Kartunistimewa : Jogja Cartoon Exhibition 2017

Memasuki masa tenang Pilkada Walikota Yogyakarta,  PAKYO (Paguyuban Kartunis Yogyakarta) menggelar kartunistimewa:  Jogja Cartoon Exhibition 2017 di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) 11-19 Februari 2017. Tema yang tampil tak hanya soal Pilkada Jogja, juga Pilkada DKI Jakarta, seputar pembangunan hotel di Jogja sampai kemenangan Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat.

Dalam kover buku katalog kegiatan ini dipilih karya Andi Pensilterbang (2015). Sebuah teko warna hijau dengan gambar peta Indonesia. Ada semacam kertas teh celup warna merah seperti bendera China. Gambar acrylic on canvas warna merah ukuran 80 x 100 cm itu, diberi judul Indonesia Rasa China. Tentu saja kartunis Andi melalui karyanya ingin merespon Pemerintahan Joko Widodo yang kini mulai mesra dengan Beijing,

Alex Pracoyo melalui Tikus Gedhe Menang Kerahe, print to canvas, 120 x 100 cm. Dalam karya ini Alex menunjukkan betapa tikus, yang melambangkan koruptor, justru digambarkan badannya jauh lebih besar dari kucing. Lewat karya  ini Alex berpesan agar pemerantasan korupsi harus kerja jauh lebh keras lagi.

Isu mutakhir yaitu hoax. H. Ashady melalui drawing on paper, 61 x 61 cm berjudul Hoaaax menggambar seekor sapi di atas tumpukan tengkorak manusia. Sang sapi seolah berkata sendiri: HOAAAX! Dan dijawab sendiri HEMOOOH….

PAKYO berdiri pada sekitar 1979, semula lahir menjadi cabang Lembaga Humor Indonesia (LHI) di Jogja. Namun para kartunis Jogja saat itu,  Teguh Budianto (Hugo), Gunawan R dan kawan-kawan ternyata lebih suka menjadi pohon kartun daripada cabang humor. Darminto Sudarmo, pengamat dan penulis humor,  menulis setelah Indonesia punya nenek organisasi humor yang namanya LHI, maka di Yogyakarta tumbuh PAKYO (Kompasiana, 5 Oktober2004).

Dalam Majalah Prisma edidi 1 Januari 1996, Praba Pangripta menulis “Upaya Bersama Mengangkat Kartun Indonesia”. Dalam tulisan itu PAKYO sempat melempem sekitar tahun 1985, karena tidak ada aktivitas, di samping hijrahnya beberapa personil petensial ke Jakarta. Meskipun demikian tidak menanggalkan asal-usulnya yang terlihat dari nama PAKYO yang selalu dicantumkan setelah inisial mereka dalam kartun yang diterbitkan oleh sebuah suratkabar atau majalah di Jakarta.

Kegiatan PAKYO antara lain menjadi  tuan rumah Pameran Kartun Nasional di Yogyakarta (1992) dan  Musyawarah Besar PAKARTI (Persatuan Kartunis Indonesia) sekaligus Pameran nasional (1994). Kemudian Pameran Kartun on Kanvas JogjaKARTUN HadininART (2010). Pada 2015 juga digelar Pameran Kartun Ekobis 2015. Ini merupakan reunion PAKYO dalam acara Lustrum XII dan Dies Natalis ke 60 FEB UGM. Teguh Budiarto yang kini berkarya di UGM menjadi motor kegiatan pameran di kampus Bulak Sumur itu.

Pada 2016 PAKYO meramaikan acara “Pasar Humor Wisatawa” di Pyramid Garden Resto, Agustus 2016. Kemudian Pamaran Kartun Ora Pelit sebulan penuh di DC Milk Cafe Sleman )17 September 17 Oktober 2016).

Para anggota PAKYO juga ada yang berkarya di dunia internasional. Beberapa karya mereka dimuat di Yomiori Shimbun Jepang selain aktif mengikuti festival kartun seperti Nasreddin Hodja Contest (Turki), The Magna Cartoon Exhibition Hokaido Japan, Cairo International Cartoon Gathering (Mesir) dan lain-lain.

Menurut Ketua PAKYO, Agoes Jamianto, beragam tema, beragam teknik, dengan beragam media, ditampilkan 43 kartunis PAKYO kali ini. Sesuai tajuk kartunistimewa, diharapkan sanggup menunjukkan keistimewaannya sebagai kartunis yang lahir, berproses dan berprestasi dari dan di bumi istimewa Yogyakarta. Beberapa nama besar yang ikut dalam kartunistimewa kali ini antara lain  Anwar Rosyid, Gesigoran, Gunawan Raharjo, Grace Tjondronimpuno, H. Ashady, Harry Wibowo, Teguh Budiarto, dan Pramono R Pramoedjo.

Akhirnya untuk menutup tulisan ini mari kita kutip Ir. Ciputra pada Pameran Kartun Nasional PAKYO/PAKARTI Yogyakarta di Taman Budaya 14-21 Oktober 1992: “Untuk menjadi seorang kartunis yang baik, tidak saja dibutuhkan bakat menggambar, tetapi juga diperlukan adanya ‘sens of humor’, dan kepekaan khusus terhadap perkembangan yang terjadi di luar kita. Tanpa kepekaan seperti itu, maka karya-karya kartun jadi tidak aktual, tidak komunikatif dan bahkan tanpa jiwa”.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR