Kemarin Rapat Umum Rakyat Pendukung Jokowi, Bukan Konser Musik

Ratusan ribu peserta Rapat Umum Rakyat Pendukung Jokowi di Stadion Gelora Bung Karno Jakarta (istimewa)

Memang merinding ketika berada di tengah gemuruh lautan manusia seperti yang terjadi di GBK Jakarta kemarin . Kerja-kerja pengorganisasian massa, baik oleh partai maupun relawan, dan para individu yang tak tergabung dalam keduanya, sangat berhasil. Jokowi menjadi magnet bak kutub bumi yang daya sedotnya tak terbantahkan.

Sejak pagi buta, massa sudah berdatangan. Terutama yang dari luar kota. Beberapa panggung di luar stadion sudah ramai, check sound, bahkan ketika saya dan istri (yang kemudian berpencar karena dia bergabung dengan kelompok alumni dari Surabaya) sampai sekitar pk 07.30 WIB, sebagian panggung sudah mulai performance. Diisi kelompok-kelompok musik entah dari mana. Beberapa stand menyediakan kopi, ada yang bayar ada yg gratis. Saya membantu teman menyeduh kopi untuk 2,000 cups. Gratis.

Sekitar jam 10.30 WIB, panggung-panggung kecil mulai ditinggalkan. MC menggerakan seluruh peserta ke gerbang GBK. Antrean mengular. Panas dan gerah. Saya lihat aplikasi weather, it feels like 40C. Beberapa relawan menawarkan kipas dan kain pelindung panas (desainnya sih kayak jilbab tinggal pakai). Lumayan membantu bagi yg tidak kebagian payung.

Berhasil masuk pagar pemeriksaan, sebagian massa langsung masuk ke stadion, sebagian istirahat di emperan. Kelelahan. Kehausan. Dan mungkin sebagian juga kelaparan. Kalau haus sih gampang, air mineral tersedia gratis di banyak tempat. Saya sendiri membawa kurma dan biskuit, jaga-jaga kalau laper karena asam lambung akan cepat naik begitu perut kosong. Ini kelak membantu ketika saya sudah duduk di dalam stadion.

Sekitar pk 12.00 saya berusaya masuk. Ternyata tribun sudah terisi penuh. Banyak pintu ditutup karena sudah tak mampu menampung pengunjung. Terutama bagi rombongan.

Rombongan saya ternyata sudah masuk duluan. Saya datang bersama rombongan GITA (Gerakan Indonesia Kita). Tinggal saya dan 2 orang teman cewek yang tertinggal waktu istirahat tadi. GM dan mas Slamet Rahardjo, tampaknya sudah masuk duluan ke tribun VIP.

Tapi rupanya kalau kelompok kecil masih terbuka kemungkinan bisa masuk. Jadi kami bertiga akhirnya bisa masuk juga ke sektor 17.

Memang penuh sesak di dalam tribun. Dan lagi-lagi saya beruntung, dapat 1 kursi yg masih kosong, paling depan. Bersebelahan dengan emak-emak dandan yang aduh, ributnya bukan main. Goyang kiri, goyang kanan. Untungnya, dia wangi. Dan orangnya ramah menyenangkan.

Panggung besar di stadion masih check sound. Sementara massa yang memilih turun ke gelanggang festival mengalir keluar masuk. Yang keluar kayaknya gak tahan panas yang menyengat, membakar kulit. Semua kipas-kipas. Handuk kecil yang saya bawa tak pernah berhenti menyeka keringat. Keringat saya, bukan keringat mbak-mbak sebelah saya.

Sekitar pukul 13.00 MC di panggung mulai bersuara. Dan musik mulai berdentam.

Nah inilah kritik utama saya: acara sebesar ini, dengan jumlah massa yang luar biasa banyak dan antusias, manajemen panggungnya SANGAT KEDODORAN.

Panggung seperti tak dipersiapkan dengan baik, flow tak mengalir, kebanyakan check sound (termasuk ketika 100 gitaris tampil). Lebih menjengkelkan lagi, beberapa penyanyi tampil seperti mereka sedang berada di karaoke. Tak hafal lagu, vokal tak sampai, bahkan sebagian (maaf) fals. Antara nada dasar dan vokal tak sinkron.

Tapi saya segera sadar. Ini bukan konser supergrup yang harus sempurna. Ini rapat umum politik yang kudu gembira. Jadi saya menikmati saja semua kegembiraan itu, kegembiraan rakyat Jokowi yang ganteng-ganteng dan manis-manis. Meski badan lepek akibat keringat. Meski untuk bertemu kembali dengan istri yang terpencar sulitnya bukan main karena signal Telkomsel yang kacrut di GBK — bandwithnya mungkin pingsan akibat jumlah pemakai yang tak terbayangkan.

Dengan seluruh pengorbanan massa yang begitu besar, Jokowi memang harus menang besar. Agar kita terhindar dari upaya dan skenario penggagalan hasil pemilu kubu #02.

Kegembiraan itu harus berlanjut hingga 5 tahun mendatang.

Salam jempol,
HH

Heru Hendratmoko
Heru Hendratmoko

Penulis Heru Hendratmoko yang akrab disapa HH adalah wartawan senior, dan eks Pemred KBR68H Jakarta

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR