Jembatan Kali Progo, Saksi Sejarah Kemerdekaan RI di Temanggung Roboh

Keterangan Foto: Darmadi, Saksi Mata yang pertama kali mendengar dan melihat robohnya Jembatan Kali Progo yang bersejarah (Foto Edy Santry)

Jembatan Kali Progo, Saksi paling bersejarah yang berkaitan perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia di Kranggan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, putus dan menjadi dua bagian dan rubuh masuk kedalam Kali Progo. Dugaan sementara, disamping karna faktor cuaca, rubuhnya jembatan bersejarah tersebut karena konstruksi pada besi yang sudah tua dan tidak adanya tiang penyangga.

Darmadi, seorang saksi, kepada indeksberita.com menuturkan bahwa robohnya jembatan tersebut terjadi sekitar pukul 22:15 WIB. Awalnya ia mendengar suara seperti pohon besar tumbang. Lantas ia mencari sumber suara tersebut dan didapatinya jembatan telah terputus menjadi dua.

“Pertama kali saya dengar suara ‘Bum’ seperti pohon besar yang tumbang. Lalu saya cari dan ternyata jembatan ini sdh terputus dan masuk ke Kali,” papar Darmadi, Kamis (22/2/2018).

Keterangan Foto : Jembatan Kali Progo yang kini roboh (Edy Santri)
Keterangan Foto : Jembatan Kali Progo yang kini roboh (Edy Santri)

Lelaki yang sehari-harinya dijuluki oleh masyarakat Kranggan dan sekitarnya sebagai “Penunggu Progo” tersebut mengaku sedih dengan robohnya Jembatan itu. Menurutnya, jembatan itu walau tidak digunakan sebagai jalur ttansportasi lagi, namun jembatan tersebut adalah saksi kelam dari para pejuang dalam mengorbankan nyawanya demi tegaknya NKRI.

“Ya sedih Mas, walau tidak dilewati kendaraan lagi, tapi jembatan itu kan saksi dari para pejuang dulu,” ujarnya datar.

Kesedihan Darmadi sangat beralasan, pasalnya Jembatan yang membentang diatas Kali Progo tersebut pada tahun 1949 pernah menjadi ajang eksekusi ribuan rakyat Indonesia yang dilakukan oleh kolonial Belanda pasca Tentara Nasional Indonesia melakukan Serangan yang dikenal dengan Serangan 6 Jam di Yogyakarta pada 1 Maret 1949.

Bahkan dalam bukunya yang berjudul “Kesaksian Kali Progo”, sejarawan Bekti Peijono mengungkapkan bahwa Jembatan Kali Progo (yang saat ini roboh) tersebut adalah saksi sangat penting tentang perjuangan anak bangsa dalam mempertahankan kemerdekaanya.

Wartawan Indeksberita.com, melakukan peliputan Jembatan Kali Progo sebelum jembatan ini roboh
Wartawan Indeksberita.com, melakukan peliputan Jembatan Kali Progo sebelum jembatan ini roboh

“Lebih dari 1.000 orang gugur sebagai kusuma bangsa dalam keadaan mengenaskan. Tanpa ampun leher mereka ditebas menggunakan pedang, ada pula yang diberondong peluru tajam, lantas mayatnya dibuang di Sungai Progo yang kala itu berbau anyir karena banjir darah manusia,” tulis Bekti dalam bukunya.

Peristiwa tersebut diduga karena kemarahan Belanda pada Mayjen Bambang Sugeng (kala itu masih berpangkat Kolonel) dan Tentara Nasional Indonesia. Instruksi rahasia 18 Februari 1949 dari Bambang Sugeng ke Komandan Wehkreis II Letkol M Bachroen dan Komandan III Letkol Soeharto dan perintah siasat nomor 4/S/Cop.I tertanggal 1 Januari 1949, untuk melakukan serangan ke Yogyakarta pada 1 Maret 1949 bocor, dan membuat Belanda murka sehingga menangkapi semua orang yang diduga terlibat dalam serangan tersebut untuk kemudian ditahan dan dieksekusi di Jembatan tersebut.

Kini bangsa Indonesia terutama masyarakat Temanggung (seperti pantauan redaksi dilapangan) hanya bisa menatap sedih kedua badan jembatan yang terbujur didalam Sungai dan diantara mereka mungkin ada yang berkata dalam hati ” Ditempat inilah dulu Eyang kami dibantai demi mempertahankan NKRI”.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR