Jokowi Tebarkan Sikap Optimistis dalam Acara Bloomberg: The Year Ahead Asia Summit 2017

Presiden Jokowi dalam acara Bloomberg: The Year Ahead Asia Summit 2017 (6/12/2017) yang digelar di Hotel Ritz Carlton Mega Kuningan, Jakarta, (Foto Biro Pers Sekertariat Presiden)

Berani melakukan transformasi ekonomi merupakan kunci menuju keberhasilan ekonomi Indonesia. Untuk itu dibutuhkan sikap optimistis dalam memimpin. Hal tersebut dinyatakan oleh Presiden Jokowi dalam acara Bloomberg: The Year Ahead Asia Summit 2017 yang berlangsung di Hotel Ritz Carlton Mega Kuningan, Jakarta (6/12/2017).

“Ekonomi Indonesia juga akan terus bertransformasi, beranjak dari ketergantungannya terhadap produk komoditas menuju ekonomi investasi, produksi, dan pelayanan. Untuk itu mari kita tinggalkan pesimistis, dan bergabung bersama kami dalam optimisme,” ujar Presiden.

Presiden Jokowi mengatakan bahwa dalam memimpin negeri ini, ia selalu mengembangkan sikap optimistis. Presiden Jokowi yakin, bangsa yang optimis pasti akan menang dan yang pesimis pasti akan kalah.

Ia menceritakan, sejak awal ia menjadi kepala negara, tiga tahun lalu, banyak ahli yang memprediksi bahwa perekonomian dunia bakal hancur. Dimulai dari dua tahun lalu saat anjloknya harga minyak dunia, devaluasi mata uang Tiongkok, keluarnya Inggris dari Uni Eropa atau Brexit menimbulkan kekhawatiran akan bangkitnya populisme dalam pergantian pemimpin di Eropa. Tapi kenyataannya dalam setahun terakhir, lanjut Presiden, pemulihan ekonomi di Uni Eropa semakin stabil, dan perekonomian Amerika Serikat di kuartal ke dua tahun ini, tumbuh di atas tiga persen.

“Bursa saham di seluruh dunia termasuk Indonesia juga mencatatkan rekor tertinggi, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, setiap negara anggota G-20 menunjukkan pertumbuhan PDB yang positif,” ungkap Presiden.

Pertumbuhan positif ekonomi dunia juga berdampak pada perekonomian dalam negeri. Presiden Jokowi mengatakan, nilai ekspor Indonesia pada tahun ini meningkat hingga 17 persen dan nilai investasi langsung luar negeri dan domestik juga meningkat hingga 14 persen. Hal yang sama juga terjadi pada sektor pariwisata yang tumbuh 25 persen.

“Kita juga merasakanj tumbuhnya ekonomi regional, di sektor pariwisata kita. Dimana jumlah turis asing yang datang berada di jalur yang benar untuk tumbuh hingga 25 persen, dan investasi langsung luar negeri dalam sektor ini juga diprediksi tumbuh hingga 35 persen,” ungkapnya.

Namun Presiden mengatakan, meningkatnya jumlah turis asing terutama asal Tiongkok dan India tidak akan dinikmati Indonesia jika kita tidak siap dengan infrastrukturnya. Oleh sebab itu Presiden akan terus mengupayakan pembangunan infrastruktur untuk mendukung sektor pariwisata.

“Baru dua minggu lalu saya meresmikan bandara internasional di Danau Toba, Sumatera Utara. Maskapai nasional kita Garuda, saat ini melayani penerbangan langsung antara Singapura dan Danau Toba,” ujar Presiden.

Selain itu, Presiden juga mengatakan akan meningkatkan status bandara di Belitung dan Labuan Bajo (Komodo) menjadi bandara internasional.

“Saat kita meningkatkan status bandara di Manado, Sulawesi Utara, dan beberapa maskapai kita meluncurkan penerbangan langsung dari Manado ke Tiongkok, jumlah turis Tiongkok yang mengunjungi Manado meningkat dari 12.000 orang per tahun menjadi 12.000 orang per bulan,” ucap Presiden.

Selain sektor pariwisata, Indonesia kini juga tengah menikmati booming-nya sektor perdagangan online atau e-commerce. Menurut Presiden, saat ini Indonesia memiliki beberapa perusahaan startup digital dengan total aset sebesar satu miliar dolar Amerika Serikat.

“Dan melihat betapa besarnya pasar domestik kita, saya yakin kita akan memiliki lebih banyak lagi di tahun-tahun mendatang,” kata Presiden.

Tampak hadir dalam acara tersebut antara lain Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, dan Kepala BKPM Thomas Lembong.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR