Kemensos: Dibutuhkan Layanan Psikososial Berkelanjutan Untuk Korban Gempa Susulan di Banjarnegara

Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kemensos Harry Hikmat, di Posko Bencana Kalibening, menjelaskan tentang prioritas penanganan korban bencana susulan di Banjarnegara. (Biro Humas Kemensos)

Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial Harry Hikmat, meninjau korban gempa susulan di Banjarnegara. Ia mengatakan bahwa sesaat setelah terjadinya gempa susulan, pengungsi memerlukan sapaan dan penguatan.

Menurutnya, perhatian terhadap kelompok rentan yang harus ditingkatkan. Taruna Siaga Bencana (Tagana) dan Tim Layanan Dukungan Psikologisosial (LDP) akan fokus menyapa kelompok rentan tersebut.

“Saya melihat perhatian kepada kelompok rentan harus ditingkatkan. Berdasarkan hasil asesmen tim LDP, ketika ada gempa susulan anak-anak panik, ketakutan, menangis dan menjerit-jerit. Para lansia terutama ibu-ibu mengalami kecemasan diluar kewajaran dan takut masuk rumah,” urainya.

Nenek Dakemi (90) yang ditemui Harry di pengungsian di desa Kasinoman mengaku masih belum berani pulang ke rumah. Selama lima hari ia bertahan di tenda pengungsian bersama anak, cucu dan cicitnya.

“Sebenarnya ingin pulang ke rumah. Kalau malam di tenda (pengungsi) dingin, kadang hujan juga. Mudah-mudahan ada bantuan pemerintah untuk rumah kami yang rusak,” tutur Dakemi.

Seorang ibu dengan balita, Samirah (25) tak mampu menahan air matanya yang terus mengalir saat tim Kementerian Sosial menyalaminya. Sambil menggendong anak semata wayangnya Hikam (5), ia menuturkan dengan terbata-bata saat gempa ia tengah menidurkan anaknya.

“Saya di kamar bersama anak saya, nenek ada di dapur. Saya panik melihat lantai dan tempat tidur terguncang-guncang. Spontan saya bangun dan lari ke depan. Nenek jatuh di dapur dan baru bisa keluar rumah setelah gempa berhenti,” tuturnya sambil terisak.

Harry mengatakan kesimpulan dari hasil asesmen menunjukkan pengungsi mengalami kesedihan yang mendalam dan merasakan trauma dan kecemasan akan kehidupan selanjutnya. Oleh karena itu, lanjut Dirjen, pengungsi memerlukan layanan psikososial secara berkelanjutan (trauma healing, counseling, spirit of life, life review therapy, spiritual teraphy, dan play therapy). Dan dalam jangka panjang diperlukan penanganan pasca trauma atau Post Trauma Stres Disorder (PTSD).

“Layanan trauma healing, konseling dan psikoterapi akan terus dilakukan hingga beberapa bulan ke depan sesuai kebutuhan meskipun masa tanggap darurat selesai,” kata Dirjen.

Seperti diketahui sejak Kamis (19/4) hingga Minggu (22/4), sebanyak 12 personel TAGANA Psikososial, 8 orang Pekerja Sosial dan 30 Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), serta 2 orang TKSK dari wilayah Kabupaten Banjarnegara, Purbalingga, Pekalongan dan Banyumas telah melakukan intervensi LDP.

Kegiatan yang dilakukan meliputi pemberian motivasi, konseling, trauma healing, dan berdialog dengan kelompok rentan di beberapa titik pengungsian. Posko LDP Kemensos RI berada di SDN 2 Kasidengan, Desa Kasidengan, Kalibening.

“Kemudian secara bertahap akan dilakukan perluasan layanan psikososial di titik–titik pengungsian lain yang belum terjangkau. Hal ini intens dilakukan pada saat tanggap darurat, transisi darurat sampai masa pemulihan,” terangnya.

Seperti diketahui bencana alam gempa bumi di Banjarnegara pertama kali terjadi pada Rabu (18/4) pukul 13.28 WIB. Gempa berkekuatan 4,4 SR dengan kedalaman 4 kilometer pada jarak 52 kilometer utara Kebumen. Pusat gempa yang dangkal dengan kondisi tanah gembur mengakibatkan kerusakan cukup parah pada 4 Desa di wilayah Kecamatan Kalibening, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

Setelah gempa susulan ketiga jumlah pengungsi yang terdata sementara sebanyak 639 KK, 2.063 jiwa titik pengungsian di 8 desa di Kecamatan Kalibening yakni di Desa Kasinoman, Desa Kertosari, Desa Plorengan, Desa Sidakangen, Desa Kalibening, Desa Karanganyar, Desa Majatengah, Kalisat Kidul.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR