Irama Hidup Meilody, Sang Jawara Bintang Radio

“Inti saya jadi penyanyi adalah karena nyanyian saya”

Foto: istimewa.

Menjadi penyanyi terkenal tak cukup dengan bakat saja. Perlu kerja keras, mengasah ketrampilan, membangun jaringan, bersikap profesional hingga akhirnya sedikit keberuntungan. Irama hidup seperti itulah yang memang harus dilewati oleh banyak sosok terkenal di dunia tarik suara.

Ini pula yang dialami Meilody Indreswari, penyanyi berdarah Aceh dan Tionghoa ini, menjadi Juara Bintang Radio Tingkat Nasional Tahun 2007, mengalahkan penyanyi lainnya dari 65 kota di Indonesia. Dan di tahun yang sama, ia kembali membuktkan kualitas vokalnya dengan menjadi runner up pada Festival Klasik Melayu Tingkat ASEAN, di Malaysia.

“Sebetulnya sejak umur 10 tahun saya selalu ikut dari satu festival lomba nyanyi ke festival lainnya di Jakarta, hingga akhirnya saya menjadi juara tingkat nasional, yang kebetulan salah satu jurinya adalah Bapak James F. Sundah, ” ungkap Meilody pemilik wajah oriental, yang belajar menyanyi sejak kecil saat masih di Tanjung Balai, hingga kemudian belajar menyanyi profesional dengan John Bernard Posumah, yang kini adalah step father baginya.

Mei, sapaan akrabnya, tak pernah menyangka, pertemuannya dengan komposer sekelas James F. Sundah, selaku juri pada sejumlah festival hingga akhirnya dalam momen Bintang Radio tersebut, berbuah manis. Selain menjadi juara di ajang bergengsi itu, ia beberapa waktu kemudian, mendapat kepercayaan untuk menyanyi dalam sebuah album yang diproduseri langsung oleh James, pencipta lagu sepanjang masa, Lilin-Lilin Kecil itu.

“Saya terlibat dalam sebuah album bertema keluarga yang diproduseri Pak James. Album bertajuk Bubbles of Love ini sebagian direkam di Amerika dan sebagian di Indonesia. Ini menjadi satu-satunya album Indonesia yang terdaftar United States of Copyright Office. Dalam album yang sudah dijual di iTunes itu, saya bernyanyi dengan peran ibu bersama penyanyi lainnya yang berperan sebagai anak. Apresiasinya lumayan baik, karena mendapat nominasi AMI tahun 2013 untuk kategori album Anak-anak Terbaik,” terang Meilody, penyanyi dengan keterampilan teknis bernyanyi pada lintas genre, seperti lagu Mandarin, bahkan Keroncong.

Kini, 9 tahun setelah mendapat gelar juara Bintang Radio itu, di tengah-tengah jadwal latihannya yang cukup ketat, sembari menyanyi dibeberapa event tertentu, Meilody yang selalu bicara dengan nada mantap ini, mendapat kepercayaan yang luar biasa dalam hidupnya. Betapa tidak, ia kembali dipilih untuk menyanyi duet bersama James F. Sundah dalam Konser The Hit Makers, yang akan digelar pada tanggal 17 September 2016 mendatang, di Jakarta Convention Centre

“Saat penyelenggara Konser The Hit Makers meminta saya juga tampil sebagai penyanyi, maka pilihan lagu yang saya ambil adalah September Pagi. Dan untuk teman duet, saya memilih Meilody. Dia alumni Juara Bintang Radio Tingkat Nasional tahun 2007, yang kemudian juga jadi juara tingkat Asean di tahun yang sama. Melalui lagu ini, saya ingin masyarakat tetap melihat talenta-talenta hebat negeri ini yang sudah mengharumkan nama bangsa lewat prestasi internasionalnya, namun seperti dilupakan.

Pementasan lagu September Pagi ini, saya tribute-kan kembali untuk Juara-juara Bintang Radio yang bertebaran di negeri ini,” urai James, yang meyakini bahwa proses yang dialami oleh Meilody dalam karirnya, kurang lebih sama dengan proses kerja keras yang juga dialami oleh Ruth Sahanaya, Harvey Malaihollo dan penyanyi jebolan Bintang Radio lainnya.

Tak terbayangkan betapa senang dan bahagianya hati Meilody, ketika mendapat kepercayaan istimewa untuk berduet dengan penyanyi sekaligus pencipta lagunya. “Saya senang banget. Karena menyanyi dengan pencipta lagunya itu sesuatu yang berbeda. Apalagi Pak James sudah lama tak nyanyi. Ini hal yang ditunggu-tunggu dan seru. Ini semacam tribute untuk Ruth dan Harvey. Saya dipilih karena saya juga alumni Bintang Radio,” papar Meilody yang berharap kelak nanti bisa menyanyikan lagu ciptaan James F. Sundah untuk album solonya kelak nanti.

Mei, sempat menyisipkan kisah yang mengesankan seputar James F. Sundah. Katanya, saat ikut festival, ayahnya berkata padanya, “Perhatiin yaa, kuping Pak James itu tipis”. Artinya, jika suara penyanyi sumbang sedikit saja langsung ketahuan. Belakangan Mei baru mengetahui, bahwa setiap kali menjadi juri, James F. Sundah menggunakan software yang bisa mendeteksi suara seorang penyanyi, sumbang atau tidak.

Perjalanan karir Meilody masih panjang terbentang. Ia pun masih menyadari betapa ketatnya persaingan dalam industri musik yang kini berada di depan matanya. Meski memiliki ketrampilan menyanyi yang baik, Ia menyadari bahwa perlu mengasah bakatnya untuk menulis lagu sendiri.

“Inti saya jadi penyanyi adalah nyanyian saya. Karenanya saya akan jadi diri sendiri dan menyanyi sebaik-baiknya. Dimanapun selalu ada persaingan, maka saya harus siap menghadapinya,” simpul Meilody, tentang upayanya untuk bisa menghadapi kompetisi dalam industri musik yang nyata adanya.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR