Kandidat KSAD: Antara Baret Merah dan Baret Hijau

Santer terdengar, Pangkostrad Letjen Edy Rahmayadi (Akmil 1985) akan maju sebagai Cagub Sumut dalam Pilkada Sumut 2018 nanti. Bila benar berita tersebut, artinya Letjen Edy Rahmayadi lebih memilih maju sebagai calon pejabat publik ketimbang memelihara peluangnya sebagai salah satu kandidat KSAD, menggantikan Jenderal Mulyono (Akmil 1983).

Benar, sebelumnya Edy sempat digadang-gadang sebagai calon KSAD, karena secara tradisional posisi Pangkostrad selalu menjadi nominasi utama sebagai KSAD, seperti juga Jenderal Mulyono sebelumnya. Dengan “mundurnya” Edi sebagai kandidat KSAD, maka terbuka peluang pada rekan seangkatan Edi yang lain, atau kakak kelas setahun (Akmil 1984), bahkan adik kelasnya (Akmil 1986).

Jenderal Mulyono dan Letjen Edy adalah sama-sama perwira Baret Hijau, yaitu sebutan bagi perwira yang banyak dibesarkan pada satuan di bawah Kostrad. Sementara perwira yang lebih banyak bertugas di Kopassus, disebut perwira Baret Merah. Setelah KSAD sebelumnya, lebih banyak diisi perwira Baret Hijau, seperti Moeldoko, Budiman, Gatot Nurmantyo, apakah untuk KSAD berikutnya akan jatuh pada perwira Baret Merah?

Konfigurasi Elite TNI AD Berdasarkan Korps

Untuk posisi KSAD, perwira Baret Merah terakhir yang menjadi KSAD adalah Pramono Edhi Wibowo (Akmil 1980). Sedikit catatan bagi mantan KSAD Jenderal Budiman (Akmil 1978, zeni) mungkin bisa disebut perwira dengan dua baret, karena pernah juga bertugas di Kopassus, sebagai Kepala Zeni Kopassus. Sesudah itu dipindahkan sebagai Komandan Yonzipur 10/Para Kostrad. Maksud saya, meskipun pernah bertugas (sebentar) di Kopassus, Budiman agak sulit disebut tipikal perwira Baret Merat, karena Budiman bukan berasal dari korps infanteri, yang merupakan korps “mainstream” di AD.

Pada setiap mutasi TNI (khusunya matra darat), selalu ada upaya menjaga keseimbangan jabatan strategis antara perwira yang berasal dari Baret Merah dan Baret Hijau. Perlu juga diterangkan, bahwa perwira asal Baret Merah bisa saja pada suatu waktu ditugaskan di lingkungan Baret Hijau, karena kualifikasinya memungkinkan. Dengan kata lain, seorang perwira Kopassus pada perjalanan karirnya bisa mengenakan dua warna baret. Namun perwira asal Baret Hijau tidak bisa ditugaskan di jajaran Kopassus, karena alasan kualifikasi juga.

Merujuk mutasi baru-baru ini, perwira Baret Merah yang masuk posisi strategis di level bintang dua adalah Mayjen TNI Jaswandi (Akmil 1985) sebagai Pangdam Jaya. Sementara dari Baret Hijau (Akmil 1986) adalah Mayjen Tatang Sulaiman, yang diangkat sebagai Pangdam IV/Diponegoro. Di tengah konfigurasi antara Baret Merah dan Baret Hijau, juga muncul nama Mayjen TNI Kustanto Widiatmoko (Akmil 1987), yang berasal dari Baret Hitam (kavaleri).

Mayjen Kustanto, meski dari segi angkatan terbilang muda, namun sudah dua kali menjadi pangdam: Pangdam IX/ Udayana dan Pangdam V/Brawijaya (sekarang). Bila Kustanto kelak menjadi KSAD, menarik juga, karena mengulang Jenderal R Hartono (Akmil 1962), KSAD penggal terakhir Orde Baru, yang juga perwira kavaleri. Tinggal perwira asal kecabangan artileri, baik armed ataupun arhanud, yang belum pernah menjadi KSAD.

Satu nama perwira dari armed, yaitu Letjen Ediwan Prabowo (Akmil 1984), namanya sempat masuk nominasi KSAD. Namun perwira ini karirnya agak “misterius”, tiba-tiba saja namanya menghilang, dan kini statusnya sebagai perwira tinggi Mabes TNI, tanpa jabatan tertentu (nonjob). Padahal kalau dilihat dari latar belakangnya, sungguh meyakinkan, Ediwan adalah lulusan terbaik di angkatannya.

Begitulah perjalanan perwira, yang terkadang tidak selalu mulus. Salah satu kemungkinannya adalah, Ediwan dianggap terlalu dekat dengan Presiden terdahulu (SBY), mengingat Ediwan cukup lama menjadi Sekretaris Pribadi Presiden SBY, pada periode pertama pemerintahannya (2004-2009). Untuk jabatan setingkat KSAD, faktor politis selalu ikut mewarnai, mungkin publik kurang berkenan, namun begitulah kenyataannya.

Akmil 1985 Paling Berpeluang

Bila ditelusuri per angkatan, pada Akmil 1985 misalnya, terdapat nama Mayjen Doni Munardo (Pangdam Patimura) dan Mayjen Jaswandi (Pangdam Jaya), yang merupakan tipikal Baret Merah. Kemudian Letjen Edi Rachmayadi (Pangkostrad) dan Mayjen Ludwig Pussung (Pangdam Bukit Barisan), dari Baret Hijau. Ludwig Pussung misalnya sejak letnan hingga letkol bertugas di Kodam Jaya, seperti Danyon 203/Arya Kemuning (kini Yonif Mekanis 203), serta Dandim Jaktim, baru pada pangkat Kolonel ditugaskan ke Kostrad, hingga sempat menjadi Panglima Divisi Infanteri di Kostrad.

Peta Akmil 1986 kurang lebih sama. Terdapat nama perwira Baret Merah seperti Letjen Hinsa Siburian (Wakil KSAD, lulusan terbaik 1986). Sementara Baret Hijau adalah Mayjen Tatang Sulaiman  (Pangdam IV/Diponegoro) dan Mayjen Ganip Warsito (Pangdam XIII/Merdeka, Manado). Mayjen Tatang termasuk beragam karirnya, pernah menjadi Danyon 202 Kodam Jaya(Bekasi), Dandim Bekasi, Komandan Brigif 3 Kostrad, Kasdiv Kostrad, hingga Pangdam IM (Banda Aceh), sebelum menduduki posisi sekarang.

Untuk Akmil 1987 ada kasus yang sedikit berbeda, sebagaimana sudah disebut sekilas di atas, bahwa di generasi ini justru yang menonjol adalah perwira dari Baret Hitam (kavaleri), yaitu Mayjen Kustanto Widiatmoko. Sementara perwira Baret Merah tipikal adalah Mayjen Herindra (Pangdam Siliwangi, lulusan terbaik Akmil 1987), Mayjen Andika Perkasa (Pangdam Kalbar) dan Brigjen Santos Gunawan Matondang (Kasdam Merdeka, Manado). Sementara Baret Hijau adalah Mayjen Benny Susianto (Panglima Divif 2 Kostrad), yang karirnya juga beragam, Benny adalah yang menggantikan Tatang Sulaiman (1986) sebagai Danyon 202 Kodam Jaya (Bekasi), yang kemudian banyak ditugaskan di Kostrad. Bahkan pernah bertugas sebagai Komandan Pusat Penerbangan TNI AD, yang mungkin sedikit “menyimpang” dari kompetensinya.

Bila dilihat dari tahun kelulusan di Akmil, tampaknya yang akan menjadi KSAD adalah Akmil 1985. Mengingat Akmil 1984, seperti halnya Akmil 1983, sebagian besar sudah mendekati usia pensiun. Terlebih bila melihat perkembangang mutakhir soal Letjen Ediwan Prabowo, yang sebelumnya diangga sebagai the rising star Akmil 1984. Bisa juga sebagai antisipasi bila Panglima TNI nanti, akan diisi oleh Marsekal Hadi Tjahjant0 (kini KSAU), yang lulusan AAU 1986, agar rentang generasinya tidak terlampau jauh. Mungkinkah perwira dimaksud adalah Mayjen Jaswandi, yang kini masih bertugas menjaga Ibukota Negara.

 

Aris Santoso, sejak lama dikenal sebagai pengamat militer, khususnya TNI AD. Kini bekerja sebagai editor buku paruh waktu.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR