Jurnalis Bandung Protes Pemberian Remisi Terpidana Pembunuh Jurnalis

Jurnalis Bandung protes pemberian remisi terhadap I Nyoman Susrama (7/1/2019). Protes dilakukan dalam bentuk aksi di depan Gedung Sate (Supriyadi)

Jurnalis Bandung protes pemberian remisi terhadap I Nyoman Susrama, dengan melakukan aksi demonstrasi yang mendesak pemerintah supaya mencabut remisi tersebut. Aksi itu digelar di depan Gedung Sate, pada hari (7/2/2019).

Aksi tak hanya diikuti oleh jurnalis yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis (AJI) Kota Bandung, tetapi juga diikuti pegiat HAM, mahsiswa, fotografer, dan pelajar. Mereka membentangkan beberapa tulisan di antaranya,

“#CabutRemisiPembunuhJurnalis,

Wartawan Udin Dibunuh Karena Berita, Jangan Diam!,

Jangan Biarkan Prabangsa Dibunuh 2 Kali!

Selain membentangkan tulisan, mereka juga membawa payung sebagai tanda berkabung yang cukup mendalam.

Iman Herdiana dari AJI Kota Bandung mengatakan, aksi solidaritas ini digelar secara serentak di setiap kota di Indonesia, sebagai langkah meminta supaya pemerintah membatalkan remisi yang diberikan kepada Susrama.

“Sebab kita mengetahui, I Nyoman Susrama adalah terpidana pembunuh Jurnalis Radar Bali Anak Agung Narendra Prabangsa, “ kata Iman.

Menurut Iman, pemberian remisi terhadap Susrama dari hukuman seumur hidup menjadi 20 tahun sangat mencederai keadilan. Adanya remisi juga membelenggu kebebasan pers dan berekspresi.

“Kami juga mengajak teman-teman mahasiswa dan lainnya menyuarakan dan mendukung petisi online di Change.orgs supaya petisi itu disampaikan kepada Presiden Jokowi,” ujar Iman.

Selain pembunuhan, lanjut Iman, kekerasan terhadap jurnalis kerap terjadi belakangan ini. Hal ini karena didasari faktor lemahnya penegakan hukum kekerasan terhadap jurnalis.

Berdasakan catatan AJI Bandung, AJI Indonesia mendata sejak 1996 terdapat 10 kasus pembunuhan terhadap jurnalis, termasuk kasus Udin dan Prabangsa. Dari 10 kasus, hanya kasus Prabangsa yang berujung vonis di pengadilan.
“Masalahnya orang sudah dihukum diberi keringanan hukuman. Ini dikhawatirkan tidak membuat efek jera terhadap para pelaku pembunuhan dan kekerasan,” tandas Iman.

Sementara itu mantan Ketua AJI Kota Bandung Zaky Yamani mengatakan, pengurangan hukuman terhadap Susrama merupakan kemunduran penegakan hukum terhadap pembunuh jurnalis. Ia mengaku khawatir, kekerasan dan pembunuhan terhadap jurnalis tak bisa terhindar.

“Kita tahu banyak kasus pembunuhan terhadap jurnalis yang belum terungkap, hingga kini. Kasus Udin, jurnalis di Surabaya, Maluku, Papua, Kalimantan hingga Sumatera. Tak menutup kemungkinan akan berlanjut terus, jika pelaku memperoleh hukuman ringan atau pengurangan,“ tutur Zaki.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR