Jelang Pilpres, Wabup Nunukan Minta Warga Perbatasan Jaga Etika Di Media Sosial

Wabup Nunukan, Ir. H Faridil Murad saat menerima Indeks Berita pada Open House yang digelar di Rumah Dinasnya, Rabu (22/8/2018)

Maraknya unggahan dari para pengguna media sosial di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara menjadi perhatian sendiri bagi Wakil Bupati (Wabup) Nunukan Faridil Murad. Menurut Wabup Nunukan, seiring perkembangan zaman, mau tak mau masyarakat dihadapkan pada era digital yang tak bisa dihindari.

“Media sosial adalah sesuatu hal yang saat ini ibarat bukan lagi hobi tapi malah sudah seperti kebutuhan. Apalagi di Nunukan, saya lihat hampir sebagian besar masyarakatnya menjadikan media sosial sebagai makanan pokok kedua,” ujar Faridil disela-sela Open House Idul Adha di Rumah Dinas Wabup Nunukan, Rabu (22/8/2018).

Menyadari hal tersebut, Faridil berharap kepada masyarakat di Kanupaten Nunukan yang aktif sebagai pengguna media sosial agar dapat memanfaatkan sarana berbasis internet itu sebagai media pemersatu dan bukan lagi sebagai sarana peretak silaturahim. Apalagi memasuki tahun politik dimana Pemilu setentak yakni Pilleg dan Pilpres 2019 sebentar lagi digelar.

“Masyarakat harus cerdas, Pemilu itu adalah Pesta Demokrasi. Pesta berarti bergembira, bukan saling hujat, saling caci dan saling menjatuhkan,” imbuhnya.

Terlebih Faridil mengingatkan bahwa Nunukan adalah salah satu wilayah istimewa di Indonesia karena berbatasan langsung dengan negara tetangga yakni Sabah-Malaysia. Maka kwalitas penduduknya akan jadi tolak ukur negara lain dalam memandang Indonesia.

“Kalau kita masuk rumah orang yang dilihat pertama kali apa? pasti terasnya kan, begitu pula negara lain kalau melihat Idonesia pasti lihat bagaimana wilayah depan negara ini dan Nunukan adalah salah satunya,” kata Pria yang akrab dipanggil Bang Haji tersebut.

Untuk itu Faridil benar-benar meminta persatuan dan kesatuan di Nunukan dapat terjaga. Ia mengibaratkan rakyat Nunukan hanya satu tubuh dalam wujud yang terpisah. Maka etika dalam bertutur kata terutama di media sosial adalah kunci pokok bagaimana persatuan tersebut akan terwujud.

“Etika dalam menyampaikan pendapat itu sangat perlu. Termasuk memilah dan memilih postingan yang layak untuk diunggah. Jangan karena sesuai dengan fikian kita lantas langsung unggah, tapi teliti dulu kebenaran dan efek dari postingan kita itu. Iya kalau itu positif,kalau negatif, inallillah,” paparnya.

Faridil mencontohkan banyaknya kasus dan konflik yang berawal dari ungahan media sosial. Untuk itu ia mewanti-wanti agar masyarakat Nunukan tidak menyebarkan konten yang tak bertanggung jawab dan berpotensi memecah belah bangsa.

Terkait pilihan di Pileg dan Pilpres nanti, Faridil menyerahkan sepenuhnya keputusan tersebut pada warganya. Namun walau pilihan adalah hak setiap warga negara,Faridil meminta agar masyarakat Nunukan dapat menjadikan Pileg dan Pilpres sebagai sarana membangun Indonesia terutama wilayah Perbatasan untuk semakin menuju kesejahteraan.

“Dalam memilih pemimpin (presiden) dan wakil kita (anggota DPR dan DPD) jangan lihat secara mikro tapi lihatlah secara makro. Pilih sosok bukan hanya melihat kedekatan emosionalnya, latar belakangnya tapi lihat yang punya visi membangun dan mampu menempatkan kepentingan rakyat banyak diatas kepentingan pribadinya,” pungkasnya.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR