Imlek Kita

Tahun Babi - Imlek 2019 (gambar: dreamstime.com)

Jika hari ini, hampir dalam semua ornamen dalam ruang publik begitu ceria, maka kita diingatkan bahwa Imlek telah tiba.

Imlek adalah salah satu kekayaan kita. Pantas saja, Gus Dur mempertaruhkan dirinya. Dalam memperjuangkan sesuatu yang layak. Barongsai.

Gus Dur tegak berdiri ditengah cacian orang, karena tak bergeming membela sekelompok minoritas. Banyak label untuk orang-orang yang dibela Gus Dur; Cina, Sipit, Singkek, Amoy, Aseng, Taipan. Cacian yang lebih pedih juga mendarat kasar dimuka Gus Dur. Tapi, apa? Gus Dur tak bergeming. Mantra jitu; Gitu Aja Kok Repot.

Gus Dur, sebenarnya menanggung kerepotan yang bukan dibuat olehnya. Kerepotan yang sudah diciil sebuah Rezim. Nama rezimnya; Orde Baru.

Tanpa Gus Dur, mungkin sejarah tidak berubah. Bisa-bisa Barongsai dianggap sebuah yang sesat. Atau jangan-jangan Imlek dilarang.

Malam ini, suasana itu bukan saja gegap gempita bagi keluarga kita yang Tionghoa. Saudari kita yang berhijab, juga punya geliat menanti pertunjukan Barongsai. Bagi yang punya sedikit berlebih uang, mereka pergi ke pusat perbelanjaan. Berburu barang bermerek dengan potongan harga yang lumayan.

Orang tidak takut-takut memasang baliho, dengan wajah perempuan berbalut Cheongsam; bertulis “Gong Xi Fa Cai”

Jangan lupa, hal yang paling otentik; jeruk mandarin, kue keranjang dan amplop merah. Kemakmuran, serta kemurahan adalah pesan dibalik simbol-simbol itu.

Biasanya, mereka yang selalu sinis dan kecut kepada saudara Tionghoa. Mereka yang selalu teriak-teriak Aseng, Amoy, dan seterusnya. Juga turut tersenyum, kalau-kalau amplop merah sudah digenggaman. Ya, memang begitulah.

Imlek kita, memberi satu penjelasan bahwa inilah menjadi satu kesatuan tradisi kita. Semua orang berhak berbahagia. Apalagi kalau-kalau amplop merah sudah ditangan kalian.

Selamat tahun baru Imlek 2019. Semoga, kesejahteraan melimpah kepada kita. Semoga, kemakmuran terwujud segera. Melalui, Kerja Nyata!

Tabik!

 

Abi Rekso Penggalih (Istimewa)
Abi Rekso Penggalih (Istimewa)

Penulis Abi Rekso Panggalih, pemerhati masalah sosial dan politik

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR