Kapolri Akui Ada Kesalahan Prosedur Saat Operasi Penangkapan Siyono

Densus 88 / Internet

Jakarta – “Memang terdapat beberapa kesalahan prosedur seperti pengawalan yang hanya dilakukan oleh satu orang. Sesuai protap kami hal tersebut tidak diperbolehkan. Lalu saat pengawalan, tersangka juga tidak diborgol sehingga terjadi perkelahian antara Siyono dengan petugas yg mengawal” ujar Kapolri saat Rapat Kerja dengan Komisi III DPR RI, di Senayan, Jakarta, Rabu (20/4).

Namun, Badrodin bersikeras menyatakan bahwa kematian Siyono terjadi karena adanya pendarahan di selaput otak bagian belakang akibat perkelahian.

“Saat ini kami masih melakukan sidang kode etik terhadap anggota tim Densus 88 yang bertugas saat operasi penangkapan di Klaten itu, kemungkinan hingga sepekan ke depan” ungkapnya.

Seperti diketahui sebelumnya Komnas HAM bersama PP Muhammadiyah mengeluarkan rilis hasil otopsi jenazah Siyono, terduga teroris yg tewas dalam operasi Densus 88 di Klaten beberapa waktu lalu.

Dari hasil rilis otopsi tersebut ditemukan fakta bahwa penyebab kematian Siyono akibat patah tulang iga dan dada sehingga merusak jaringan organ jantung.

Selain itu, juga tidak ditemukan adanya tanda-tanda perlawanan dari otopsi luka memar di sekitar pergelangan tangan.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR