ISIS Serukan Anggotanya Untuk Serang Palestina, Iran Hingga Saudi Arabia

Foto ilustrasi ISIS

Kelompok Islamic State of Iraq and al-Sham (ISIS) mengeluarkan seruan bagi anggotanya untuk menyerang Palestina, Iran, Mesir, Saudi Arabia dan negara-negara Arab lainya yang mereka anggap murtad. Selain negara-negara Arab tersebut, ISIS juga menyerukan agar anggotanya menyerang Eropa dan Amerika Utara.

Melalui rekaman suara berdurasi beberapa jam dan menyebar melalui aplikasi pesan Telegram, juru bicara ISIS, Abu Hassan Al-Muhajir, meminta seluruh anggota kelompok teroris tersebut agar mencurahkan amarah terhadap pemimpin negara Arab. Ini merupakan pernyataan hasutan pertama ISIS dalam sebulan sepuluh bulan terakhir setelah kelompok tersebut mengalami banyak kekalahan di Irak dan Suriah.

Negara-negara Arab dijadikan target karena kelompok itu ingin fokus berperang di “dekat rumah”. “Tidak ada perbedaan antara memerangi para pemimpin Arab Saudi, Mesir, Iran dan Palestina dan sekutu Tentara Salib Amerika mereka, atau Rusia atau Eropa. Mereka pantas diperlakukan lebih keras lagi karena negara Arab ini lebih ganas dan kejam terhadap Islam,” ujar Al-Muhajir, dalam pernyataannya yang dikutip The New York Times, Senin (23/4/2018).

Dalam rekaman itu , ISIS juga menyerukan serangan terhadap Irak yang akan melangsungkan pemilihan umum pada 12 Mei mendatang. Al-Muhajir mengatakan siapa saja yang bekerja sama dengan pemerintah Irak akan menjadi target serangan kelompoknya. Tak hanya Syiah yang dianggapnya sesat, Al-Muhajir juga menyerukan pejuang ISIS untuk lebih banyak membunuh penganut Suni yang patuh pada pemerintah Irak di Irak.

“Tempat-tempat pemungutan suara dan orang-orang di di dalamnya menjadi target pedang kami. Jadi menjauh lah, jangan mendekati tempat-tempat itu,” kata Al-Muhajir.

Sekitar bulan Juni 2017, ISIS melalui Al-Muhajir juga merilis pidato yang mengulas sejarah pasukan Islam yang menang perang meski kalah jumlah. Dalam pidato itu, dia menyerukan serangan ala “lone wolf” di Eropa, termasuk di Rusia. Rekaman suara pidato pada Juni itu menggemakan pidato juru bicara ISIS sebelumnya, Abu Muhammad al-Adnani, yang menyebar hasutan kekerasan global.

Dilansir The New York Times, pengamat kebijakan Timur Tengah dari Institut Tahrir, Hassan Hassan, mengatakan seruan terbaru ISIS ini menunjukkan bahwa kelompok teroris itu berupaya untuk tetap eksis dengan kembali ke tujuan awalnya, yakni sebagai pemberontak di kawasan.

“Seruan ini sejalan dengan langkah-langkah ISIS belakangan ini untuk menjadi gerakan yang lebih internal,” kicau Hassan melalui akun Twitternya.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR