James F. Sundah: “September adalah Bulan yang Unik”

Lama tak terdengar suaranya, James F. Sundah, pencipta sejumlah tembang hit ini, tak berarti diam sama sekali. Selain masih terus menulis lagu, Ia yang sejak 10 tahun terakhir ini mukim di Amerika, tetap konsisten pada upayanya untuk terus mendorong agar kelak musisi asal Indonesia bisa memasuki gerbang go international pada track yang tepat di Amerika.

Setahun sekali, James, pria berdarah Manado ini kembali ke tanah air. Selain untuk melaksanakan tanggung-jawabnya sebagai juri tetap Bintang Radio dan TV Tingkat Nasional yang memang dilaksanakan setiap tahun, Ia juga memanfaatkan kedatangannya untuk silaturahmi dengan sesama seniman, termasuk dengan dua sahabatnya yang nota bene adalah penulis lagu seperti dirinya, Oddie Agam dan Dian Pramana Poetra.

Khusus tahun 2016, James akan kembali ke tanah air dalam rangka memeriahkan Konser THE HIT MAKERS, yang menampilkan 3 komposer sekaligus penyanyi, kebanggaan Indonesia yakni Dian Pramana Poetra, Oddie Agam dan ia sendiri, James F. Sundah, pada tanggal 17 September. Ketiganya adalah “The Hit Makers”, yang telah membuktikan bahwa lagu-lagu hit ciptaan mereka sejak era 80-an, hingga kini masih terdengar mengudara di radio di seluruh Indonesia.

Sebut saja diantara lagu hit ciptaan mereka, seperti September Pagi, Lilin Lilin Kecil, September Ceria, Astaga, Ironi, Biru, Semua Jadi Satu, Masa Kecilku, Masih Ada, Wow, Surat Cinta, Logika, Antara Anyer dan Jakarta.

Berkaitan dengan dilantunkannya kembali lagu September Pagi, yang akan dinyanyikannya secara duet bersama penyanyi muda berbakat, Meilody, kami mencoba mengungkapkan apa sesungguhnya kekuatan dari sosok James F. Sundah sebagai seorang komposer dan kekuatan dibalik setiap lagu-lagu hit ciptaannya.

Berikut ini petikan obrolan Buddy ACe bersama James F. Sundah, komposer musik hebat dan ternama di blantika musik Indonesia.

Apa sesungguhnya kekuatan lirik sebuah lagu?

Keberadaan lirik dalam suatu komposisi lagu sangatlah vital, bila ditinjau bahwa lagu juga berfungsi sebagai Penyampai Pesan dan makna dari pencipta dan penyanyi-nya kepada pendengar.

Walaupun secara terpisah, melodi atau notasi lagu merupakan juga bahasa yang universal, sehingga bisa menimbulkan makna tersendiri yang kuat. Namun, apabila notasi tersebut di lengkapi dengan lirik yang tepat, baik secara makna maupun Dixie Phrasering (cara memenggal ucapannya). Maka kekuatan lagu tersebut jadi lebih dahsyat sebagai pemberi atau penyampai pesan dan makna.

Sebaliknya, apabila lirik yang kuat tidak sinkron dengan notasi lagu baik secara makna dan atau Phrasering Dixie-nya tidak tepat, maka lagu teresbut secara keseluruhan akan kehilangan kekuatan bahkan dapat berubah makna.

Contoh kekuatan lirik dalam lagu September Pagi?

Sebenarnya agak kurang enak, kalau saya pribadi menilai kekuatan lirik lagu sendiri, biarlah para pendengar yang menilai…hehehe. Tapi saya akan coba menggambarkan proses penciptaan lirik lagu September Pagi. Sebelumnya saya akan menjelaskan kekaguman saya terhadap Bulan September. Bagi saya Bulan September adalah bulan yang unik, dimana suasana alam pun akan terasa berbeda di belahan bumi manapun kita berada, karena sejatinya di bulan ini terjadi transisi musim.

Di negara dua musim seperti Indonesia, bulan September adalah peralihan dari musim kemarau yang panas ke musim hujan yang dingin dan sejuk, seperti datangnya suatu harapan baru yang indah setelah penantian panjang melewati masa-masa yang sulit. Lirik September Pagi sendiri, menceritakan rasa syukur sepasang kekasih setelah melewati masa sulit perjalanan cinta mereka..

September pagi ini … September kita
September pagi ini, Ingin ku mengucap terima kasih Tuhan,
Atas segala Nikmat yang tlah Kau beri

September pagi ini…September kita
September pagi ini, Memberi sejuta arti dalam hidup ini

Bagaimana dengan lagu Lilin-Lilin Kecil?

Waduh..?! Ini pertanyaan yang makin sulit… kalau harus membandingkan antara karya-karya sendiri …hehe. Karena setiap lagu yang saya ciptakan selalu dimulai dengan datangnya inspirasi dalam wujud sebuah tema, kemudian baik notasi lagu maupun lirik yang akan saya susun selalu mengikuti tema tersebut. Dan karena “datang”nya tema masing-masing lagu itu diwaktu dan kondisi yang berbeda. Jadi sangat sulit membandingkan kekuatan lirik lagu-lagu tersebut. Ya… masing-masing mempunyai kekuatan sendiri sendirilah.

Misalnya lagu September Pagi dan September Ceria mempunyai tema Cinta yang dilatarbelakangi kepekaan terhadap gejala perubahan alam semesta. Atau lagu Astaga yang bertemakan keprihatinan atas hilangnya kepedulian di kalangan generasi cuek masa kini. Lagu Ozon dan Wajah Dunia bertemakan kerusakan lingkungan hidup.

Maka lagu Lilin-Lilin Kecil sebenarnya bertemakan solidaritas dalam pluralitas. Seperti ini penjelasannya. Satu Lilin biasanya digambarkan sebagai simbol dedikasi dan pengorbanan, dia memberikan cahaya bagi kegelapan dan akhirnya sang lilin pun harus mati setelah memberikan terangnya.

Dalam lagu ini saya ingin mengungkapkan ide pluralitas dengan memilih menulis kata benda jamak atau plural atau lilin-lilin. Bukan satu atau singular lilin. Dengan maksud apabila satu lilin setelah menjalankan pengabdiannya bisa padam kemudian kembali gelap. Maka dengan banyak lilin atau lilin-lilin, yang beragam warna dan latar belakangnya, sekalipun kecil (simbol generasi muda atau kumpulan orang yang lemah), akan selalu meberikan cahaya secara berkesinambungan.

Dan kekuatan kebersamaan atau solidaritas inilah yang saya harapkan bisa berpijar bahkan menyengat seisi dunia..

Apa sesungguhnya kekuatan 3 nama The Hit Makers ini?

Astaga…! Makin lama pertanyaannya kok makin sulit yaa…? Saya benar-benar gak bisa menilai diri sendiri. Sebaiknya saya pinjam istilah sahabat saya, Mas Seno M. Hardjo saja deh. Kata Mas Seno, kekuatan lagu-lagu saya ada di temanya. Menurut beliau, lagu-lagu ciptaan saya tematik dan idealis alias susah jualannya…hehehe.

Kalau bicara tentang kedua sahabat saya Oddie Agam dan Dian Pramana Poetra, bagi saya mereka berdua adalah komposer hebat. Selain melodi lagu lagu mereka sangat kaya akan progresi chord, liriknya pun unik dan keren. Kami bertiga “hidup” dan “besar” di jaman 80an – 90an yang lingkungan industrinya sama. Kesamaan kami yang lain adalah sama sama penggila lagu-lagu lagu karya TheBeatles.

Tak jarang dalam berbagai album, kami bertiga dipertemukan. Dan dari pertemuan inilah yang kemudian melahirkan persahabatan yang sejati dan sikap saling menghormati sampai saat ini.

Hubungan positif ini kami buktikan dengan membuat lagu baru bersama dalam Konser The Hits Makers, setelah rekan-rekan wartawan “menantang” kami.

Akhirnya di satu malam kami bertiga berkumpul. Ngobrol 30 menit untuk menyatukan konsep, tema, genre dan tempo lagu. Kemudian kami duduk dihadapan Piano dan Gitar. Lalu satu jam kemudian rampunglah lagu yang berjudul “Kini Ku Tak Sendiri Lagi”. Hal ini bisa terjadi karena persahabatan kami yang panjang dan saling respek sehingga mengalahkan “ego seniman” kami masing-masing.

Sebagai pencipta lagu September Pagi, apakah anda yang memilih penyanyi atau sebaliknya?

Setelah lagu September Pagi rampung, lagu tersebut saya simpan, menunggu satu saat akan bertemu penyanyi duet yang saya anggap tepat. Selang beberapa bulan kemudian, sewaktu Ruth Sahanaya sedang memulai proyek pembuatan album keduanya, dan karena saya sudah paham “kekuatan” Uthe (sapaan akrab Ruth, red.) pada saat membawakan lagu Astaga, ciptaan saya yang lain di album perdananya. Maka saat itu saya memberikan satu lagu untuk Uthe dalam tempo up beat-dance juga, yaitu lagu Amburadul yang langsung diproses rekamannya.

Setelah selesai proses rekaman lagu Amburadul tersebut, rupanya Iman, Producer dari Aquarius meminta satu lagu lagi dari saya (kalau ada ) yang bertempo medium atau slow. Lalu saya teringat lagu September Pagi, langsung saya tawarkan. Namun karena lagu ini diciptakan untuk komposisi duet, maka saya mengajukan syarat, yaitu harus featuring dengan satu penyanyi cowok untuk teman duet Uthe. Konsep ini disetujui oleh pihak Uthe dan Aquarius. Akhirnya jadilah Uthe berduet dengan Harvey Malaihollo.

Setelah Ruth dan Hervey, kini anda memilih Meilody berduet dengan anda menyanyikan September Pagi. Alasan musikal atau…?

Ya betul…! alasannya musikal dan histrorikal. Hehehe…Setelah lagu September Ceria yang dilantunkan Vina Panduwinata rilis tahun 1982, dan September Pagi oleh Ruth & Harvey rilis ditahun 92, ternyata kedua lagu tersebut, setelah 2-3 dekade masih sering diputar di radio tv dan dibawakan sampai sekarang.

Lalu saya berfikir, hal ini bisa terjadi bukan hanya karena faktor “kekuatan” lagu ciptaan saya dan aransemen keren dan apik oleh bung Addie MS saja. Ini pasti juga karena adanya kekuatan dan kehebatan olah vocal ketiga talenta terbaik negeri ini (Vina, Harvey, dan Uthe) tersebut.

Setelah saya analisa ketiga kekuatan vocal mereka, ternyata ada sebuah benang merah yang menurut saya bukanlah suatu “kebetulan”. Ternyata ketiganya adalah para alumni juara Bintang Radio TV Tingkat Nasional di jamannya, yang kemudian juga berhasil di ajang kontes penyani tingkat internasional.

Bahkan pada saat Harvey Malaihollo mengikuti WPSF – World Pop Song Festival – di Budokan Tokyo, ia berhasil menjadi juara satu. Dan kita terkejut saat mengetahui runner-up pada saat itu adalah utusan Canada bernama Celine Dion.

Saya pribadi bangga, bisa bekerjasama lewat lagu ciptaan dengan talenta-talenta hebat jebolan Bintang Radio TV negeri ini. Dan bukan kebetulan juga bahwa sampai tahun ini saya pribadi masih dipercaya oleh pihak RRI untuk menjadi Juri Bintang Radio Tingkat Nasional selama 2 dekade. Tugas ini saya jalankan untuk menetapkan pemenang secara adil dan jujur, bahkan sudah 10 tahun ini, setelah saya bermukim tetap di USA, setiap tahun saya tetap pulang ke tanah air untuk menjadi juri tingkat nasional di ajang Bintang Radio ini.

Oleh karena itu, saat penyelenggara Konser The Hit Makers meminta saya juga tampil sebagai penyanyi, maka pilihan lagu yang saya ambil adalah Setember Pagi. Dan untuk teman duet, saya memilih Meilody. Dia alumni Juara Bintang Radio Tingkat Nasional tahun 2007, yang kemudian juga jadi juara tingkat Asean di tahun berikutnya.

Melalui lagu ini, saya ingin masyarakat tetap melihat talenta-talenta hebat negeri ini yang sudah mengharumkan nama bangsa lewat prestasi internasionalnya, namun seperti “dilupakan”.

Pementasan lagu September Pagi ini, saya tribute-kan kembali untuk Juara-juara Bintang Radio yang bertebaran dinegeri ini.

Apa kekuatan persona Meilody sebagai penyanyi?

Sebagai Penyanyi jebolan Bintang Radio RRI, Meilody yang sudah melewati penyeleksian super ketat di tingkat kota. Untuk bisa menjadi juara Tingkat Nasional harus bersaing dengan talenta-talenta hebat dari 65 Kota di seluruh indonesia. Tentunya Meilody bukanlah penyanyi biasa. Dan biasanya mereka mampu bernyanyi lintas Genre.

Pada saat Final Tingkat Nasional th 2007 tersebut, pertama kalinya RRI menyelenggarakan ajang ini secara Open Air, dimana faktor kesulitan yang berat menuntut kemampuan teknik ekstra para finalis ini untuk bisa menjadi juaranya. Dewan Juri terdiri dari, saya, Iga mawarni, Tere Pardede, Marusya Nainggolan dan Bens Leo. Kami menetapkan Meilody peserta dari Jakarta sebagai juara 1 wanita dan Bryan peserta dari Jember sebagai juara 1 pria. Saat ini Bryan sudah menjadi Vocalis Band Jikustik (menggantikan Ponky Barata).

Adakah rencana memproduseri album solo Meilody?

Ya … Meilody sedang saya dilibatkan dalam proyek rekaman. Sekarang sudah rampung beberapa singlenya, dan shooting untuk video klipnya sudah diambil di beberapa lokasi antara lain di New York City, Amerika Serikat, di Tokyo dan Osaka Jepang, serta di Jakarta dan Papua untuk Indonesia.

Judul lagu dan seperti apa proyek ini, nanti tunggu aja kejutannya, yaa mas…***(BAC)

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR