Kesalehan Sosial

Harapan banyak orang, kesalehan adalah tujuan. Tak sedikit orang lupa, sejatinya saleh adalah salah satu perangkat. Berbentuk sebagai proses yang perlu diperbaharui seiring perkembangan peradaban zaman.

Orang-orang saleh, adalah mereka yang selalu menjadi panutan. Ucapanya, prilakunya bahkan juga kebiasaanya. Tak ayal, orang-orang saleh dianggap pewaris kebajikan para Nabi atau Rasul yang menjadi panutan umat-umat beragama.

Menjadi saleh, bukan atas karena memenangkan perlombaan ibadah yang kasat mata. Atau, sukses membungkus dagangan agama, sebagai retribusi pahala untuk orang-orang kaya. Ada kalanya, agama mirip seperti berhala. Benda mati yang dijual bebas.

Dalam pra-kondisi itu kesalehan eksentrik lahir. Tumbuh berkembang, ditengah pengetahuan yang kerap gamang. Apa yang terjadi?? Masyarakat berlomba menempati predikat ‘orang saleh’. Ada yang merubah cara berpakaian secara ekstrim. Ada yang membangun citra seorang yang taat. Juga banyak yang merubah gaya bicara. Dalam seketika, mereka merasa pemilik tunggal otoritas agama.

Kita sedang mabuk, bahkan tenggelam kesalehan eksentrik. Mereka, yang merasa saleh dengan segala anomali kepribadian. Tentu itu bukan hal yang lazim dalam menerobos ruang-ruang perbaikan iman. Sejatinya, mereka sedang memberhalakan agama.

Kesalehan sosial bukan barang baru bagi kita. Mungkin perlu terus kita ulang, kisah bermartabat dari para pendahulu. Semisal, kisah Mbah Hasyim Asyari yang mencuci pakaian para santri disepertiga malamnya. Juga, kisah Bung Hatta yang urung memiliki sepatu Bally, hingga akhir hayatnya. Ini menjadi satu model keteladanan yang tidak bisa dituangkan dalam sebuah manuskrip politik.

Jika saja, John Rawls berhasil merumuskan teori “Keadilan Sosial”, bagaimana batas keadilan bisa dipertemukan jika tabir-tabir ketidaktahuan berhasil diminimalisir, serta mulai disemai pengetahuan yang maju.

Dalam kondisi-kondisi serupa, tentu kita perlu menerjunkan aksi nyata dari bentuk aksiologi *”Kesalehan Sosial”*. Dalam upaya yang paling awal dan mungkin, adalah internalisasi kebajikan.

Menjadi saleh dalam ruang sosial adalah perlu. Ditengah krisis pengetahuan dan toleransi. Jika tidak membangun metodologi pencegahan, bukan tidak mungkin kita terus mundur. Hingga titik nadir. Dehumanisasi pun, bisa menjadi mungkin.

Bukan kah, Sjahrir pernah berucap; soal urusan membela kemanusiaan, harus dimulai dari meruntuhkan ego kebenaran personal. Arti penting sebagai prasyarat menjadi saleh dalam ruang sosial adalah, menegasikan kepentingan ego personal.

Dalam diktum yang perlu kita catat, Sjarir pernah berfatwa: “Jarak antara keinginan dan kemungkinan hanya dapat diperkecil dengan menambah pengetahuan dan kecakapan. Hanya demikian kemampuan serta kekuatan dapat ditambah” (Sikap No.1 17 Agustus 1948).

Semangat menjadi saleh secara sosial, tanpa perlu merubah secara ekstrim. Yang paling minimal adalah membangkitkan semangat “pengorbanan” untuk kemajuan bangsa dan negara. Mengedepankan agenda kebangsaan, ketimbang golongan tertentu. Kepribadian yang saleh dalam ruang sosial, memuluskan kita membangun jembatan kokoh menuju keadilan sosial paripurna.

Hari-hari makin riuh dimana komunalisme dan fundamentalisme melangsungkan perkawinannya yang ilegal.

Maka kesalehan sosial perlu kembali kita rintis. Bukan saja sebagai jalan keluar ditengah tebalnya radikalisme agama. Kendati juga menjadi, penambal dari pilar-pilar kebangsaan yang boleh jadi sudah mulai rapuh.

Salam Rakyat Akal Sehat!!

 

Penulis : Abirekso Panggalih, pemerhati masalah sosial

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR