informasi Hoax dan Hasil Survey Tidak Mempengaruhi Pilihan dalam Pilkada

Beredarnya banyak informasi hoax atau bohong yang menyebar secara cepat, telah memenuhi ruang publik. Intensitas pembicaraan semakin meningkat di momentum Pilkada karena ada aspek kalah menang. Ada aspek mengunggulkan dan merendahkan, dalam materi informasi palsu tadi.

Kemasan informasi palsu saat ini bukan hanya fitnah dan kebencian. Informasi palsu ini bahkan juga dikemas dalam bentuk hasil survey. Tiba-tiba menjelang Pilkada, lembaga survey menjamur, dan mengeluarkan hasil survey, dengan hasil yang berbeda-beda.

Dengan tanpa klarifikasi dan verifikasi, Informasi palsu tersebut disebar kembali apabila sesuai dengan pilihannya. Dan informasi itu akan direspon dengan materi berita bohong lainnya, jika informasi itu tidak sesuai dengan pilihan hatinya.

Pertanyaaanya, apakah informasi hoax atau berita bohong itu mempengaruhi pilihan sesorang? Dan apakah hasil survey bisa digunakan sebagai penggiringan opini, yang mengubah pilihan pemilih?

Masykurudin Hafidz, Kordinator Nasional JPPR (Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat), menyatakan bahwa  informasi palsu adalah alat kampanye terselubung, tetapi tidak ada manfaatnya. Menurutnya, pemilih yang masih ragu atas pilihannya tidak akan terpengaruh oleh berita bohong, apalagi mereka yang sudah memiliki pilihan. “Perbincangan di grup WA dan media sosial adalah wujud kemandirian berpendapat dan eksistensi pilihan pribadinya,” ujar Masykurudin, yang biasa dipanggil Maskur

Masih menurut Maskur, informasi bohong tidak secara langsung dapat mempengaruhi pilihan. Menurutnya, pemilih dalam menentukan pilihannya dalam Pilkada, didasarkan pada informasi yang jelas, verifikatif dan subtansial. Dan berita bohong hanya meningkatkan sentimen masyarakat pemilih.

“Perbincangan sosial dalam hal Pilkada dengan materi berita palsu hanya menghasilkan emosi pengirim dan penerima. Tidak berpengaruh apapun terhadap peningkatan elektabilitas dari praktik tersebut. Sebaiknya mereka yang senang informasi hoax, mengalihkan perbincangan,dari materi negatif penuh kebohongan dan kebencian kepada materi kampanye yang lebih positif dan mendidik,” kata Maskur.

Berkaitan dengan hasil survey yang berbeda, menurut Deny JA, perbedaan itu sebaiknya ditanyakan kepada masing-masing lembaga survey, atau ke lembaga survey yang hasilnya paling berbeda.

Fungsi survey yang utama adalah alat untuk mengidentifikasi isu-isu yang berkaitan dengan paslon. Dari identifikasi isu itu akan disusun strategi dan program kampanye. Tapi saat ini kecendrungannya, fungsi survey direduksi hanya sebatas informasi tentang elektabilitas paslon.  Banyaknya lembaga survey yang merilis hasil yang berbeda-beda, karena banyak paslon percaya bahwa survey merupakan alat untuk menggiring opini. Hal tersebut dibenarkan oleh Denny JA melalui pesan singkatnya.

Sebenarnya berapa efektif survey sebagai alat untuk menggiring opini, Denny menyatakan bahwa hal tersebut tidak efektif. Bahkan menurutnya, LSI memiliki riset yang menunjukan hal tersebut.

“Benar itu (survey lebih sebagai alat untuk mengidentifikasi kebutuhan kampanye-red). Tak efektif mempengaruhi opini dengan survey. Ada risetnya,” ujar Denny singkat.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR