment – Delta, Navy SEAL, Fleet Anti-Terrorism Security Team – FAST).

Kebutuhan untuk membentuk satuan khusus anti-teror juga dirasakan Kopassus saat itu. Dengan supervisi Almarhum Jenderal Benny Murdani, mulailah dirintis pembentukan satuan anti-teror, yang pada perkembangannya kemudian dikenal sebagai Detasemen 81 (Den 81) Kopassus. Satuan ini mulai dikenal publik, termasuk dunia internasional, ketika menggapai sukses dalam “Operasi Woyla” di Bangkok (April 1981). Untuk menambah kemampuan satuan anti-teror, dikirimlah dua perwira muda Kopassus (tahun 1981) berlatih di GSG 9, Jerman, yaitu May Inf Luhut B Panjaitan dan Kapt Inf Prabowo Subianto.

Sehubungan adanya beberapa kali reorganisasi dalam Kopassus, maka satuan-satuan di bawahnya juga mengikuti langkah itu. Setelah beberapa waktu satuan anti-teror Kopassus disebut sebagai Den 81. Pada Juni 1996, satuan ini direorganisasi dan memperoleh sebutan Grup 5/Anti-Teror. Kemudian pada seputar tahun 2001, satuan dengan semboyan “Siap, Setia, Berani” ini kembali mengalami reorganisasi, dan kini dikenal sebagai Sat Gultor 81.

Sinergi Antar Kesatuan

Bagi negeri kita, begitu krusialnya ancaman teroris atau teror itu, maka satuan anti-teror juga dikembangkan di angkatan lain. Seperti Detasemen Jala Mangkara (Korps Marinir), Komando Pasukan Katak TNI-AL, Detasemen Bravo Paskhas TNI-AU, Satuan Gegana (Brimob Polri), dan Densus 88 (Polri).

Sebagaimana diketahui, unit-unit anti-teror di negeri kita, pada umumnya dilatih untuk menghadapi aksi-aksi teror dari sekelompok teroris, artinya yang dihadapi adalah sekelompok manusia juga, seperti pembajakan pesawat terbang atau penyanderaan di gedung bertingkat. Bila yang dihadapi adalah bom, perlu ada metode dan kurikulum pelatihan tersendiri.

Kemampuan yang ada selama ini, adalah sebatas melumpuhkan atau menjinakkan bom,  yang belum sempat meledak dan  sudah diketahui keberadaannya. Tugas ini biasa dilakukan oleh unit Jihandak (Penjinakan Bahan Peledak) dari Gegana Brimob Polri dan  Korps Zeni Tempur TNI-AD. Kasus peledakan bom akhir-akhir ini, telah memberi pelajaran pada kita, tentang perlunya  kemampuan melacak keberadaan bom-bom yang belum diketahui secara pasti keberadaannya. Setelah diketahui keberadaannya, baru dijinakkan.

Untuk mengetahui keberadaan bom, sebagai upaya pencegahan bencana yang lebih besar. Salah satu langkah adalah kerja sama yang rapi dengan satuan intelijen. Dengan demikian perlu ada peningkatan berkelanjutan, dalam hal kemampuan dan koordinasi, antara personel unit intelijen dan unit anti-teror. Biasanya memang personel intel dan anti-teror berada dalam satuan yang terpisah. Seperti di Kopassus misalnya, unit intel tergabung dalam Grup 3/Sandi Yudha, sedang unit anti-teror tergabung dalam Satgultor (Satuan Penanggulangan Teror).

Mengingat resiko yang ditimbulkannya demikian dahsyat,  pada titik ini kita bisa merenungkan kembali pernyataan Letjen TNI Purn Tarub, saat masih menjabat Komandan Kopassus (1992-1993): “Sekarang adalah kondisi ketidakpastian, yang membuat kita harus lebih siap lagi.” Poin penting pernyataan Letjen Tarub adalah, karena bentuk ancaman sulit dideteksi, termasuk pula tidak dapat dipastikan kapan munculnya, berarti kita dituntut untuk selalu waspada dan siap mengatasinya, jika suatu saat aksi teror itu benar-benar terjadi.

 

Aris Santoso, sejak lama dikenal sebagai pengamat TNI, khususnya TNI AD 

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR