Kapolri Copot Kapolda Sulawesi Tenggara Pasca Meninggalnya 2 Orang Demonstran

Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian, mengikuti rapat dengan Komisi III DPR (22/2/2017). FOTO: INDRA KUSUMA

Melalui mutasi pejabat kepolisian yang tercantum dalam surat telegram nomor ST/2569/IX/KEP/2019, Kapolri Jenderal Tito Karnavian mencopot Brigjen Pol Iriyanto dari jabatanya sebagai Kapolda Sulawesi Tenggara.

Setelah tak lagi menjabat sebagai Kapolda Sultra, Iriyanto akan bertugas sebagai Irwil III Inspektorat Pengawasan Umum Polri. Sementara untuk pemegang tongkat komando Kepolisian Daerah Sulawesi Tenggara, Tito mempercayakanya kepada Brigjen Pol Merdisyam.

Ketika disinggung mengenai muatasi tersebut dengan meninggalnya 2 orang demonatran saat unjuk rasa menolak RUU KPK dan berbagai Racangan Undang Undang lainya didepan Gedung DPRD Sultra, Kendari, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Polisi Dedi Prasetyo mengatakan pergantian kedudukan di kepolisian wajar terjadi.

“Mutasi ini adalah hal yang alami dalam organisasi polri sebagai tour of duty dan tour of area, penyegaran, promosi dan dalam rangka peningkatan performa kinerja organisasi menuju SDM unggul dan promoter,” ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (27/9/2019).

Dua orang mahasiswa menjadi korban, saat berdemonstrasi menolak pengesahan RUU KUHP di Kendari, Sulawesi Tenggara.Yusuf Kardawi, Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Halu Oleo Kendari, Sulteng meninggal dunia di RS Bahteramas, Kendari, Jumat 27 September 2019.

Sebelum Yusuf, Mahasiswa lain yang lebih dulu meninggal dunia, yakni Randi dari Fakultas Perikanan Universitas Halu Oleo Kendari. Ia dikabarkan meninggalnya akibat luka peluru tajam, yang menembus dadanya.

Meninggalnya 2 orang demonstran tersebut mendatangkan kecaman dari berbagai pihak. Ketua Umum Liga Mahasiswa Nasional Demokrasi (LMND) Indrayani ‘Indah’ Razak menilai peristiwa itu sebagai bentuk kekejaman dan reperesif aparat terhadap penyampai aspirasi. Indah menuntut agar Iriyanto dicopot dari jabatan Kapolda Sulawesi Tenggara.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun angkat suara terkait meninggalnya 2 Mahasiswa tersebut. Selain menyampaikan bela sungkawa, Jokowi mengaku tidak akan tinggal diam dan telah menginstruksikan kepada Kapolri Tito Karnavian untuk melakukan investigasi siapa dalang yang menjadi penyebab kematian dua orang mahasiswa tersebut.

Pasalnya, berdasarkan pengakuan Kapolri, tidak ada instruksi kepada anak buahnya untuk membawa senjata dalam menyikapi aksi demonstrasi besar-besaran yang terjadi beberapa hari lalu.

“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Saya atas nama pemerintah menyampaikan duka cita yang mendalam dan berbela sungkawa yang mendalam atas meninggalnya ananda Randi dan ananda Yusuf Kadawi,” tutur Preseden

Jokowi kembali menegaskan bahwa sejak awal ia sudah memerintahkan Kapolri agar jangan sampai aparat bertindak reperesif terhadap demonstran. Dan karena sebelumnya Kapolri telah menyatakan jajarannya tak akan menggunakan senjata api dalam mengamankan aksi unjuk rasa, Jokowi kembali menegaskan bahwa penyebah meninggalnya 2 orang mahasiswa tersebut untuk segera dialakukan infestigasi.

“Saya juga sudah sejak awal kemarin saya ulangi lagi kepada kapolri juga agar jajarannya tidak bertindak represif dan saya perintahkan juga agar menginvestigasi seluruh jajarannya karena yang disampaikan kepada kapolri kepada saya tidak ada perintah apapun dalam rangka demo ini membawa senjata, jadi ini akan ada investigasi lebih lanjut,” tandas Presiden.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR