Jumlah Anggota KPPS yang Meninggal Dan Mortality Rate

Saya cukup terusik dengan upaya beberapa pihak yang hendak mempolitisasi jumlah anggota KPPS yang meninggal. Saya tentu prihatin atas kejadian tersebut, apalagi mereka meninggal setelah melaksanakan tugasnya, agar kita dapat menggunakan hak konstitusi kita. Tapi untuk menilai apakah meninggalnya mereka adalah suatu hal yang wajar atau tidak, tentu memerlukan kejujuran dan kejernihan berfikir.

Kejernihan dan kejujuran dalam menilai sesuatu dapat terwujud jika kita melihat dan membandingkannya dengan data. Dalam sebuah kesempatan, Komisioner KPU Ilham Saputra menyebutkan bahwa jumlah keseluruhan TPS ada sekitar 809.500 buah. Sedangkan petugas KPPS untuk setiap TPS, menurutnya berjumlah 7 orang. Jadi jumlah seluruh anggota KPPS dalam Pemilu 2019 ada 5.6 juta orang.

Dan sampai tanggal 7 Mei 2018 atau sampai 20 hari setelah pencoblosan, diinformasikan ada 544 orang anggota KPPS yang meninggal. 544 orang anggota KPPS yang meninggal dalam 20 hari, dibandingkan dengan 5,6 juta seluruh anggota KPPS, bisa dikatakan besar/kecil jika kita memandangnya dengan perspektif mortality rate (Banyaknya kematian selama satu tahun untuk setiap seribu penduduk).

Untuk menghitung mortality rate anggota KPPS maka kita harus menghitung proyeksi jumlah yang meninggal dalam 1 tahun. Jika jumlah anggota/petugas KPPS yang meninggal dalam 20 hari sebanyak 544 orang, maka dalam satu tahun (365 hari) jumlah yang meninggal menjadi 9.928 orang dengan perhitungan :

544 : 20 hari x 365 hari = 9.928 orang

Sehingga mortality rate petugas KPPS adalah sebesar 1,77 dengan perhitungan:

9.928 : 5,6 juta x 1000 = 1,77

Jumlah kematian penduduk Indonesia selama 1 tahun di tahun 2018 ada 1,7 juta jiwa (Data Bapenas). Sedangkan jumlah keseluruhan penduduk 267 juta. Maka Mortality rate penduduk Indonesia besarnya 6,3 yang didapat dari:

1,7 juta : 267 juta x 1000 = 6,3

Jika mortality rate anggota KPPS dan mortality rate nasional tadi diperbandingkan, tampak sekali mortality rate anggota KPPS sangat rendah. Sehingga cukup jelas, tak ada hal yang aneh dari jumlah  anggota KPPS yang meninggal. Kemungkinan meninggalnya mereka tak terkait dengan penugasan mereka dalam menjalankan proses Pemilu. Atau mereka memang sudah sakit sebelumnya.

Akan menjadi aneh jika mortality rate anggota KPPS diatas 6,3. Atau jika dihitung dalam jumlah satuan, jumlah anggota KPPS yang meninggal jumlahnya lebih dari 1.933 orang selama 20 hari ini, dengan menggunakan perhitungan:

6,3 : 1000 x 5,6 juta : 365 hari x 20 hari= 1933 orang

Justru yang aneh adalah mereka yang selama ini menuduh anggota KPPS melakukan kecurangan (dengan adanya formulir C1 yang bermasalah), kemudian seolah bersikap empati atas meninggalnya anggota KPPS tersebut. Bahkan kemudian keanehan berkembang itu menjadi sangat berlebihan, saat mereka mengatakan bahwa kematian anggota KPPS itu tidak wajar, sehingga perlu dilakukan otopsi.

Masalahnya memang ada di mereka yang sedang membuat kegaduhan. Tujuannya jelas, usaha untuk mendelegitimasi proses Pemilu. Karena melalui proses dan mekanisme demokrasi ini, ternyata mereka gagal mewujudkan ambisi kekuasaannya.

Teddy Wibisana / Foto: Koleksi Pribadi
Teddy Wibisana / Foto: Koleksi Pribadi

Penulis Teddy Wibisana, Anggota Dewan Penasehat Almisbat, aktivis dan pemerhati sosial dan politik 

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR