Inilah Kronologi Kekerasan Terhadap Jurnalis Radar TV Palu

Jurnalis Muh Iqbal saat melaporkan kasusnya ke Propam Polda Sulteng (Fifin)

Kekerasan terhadap jurnalis kembali terjadi. Tindakan kekerasan kali ini dilakukan oleh aparat kepolisian terhadap jurnalis Radar TV Palu yang bernama Muh Iqbal. Koordinator Divisi Advokasi AJI Kota Palu Fauzy Lamboka menjelaskan kronologi kekerasan terhadap jurnalis Radar TV Palu tersebut melalui pesan tertulisnya kepada media.

Selain itu, AJI juga mengecam sikap tidak profesional dan angkuh, yang masih mewarnai penegak hukum, yaitu aparat kepolisian di Sulawesi Tengah. Ia kemudian menjelaskan, kekerasan fisik dan umpatan kasar dialami jurnalis Muh Iqbal, pada saat Iqbal terjaring razia, ketika itu hendak pulang ke rumah dari tempat kerjanya di Radar TV Palu Jalan Yos Sudarso Kota Palu.

“Malam itu, polisi dari Polsek Palu Timur memang sedang menggelar razia,” ujar Fauzi.

Adapun kronologi kekerasan terhadap jurnalis Radar TV Palu secara lengkap, berdasarkan keterangan Iqbal, adalah sebagai berikut:

Tanggal 23 Juni 2018, sekitar Pukul 21.00 saya pulang dari kantor Radar Group yang terletak di jalan yos Sudarso No 09, di Jalan Jabal Nur tepatnya di depan pura Agung Wana Kertha Jagatnhata.

Saya diberhentikan oleh petugas kepolisian yang sedang melakukan razia. Oleh oknum polisi tersebut saya dimintakan STNK. Dompet dan tas kerja, saya titip sama istri yang pulang terlebih dahulu. Kepada polisi saya mengaku tidak membawa surat surat satupun bahkan tanda pengenal.

Oleh oknum polisi tersebut saya dipersilahkan untuk balik kerumah ambil STNK untuk mengambil motor saya kembali. Mendapat instruksi seperti itu saya kemudian langsung menghubungi rekan kerja saya (Fery Fajrien) untuk menjemput.

Ketika sedang menunggu jemputan saya kembali didatangi oleh oknum polisi lain dan meminta kunci motor saya karena akan dibawa ke Mako Polsek Palu Timur.

Karena sebelumnya saya sudah mendapat instruksi dari oknum polisi lain, saya menolak untuk menyerahkan kunci motor.

Tidak terima dengan sikap saya, oknum polisi itu kemudian memanggil atasannya (belakangan saya ketahui adalah Kanit Binmas Polsek Palu Timur) dan menyebutkan saya tidak kooperatif.

Saya akhirnya didatangi, oleh Kanit Linmas dan langsung bertanya dengan nada keras.

“Apa kau!! kau kenapa??” saya kemudian balik bertanya
“Saya kenapa pak?” . Terjadi perdebatan kecil. Tidak lama kemudian ia kemudian menarik leher baju saya dan memegang wajah saya sambil bertanya “Kamu mabuk ya?”

Saya membantah dan memberikan reaksi tidak senang. Melihat gelagat tersebut Kanit Binmas kemudian berteriak memanggil beberapa orang anggota polisi lain untuk mengamankan dan membawa saya ke kantor Polsek Palu Timur.

Lalu tiba tiba saya dicekik oleh anggotan polisi dari arah belakang. Dan beberapa lainnya memegangi saya sambil terus menyeret saya menjauh dari bahu jalan. Ketika mencekik tersebut saya terus berusaha mengklarifikasi kesalahan saya dan akhirnya memperkenalkan profesi, jika saya seorang wartawan.

Saya ditarik menjauh dari jalan ke tempat yang agak gelap sambil terus dicecar dengan bentakan dari beberapa oknum polisi lain.

Saya berusaha menjawabnya dan oleh polisi lain saya diminta diam. Saya menuruti permintaan tersebut untuk diam. Tapi karena terus dibentak saya akhirnya kembali bersuara dan protes dengan aksi mereka.

Sekitar lima menit di tempat tersebut saya akhirnya menuruti permintaan salah seorang anggota polisi yang tidak berseragam untuk mengalah dan meninggalkan tempat tersebut. Ketika saya mengenakan helm dan mengambil helm istri saya di motor yang sudah ditahan, saya kembali didatangi oleh Kanit Binmas dan beberapa anggota lain yang terus marah marah.

Saya berbalik dan menjawab tuduhan tuduhan mereka. Kanit Binmas juga mendekati saya dan berkali kali meminta ID Card saya dengan nada membentak.

Ia juga menantang saya untuk melaporkan ulahnya tersebut kepada kenalan saya yang menurutnya memiliki pangkat paling tinggi.

Ketika mencoba menjawab, dia tiba tiba maju dan mencekik leher saya dan tangan satunya terkepal hendak memukul namun dia urungkan.

Merasa terancam, saya kemudian bereaksi dengan membuka helm kembali.

Aksi membuka helm tersebut dianggap sebagai sikap menantang sehingga saya kembali dikerubuti. Ketika hendak naik motor, beberapa dari mereka kemudian dengan nada keras mulai mengejek dan mengeluarkan kata kata,
“Dasar wartawan kemarin sore”
“Wartawan jangan bakase tunjuk jago di sini tidak ada gunanya”.

Saya kemudian kembali memperkenalkan posisi dan tempat saya bekerja.
“Jika bapak menyebut saya wartawan kemarin, saya beritahukan ke bapak, saya adalah pemimpin Redaksi Radar TV. Saya kemudian meninggalkan tempat tersebut.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR