Kenapa Fans Dian Sastro dan Nicholas Saputra Tak Demo Tempo?

Tri Agus S. Siswowiharjo

Dalam dua bulan terakhir ada dua kartun yang membuat heboh negeri ini. Pertama karya Onan Hiroshi. Kartunis Jepang yang berdomisili di Thailand, membuat gambar kartun satir yang memojokkan, bahkan cenderung menghina Indonesia. Gambar kartun ini sempat jadi viral pada 22-23 Februari 2018. Namun, tak lama kemudian pada 25 Februari 2018, ia meminta maaf secara terbuka kepada Presiden Jokowi dan seluruh rakyat Indonesia. Melalui twitter dan Facebook-nya Onan Hiroshi mengunggah gambar dirinya membungkuk di lantai, disertai tulisan:

“I’m sorry. beggar is over Excessive demands. I was heat up. But now cooldown.”

“Mr. President JOKOWI and Indonesian everyone, and Indonesian gov I’m Really sorry. I am shame. I take back picture, I’m sorry.”

Kedua adalah kartun dari majalah berita mingguan Tempo. Kartun itu terinspirasi dari sebuah adegan film terkenal Ada Apa Dengan Cinta 2, yang pengambilan gambarnya sebagian besar di Yogyakarta, dengan dua tokohnya Cinta dan Rangga. Namun dalam kartun Tempo digambar seorang lelaki bersorban bersama seorang perempuan. Dialognya sangat singkat. Lelaki bersorban berkata: “Maaf…saya tidak jadi PULANG.”
Sang Perempuan menjawab: “Yang kamu lalukan itu JAHAT.”

Jumat, 16 Maret 2018, kantor majalah Tempo didatangi sekitar dua ratus massa Front Pembela Islam (FPI). Mereka merasa Tempo telah melakukan penghinaan kepada imam besar mereka Habib Rizieq yang kini berada di Arab Saudi. Terjadi kekerasan verbal, paksaan fisik, perampasan, pelemparan, dan intimidasi pada aksi itu meski ada polisi. Tempo berjanji akan memuat keberatan FPI di edisi berikutnya dan menyilahkan masalah ini dibawa ke Dewan Pers, sesuai Undang Undang Pers.

Memang diperlukan kecerdasan dan kedewasaan untuk menikmati sebuah kartun. Bahkan kata Gus Dur orang bisa dikatakan dewasa jika mampu menertawakan diri sendiri. Tetapi anehnya mengapa pada cover gambar kartun sebelumnya, bahkan dua cover Tempo yaitu pada Juli 2017 “Rekonsiliasi atau Revolusi” dan pada Januari 2017 “Meringkus Rizieq” tak ada seorang pun yang mendemo Tempo? Kedua cover edisi ini jelas-jelas bergambar Habib Rizieq. Tak perlu susah-susah kita mencari jawaban, sebab urusan demo di Indosesia saat ini biasanya terkait permintaan atau pemesanan.

Sebenarnya yang mestinya marah dan tersinggung adalah Dian Sastro, Nicholas Saputra atau fans berat mereka. Bayangkan coba, bagaimana ceritanya, atau pada AADC ke berapa Rangga mengenakan sorban. Begitu juga pertanyaan mengapa Cinta masih setia hingga menunggu sekian purnama, puasa dan lebaran (melebihi rekor bang Thoyib), padahal Rangga kini berpenampilan seperti Habib Rizieq?

Namun fans Dian Sastro dan Nicholas Saputra tentu mempunyai kedewasaan dan kecerdasan dalam menafsirkan kartun. Mereka umumnya telah mampu menertawakan diri sendiri, sehingga tak mudah tersinggung. Mereka bukan kaum sumbu pendek. Karena itu tak heran di akun-akun medsos mereka berkomentar yang menunjukkan tidak marah, misalnya:

“Kartun Tempo ini jelas ujaran kegelian bukan kebencian. Kalau ada yang demo karena kartun ini bisa jadi itu ujaran kebodohan.”

Ada juga yang mengubah gambar, kartun Tempo, yang perempuan menjadi memakai cadar. Kemudian dialog diubah menjadi:

Rangga: “Syukurlah Cinta, UIN Jogja akhirnya tak jadi membina kamu…”
Cinta: “Sudah tujuh purnama kok belum pulang juga?”

Fans Rangga dan Cinta eh Dian Sastro dan Nicholas Saputra juga ada yang mengunggah gambar asli adegan antara Rangga dan Cinta (yang menginspirasi kartun Tempo) di sebuah kafe di Jogja. Dialognya begini:

Cinta: “Rangga, tahu ga sih di AADC berikutnya kamu bersorban dan aku bercadar?”
Rangga: “Tak masalah Cinta. Kita harus profesional bahkan berperan sebagai pengecut dan buron sekali pun.”

Menurut Kamus Inggris-Indonesia dari karangan John M. Echols and Hasan Sadily, cartoon adalah gambar lucu sedangkan caricature adalah gambar sindiran. Kartunis dan karikaturis adalah bagian dari jurnalis yang menyampaikan fakta dan opini. Mereka mempunyai perkumpulan antara lain Semarang Cartoonist Club (SECAC), Paguyuban Kartunis Yogyakarta (PAKYO), Kelompok Kartunis Kaliwungu (KOKKANG), Persatuan Kartunis Rawamangun (PERKARA), Terminal Kartunis Ungaran (TERKATUNG) dan lain-lain. Secara nasional ada Perkumpulan Kartunis Indonesia (PAKARTI).

Bersyukur Indonesia masih mempunyai dua organisasi besar NU dan Muhammadiyah. Sebab di media sosial keduanya punya Garis Lucu. Komunitas NU Garis Lucu anggotanya sekitar 15 ribu, sementara Muhammadiyah Garis Lucu ada sekitar 8,4 ribu anggota komunitas. Dan mereka yang pemberang, sedikit-sedikit marah, marah kok cuma sedikit, sebenarnya jumlahnya sedikit.

Semoga kasus kartun Tempo menjadi pelajaran buat kita semua. Buat kartunis, teruslah lucu, menghibur, dan memberi nilai untuk masyarakat di sekitar. Ngelmu iku kalakone kanthi laku. (Me)lucu itu juga laku. Bagi masyarakat, janganlah mudah terprovokasi, apalagi oleh sesuatu yang lucu. Mestinya tertawa bukan jumawa.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR