Jazz On The Bridge Bangka, Memerdukan Indonesia Melalui Musik Jazz

Idang Rasjidi, pianis jazz senior, penggagas Jazz on The Bridge Bangka ( Budi Ace)

Jazz, tak melulu soal imigran Afrika yang menjadi budak di Amerika. Itu dulu, ratusan tahun silam. Kini Jazz menjelma menjadi medium sosial masyarakat diseluruh belahan dunia, termasuk Indonesia. Melalui Jazz On The Bridge Bangka yang diselenggarakan di tepi Sungai Koala, akan bisa diandalkan untuk memerdukan negeri.

Idang Rasjidi, musisi Jazz senior kebanggaan Bangka Belitung ini, menegaskan bahwa Musik Jazz bukan sekadar improvisasi bunyi semata, ditengah-tengah program ‘Jazz Clinic’ yang dihelat sebagai rangkaian kegiatan ‘Jazz On The Bridge Bangka’ (JOBB) di tepi Sungai Koala, Pangkal Pinang tak jauh dari bangunan Jembatan EMAS, yang baru saja diresmikan itu.

“Musik Jazz, musisi dan komunitas penggemarnya adalah sebuah kekuatan luar biasa, yang bisa diandalkan untuk memerdukan negeri ini dari berbagai aspek,” tandas Idang, yang juga tampil bersama Fariz RM, Mus Mujiono, Tompi dan sejumlah Band Jazz lokal lainnya, seperti Gema Harmoni, Treat 4 Band dan Filosofi Band.

Baik Idang, maupun Fariz RM dan Mus Mujiono, mengakui bahwa program ‘Jazz on the Bridge’, merupakan bentuk lain dari dakwah kemanusiaan, tentang keteladanan.

Para Peserta, Wartawan dan Musisi Pendukung Jazz on The Brisge dalam acara Jazz Clinic (Budi Ace)
Para Peserta, Wartawan dan Musisi Pendukung Jazz on The Brisge dalam acara Jazz Clinic (Budi Ace)

“Acara yang berlangsung dilokasi jembatan yang menghubungkan dua wilayah utama Pangkal Pinang sebagai Ibukota Bangka Belitung, adalah simbol dari semangat untuk membangun jembatan komunikasi antara seniman dengan masyarakat dan pemerintah serta muara bagi keberlangsungan dinamika kehidupan sosial,” tandas Fariz RM, sembari berharap pemerintah proaktif dalam membangun komunikasi dengan masyarakat melalui para seniman musik yang kerap lebih obyektif dalam memotret kehidupan sosial di tanah air dan dinamika kebudayaannya yang berbeda-beda disetiap daerah.

Fariz dengan nada miris, oun mengungkapkan fakta, betapa eksistensi musisi di Indonesia, masih dianggap sebelah-mata olrh pemerintah. Betapa tidak, menurut Fariz, kontribusi musisi terhadap kebudayaan tak pernah diakui secara resmi.

“Bahasa musiklah yang selalu berhasil menyatukan kebudayaan yang berbeda-beda, antara suku dan bangsa-bangsa di dunia,” urai Mus Mujiono melengkapi tanggapan kedua rekannya.

Saat www.indekserita.com mengusulkan agar program JOBB, jangan hanya diselenggarakan di Kota Pangkal Pinang saja, tapi juga di seluruh wilayah Indonesia, yang terkenal dengan landscape Jembatannya. seperti Jembatan Ampera Palembang, Jembatan Suramadu antara Surabaya dan Madura, serta sejumlah ibukota provinsi lainnya, baik Idang Rasjidi maupun Mus Mujiono dan Fariz RM, langsung menyambutnya dengan sumringah.

Mus Mujiono, gitaris Jazz senior
Mus Mujiono, gitaris Jazz senior

“Tak pernah terpikirkan sebelumnya. Tapi usulan ini menarik untuk dilakukan, selama mebdapat support dari pihak swasta maupun pemerintah, sepetti yang terjadi di Bangka Belitung, dimana pemerintah mendukung 100% seluruh kebutuhan produksi penyelenggara,” ungkap Idang, sambil melirik dua sahabatnya, yang mengangguk setuju.

JOBB, bagi Idang, bisa dibuatkan roadshow keliling Indonesia, jika semangatnya adalah membangun “jembatan komunikasi” antara masyarakat, seniman dan pemerintah.

“Jangan lagi ada cerita, para musisi hanya diajak komunikasi saat ada pilkada, tapi tidak pernah melibatkan mereka dalam hal kehidupan sosial dan soal-soal kebangsaan,” tegas Idang Rasjidi, dan tak lupa menambahkan bahwa “Musisi bukan masyarakat kelas dua,” sergahnya.

Balik lagi ke soal ‘Jazz on The Bridge Bangka’, penting untuk mendengarkan harapan besar dibalik pelaksanaannya dari prespektif pemerintah setempat.

Konon, hanya butuh dua hingga tiga gelaran jazz lagi (dua Jazz On the Bridge dan satu event Jazz On the Beach), maka “Bangka Belitung siap menggelar Jazz Babel International yang akan dihadiri sejumlah musisi Jazz dunia untuk datang ke Kepulauan Bangka Belitung”, terang Gubernur Erzaldi Rosman Djohan usai nyanyi duet lagu ‘Adinda’, dengan istrinya Hj. Melati Erzaldi, SH., dipanggung JOBB saat gladi resik.

Menurut Gubernur Erzaldi, dipilihnya program musik Jazz dalam kerangka promosi pariwisata Bangka Belitung, karena jazz identik dengan kelas menengah. Sama seperti target pariwisata yang juga menyasar masyarakat kelas menengah.

Akhirnya perhelatan akbar tersebut, semakin lengkap pada hari kedua. dengan kehadiran Puput and Friends, Idang Rasjidi Syndicate kolaborasi dengan tim perkusi dari Wiradi bersaudara. Isti, pendatang baru asal Pangkal Pinang, Mus Mujiono serta Fariz RM yang masih mengandalkan hypnotized dari lagu ‘Barcelona’ dan ‘Sakura’. Hingga ujungnya ada Tompi, sebagai pemungkas yang selalu hadir dengan gimmick Jazz nan segar.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR