Kepercayaan Publik Modal Untuk Memperbaiki Penurunan Nilai Rupiah

Grafik perubahan kurs

Krisis ekonomi dipengaruhi oleh 2 faktor utama, Fundamen (fundamental) ekonomi dan sentimen publik. Jika penurunan nilai rupiah saat ini, kemudian diangap ekonomi sudah demikian parah bahkan lebih parah dari krisis 98, mengapa saat ini tidak terjadi rush atau situasi tidak bergejolak?

Sederhana saja, sentimen publik dan pelaku ekonomi memiliki kepercayaan (sentimen positif) terhadap pemerintah. Publik percaya bahwa pemerintah terutama pimpinannya dalam hal ini presiden adalah pemimpin yang bersih. Dan publik percaya dan tau bahwa penurunan nilai rupiah disebabkan oleh faktor eksternal.

Ini modal besar pemerintah untuk dapat memperbaiki ekonomi. Karena jika memang kondisi ekonomi sedemikian parahnya, dan di sisi lain kepercayaan kepada pemerintah lemah, pemerintah sudah jatuh dari jauh hari sebelumnya.

Atau memang krisis tidak sedemikian hebat seperti yg dilontarkan para oposan? Atau memang penurunan nilai rupiah lebih disebabkan oleh faktor eksternal?

Memang ada masalah fundamental dalam bentuk adanya defisit neraca perdagangan. Tapi hal tersebut bisa diperbaiki dengan mengefisienkan ekonomi/industri dalam negeri. Kita memiliki permodalan untuk itu dengan infrastruktur yang kita miliki sudah semakin baik.

Tetapi mengutip pernyataan Faisal Basri, kebijakan ekonomi kita dalam mengatasi penurunan nilai rupiah dan defisit neraca perdagangan, jangan hanya mengandalkan “pertahanan yang berlapis” yang bertujuan menghambat import, tetapi juga bagaimana kebijakan dikeluarkan dalam upaya untuk meningkatkan ekspor.

Kepercayaan publik sudah diraih, masih ada waktu untuk memperbaiki ekonomi. Dalam keadaan krisis publik saja masih percaya, apa lagi jika krisis dapat dilalui.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR