Jumlah Penderita Katarak di Indonesia Tinggi, Menkes Ingatkan Perilaku Hidup Sehat

Menteri Kesehatan Nila Moeloek dalam konprensi pers menyikapi pernyataan ketua Perdami dr. Muhamad Sidik tentang bagaimana mengurangi jumlah penderita katarak di Indonesia, yang saat ini sangat tinggi (Foto BKLM Kemenkes RI)

Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes RI melalui rilisnya yang diterima redaksi semalam, mengungkapkan pernyataan Ketua Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) dr. Muhamad Sidik, Sp.M(K), mengenai tingginya jumlah penderita katarak di Indonesia. Menurut Muhamad Sidik, saat ini ada sekitar 1 juta orang buta karena katarak.

Sidik menjelaskan, berdasarkan Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) rata-tata angka kebutaan di Indonesia sebanyak 3% untuk penduduk di atas usia 50 tahun. Ada beberapa hal yang menurutnya dicurigai jadi penyebabnya, yaitu letak Indonesia berada di garis equator 0 derajat yang tersorot banyak sinar matahari dan terus-menerus. Dan dicurigai sinar UV B bisa mempercepat timbul katarak.

“Ada beberapa hal lagi yang bisa menjadi penyebab katarak, yaitu diabetes melitus atau kencing manis. Orang kencing manis kalo kadar gula nya meningkat terus bisa menimbulkan katarak dengan cepat,” kata Ketua  Perdami pada Konferensi Pers Terkait Hari Penglihatan Sedunia di Jakarta, Minggu (4/11).

Pada umumnya katarak susah dicegah, yang bisa dicegah adalah kebutaan karena katarak. Kebutaan itu bisa dihindari dengan cara dioperasi. “Operasi katarak adalah operasi paling efektif, paling efisien, paling menimbulkan benefit paling tinggi daripada tindakan prosedur lainnya, sehingg orang yang tadinya tidak produktif jadi produktif lagi,” tambahnya.

Saat ini pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI bersama seluruh stakeholders termasuk Komisi Mata Nasional (Komatnas) sudah menyusun satu peta jalan penanggulangan gangguan penglihatan di Indonesia.
Peta jalan tersebut telah diadopsi oleh Organisasi Internasional Pencegahan Kebutaan (IAPB) untuk dijadikan contoh bagi negara lain.

“Peta jalan ini kalau memperlihatkan bagaimana strategi mengatasi gangguan penglihatan yang dimulai dari tingkat Posbindu, fasilitas kesehatan Primer, dan RS tipe C sampai A,” jelas Sidik.

Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengatakan permasalahan gangguan penglihatan harus dikembalikan pada promotif dan preventif. Hal itu berhubungan dengan perilaku masing-masing individu karena menurut Nila, bagaimana pun juga regulasi tentang kesehatan mata dibuat akan percuma kalau perlaku setiap orang tidak berubah.

“Jadi lakukan perilaku hidup sehat seperti olahraga, makan buah, dan cek kesehatan secara berkala. Cek kesehatan berkala itu penting, mata kalau sudah kena (bermasalah) karena sakit gula misalnya, butanya bisa permanen. Jadi yang penting itu bukan ngobatin tapi cegah,” tegas Nila.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR