Kepedulian Kapolres Nunukan Membuat Masyarakat Enggan Berbuat Jahat

Ketarangan foto; Kepedulian Kapolres Nunukan AKBP Teguh Triwantoro bersama Kapolsek KSKP AKP Berlin, ditunjukan saat menyambangi seorang dzuafa bernama Wagimem di Nunukan

Kepala Kepolisian Resort (Kapolres) Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara) AKBP Teguh Triwantoro kini bukan hanya menjadi perbincangan masyarakat Nunukan dan Kaltara semata, namun tak sedikit para pengguna media sosial yang mengpresiasi sikap dari Perwira 2 Melati tersebut. Kepedulian Kapolres Nunukan melalui kegiatan Patroli Perduli Polres Nunukan, tengah menjadi perhatian masyarakat.

Selama ini stigma dan pandangan masyarakat terhadap ‘Korps Seragam Coklat’ tersebut identik dengan penegakan hukum serta hal yang berkaitan dengan pemberantasan Kriminal. Sehingga ketika ada seorang anggota Polri yang mampu menjadikan dua sisi yakni tegas dan humanis dalam satu sosok, maka hal tersebut merupakan keistimewaan tersendiri bagi masyarakat.

Bagi masyarakat Nunukan sikap AKBP Teguh yang dalam waktu tertentu sangat tegas terhadap penindakan hukum, keras terhadap para pelanggar hukum serta mampu memerapkan ketegasan dalam keadilan termasuk kepada anggotanya yang melakukan pelanggaran, adalah sebuah nilai plus yang wajib diapresiasi.

Namun yang membuat masyarakat sangat bersimpati adalah kebiasaan lelaki berbadan tegap tersebut dalam kepedulianya kepada mereka yang tengah dalam kesusahan. Melalui Patroli Perduli Polres Nunukan, AKBP Teguh rela berjalan kaki menelusuri lorong hingga jalan setapak untuk bertemu dan berbagi rezeki dengan para dhuafa serta mereka yang papa.

“Berbicara tentang kebaikan AKBP Teguh, saya rasa tak akan ada habisnya,” ujar Bendahara Aliansi Masyarakat Sipil Untuk Indonesia Hebat (ALMISBAT) Andi Suryani, Senin (26/5/2019).

Seperti puluhan bahkan ratusan kaum dhuafa yang ia datangi, beberapa hari lalu Kapolres Nunukan ini kembali menjadi pembicaraan masyarkat bahkan netizen di berbagai linimasa maupun group media sosial ketika ia menyambangi seorang wanita renta bernama Waginem.

Perempuan senja berusia 80 tahun yang tinggal di pemukiman padat penduduk di tengah perkotaan di RT.07 jalan Tawakal Nunukan Barat ini hidup sendirian tanpa sanak saudara dan sejak 1970 ia bertahan hidup di Nunukan pasalnya suaminya telah meninggal 10 tahun lalu.

“Rumah beliau terbakar habis dan masyarakat membangunya kembali. Dalam kesendiriannya, ia mencoba survive dengan membeli daun kelapa, tenaga tuanya hanya mampu mengumpulkan sedikit demi sedikit lidi pohon kelapa dan menyisik daunnya sehingga terkumpul menjadi sejumlah lidi,” tutur Teguh sebagaimana dilansir dari Kabar Utara.

Dari ikatan lidi yang menjadi sapu itulah, menurut Teguh, Nenek Waginem mendapat uang untuk sekedar pengganjal perut, dengan berjalan kaki, ia menjajakan sapu lidi dengan resiko tanpa sesenpun rupiah yang ia dapat. Tubuh ringkihnya tak menyerah karena semangat yang masih tersisa menjadi satu-satunya modal ia berusaha menjauhkan diri dari meminta dan mengandalkan orang lain.

“Namun sekuat apapapun, namanya usia senja ada batasnya. Kondisi fisiknya tak akan mampu lama bertahan, beliau lebih sering berdiam di rumah mengistirahatkan jasad tuanya dan sangat terpaksa menerima uluran tetangga,” paparnya.

Sehingga ketika AKBP Teguh didampingi Kapolsek KSKP Iptu Berlin dan beberapa diiringi anggota Polres Nunukan menyambanginya, Nenek tersebut kelihatan sumringah karena ia tak menyangka akan keadatangan orang nomor satu di Polres Nunuakan. Sinar matanya tak mampu menutupi kebahagiaanya seolah-olah ia seperti mendapat harapan baru diusia senjanya.

Seorang warga yang yang tak mau disebutkan namanya mengaku sangat terharu dengan yang dilakukan oleh Kapolres Nunukan tersebut. Bahkan ia mengaku terus terang bahwa hal yang dilakukan AKBP Teguh tersebut bukan hanya telah mengedukasi agar ia juga mempunyai kepedulian kepada sesama namun juga telah membuat batinya terbuka untuk tidak melakuakan perbuatan yang melanggar hukum.

“Jujur sebelum Pak Teguh ada di Nunukan, saya ini boleh dibilang penjahat. Tapi setelah orang-orang membicarakanya, saya menjadi penasaran. Kalau memberi bantuan lantas diliput sih bagi saya sudah biasa. Tapi saya lihat sendiri bagaimana beliau datang diam-diam kerumah orang ndak mampu lalu ngasih sumbangan. Kalau beliaiu bisa, kenapa saya ndak bisa? Itu mustahil saya lakukan kalau saya masih jadi penjahat. Makanya saya berhenti,” tuturnya.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR