Kebijakan 8 Jam di Sekolah Perlu Dikaji

Rencana pemerintah mengeluakan kebijakan 8 jam di sekolah dalam dunia pendidikan perlu di kaji ulang. Pasalnya, Kementerian  Pendidikan (Kemendikbud) harus melakukan riset sebelum mengambil keputusan, hal itu di sampaikan Gerakan Perlindungan Anak Seluruh Indonesia (Generasi), Ena Nurjanah di Jakarta, Senin, (12/6). “Jika pemerintah ingin membuat kebijakan baru yg mempengaruhi hajat hidup orang banyak seharusnya tidak mengabaikan langkah2 penting  untuk melakukan kajian dan penelitian yg komorehensif  terlebih dahulu,” ujarnya saat di hubungi.

Menurut eks Sekretaris di Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayan Perempuan dan Anak (P2TP2A), Sering kali pemerintah mengabaikan kajian dan penelitian ketika menerapkan satu kebijakan. “Wajar saja kalau kebijakan tersebut sering kali mendapat penolakan dan akhirnya ada tarik ulur penerapannya oleh pemangku kebijakan. Hal ini justru semakin membingungkan masyarakat luas,”  ucapnya.

Seharusnya lanjut Ena, pemerintah dalam membuat satu kebijakan khususnya persoalan pendidikan lebih  mengutamakan kecermatan, hal itu agar tidak terjadi kondisi yang sebaliknya,  “Dimana Anak tidak merasa mendapatkan pendidikan terbaik, mereka  justru menjadi pihak yang paling menderita dengan kebijakan yang sering berubah,” jelasnya.

Pendidikan tambah Ena, merupakan hak setiap anak, namun pemerintah pun jangan mengabaikan hak seorang anak dalam melakukan aktifitas berkreasi. “Justru anak perlu diajarkan hidup dalam dunia nyata di luar sekolah, anak butuh tempat mengaplikasikan nilai-nilai yang ia dapat di sekolah, anak butuh belajar  brsosialiasi di dunia nyata yang akan membuatnya semakin mengerti kehidupan,” terangnya.

Sebelumnya, Mendikbud, Muhadjir mewacanakan 8 jam di sekolah selama 5 hari, karena Mendikbud menilai perlunya memberikan waktu yang cukup untuk anak brinteraksi dengan orang tua pada  hari sabtu-minggu karena orang tua yang rata2 jg sudah 5 hari kerja.

Selain itu Mujahir menuturkan kebijakan tersebut merupakan merupakan bagi dari Program Penguatan Pendidikan Karakter (P3K).

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR