IMANG

Tri Agus S Siswowiharjo, akrab dipanggil TASS, penulis, penyuka humor dan dosen di STPMD/APMD Yogyakarta

Densus 88 menggerebek Gelanggang Mahasiswa FISIP UNRI (Universitas Negeri Riau). Tiga terduga teroris yang berstatus alumni ditangkap dan sejumlah barang bukti terkait terorisme ditemukan di salah satu ruang aktivitas mahasiswa itu. Penangkapan dan penggeledahan di kampus UNRI mengagetkan banyak pihak.

Ada yang khawatir kebebasan akademik di kampus terancam apalagi pada saat yang sama beredar tujuh kampus negeri yang terindikasi terpapar kelompok radikal menurut BNPT. Ketujuh Perguruan Tinggi Negeri (PTN) itu adalah: Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), Institut Teknologi Surabaya (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB).

Wakapolri Komjen Syafruddin mengatakan mahasiswa UNRI silakan beraktifitas seperti biasa. Kita tak boleh tendensius menggenalisir semua mahasiswa dan kampus terlibat kelompok radikal. Saya tak terlalu kaget ada sebuah kampus digerebek Densus 88. Pasalnya sejak lama kampus-kampus kita telah menjadi ajang berseminya paham intoleransi dan radikal yang diimpor dari Timur Tengah sejak 1980an.

Sebagai mahasiswa penghuni gelanggang mahasiswa di IKIP Jakarta pada 1980an saya pernah secara tak resmi menjadi Ketua IMANG (Ikatan Mahasiswa Menginap). Mahasiswa yang menginap di gelanggang biasanya aktivis di unit kegiatan di kampus. Ada pers mahasiswa, kesenian, olahraga, kelompok diskusi, pramuka, fotografi, pecinta alam dan lain-lain. Mereka banyak kegiatan di kampus sehingga menginap di kampus. Ada yang rumahnya di sekitar Jakarta, ada juga yang punya kost di sekitar kampus.

Pihak kampus pada umumnya tak melarang atau membuat aturan ketat terkait mahasiswa menginap di kampus. Setidaknya saya pernah menginap di gelanggang mahasiswa ISTN (Institut Sains Teknologi Nasional), UGM (Universitas Gadjah Mada) dan ITB saat berjejaring baik sesama aktivis pers mahasiswa atau rapat-rapat aktivis mahasiswa melawan orde baru.

Tentu saja kadang ada masalah di gelanggang mahasiswa yang terbuka 24 jam itu. Masalah yang umumnya sering terjadi adalah minuman keras, narkoba sampai seks bebas. Karena tiga hal tadi tak jarang terjadi perkelahian sampai tawuran antar kelompok mahasiswa. Saat itu kelompok mahasiswa masjid juga tumbuh bersamaan menguatnya identitas keislaman seperti pemakaian jilbab. Meskipun UNJ tak termasuk dalam tujuh kampus negeri yang terpapar radikalisme, namun setahun lalu viral di youtube seorang mahasiswa UNJ promosi khilafah.

Suatu saat di kampus tempat kini saya mengajar, ada rencana pembenahan gelanggang mahasiswa dengan membatasi aktifitas mahasiswa di malam hari. Saya diminta pendapat tentang hal ini. Terus terang saya langsung teringat saat menjadi mahasiswa sekaligus ketua Imang tiga dekade yang lalu.

Menurut saya mahasiswa yang menghuni gelanggang umumnya bertanggungjawab terhadap aktifitasnya. Mereka selalu menjaga nama baik unit kegiatan mahasiswa (UKM) sehingga jarang melakukan tindakan di luar batas. Terkait ada alumni yang ditangkap di gelanggang karena diduga teroris seperti di UNRI, kemungkinan hal ini karena UKM itu kurang demokratis dan kurang membaur dengan UKM lainnya. Adanya alumni yang ditangkap di gelanggang menunjukkan dominasi alumni terhadap mahasiswa. Artinya UKM itu dimanfaatkan oleh para senior yang sudah alumni.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR