Kisah Luar Biasa Perwira Biasa: Catatan Perjuangan Kolonel Ronny di Timor Leste

Sampul Buku Operasi Seroja: Di Timor Timur Dahulu Kami Berjuang untuk Negara

Selama ini kita selalu dijejali kisah perwira yang sukses dalam karir, semisal sebagai Panglima TNI, Kepala Staf Angkatan, atau setidaknya Pangdam. Kita jarang sekali mendengar cerita atau pengalaman dari perwira yang kurang sukses dalam karir,  walaupun pernah mengikuti operasi penting di Timor Leste. Padahal publik sebenarnya ingin juga mengetahui catatan perjalanan perwira yang kurang berhasil (dalam karir), sebagai salah satu cara  belajar mengenai makna kehidupan.

Buku bertajuk Operasi Seroja: Di Timor Timur Dahulu Kami Berjuang untuk Negara (penerbit Matapadi, 2017) ini, membahas perjalanan perwira yang masuk kategori biasa-biasa saja, artinya tidak sampai mencapai derajat pati (perwira tinggi).

Tokoh yang dibahas dalam buku ini adalah Kol Inf (Purn) Michael Roderick Ronny Muaya, SH, lulusan Akmil tahun 1972. Sebenarnya performa Michael Roderick Ronny sudah di atas rata-rata untuk ukuran perwira pertama (letnan sampai kapten), karena dia  terlibat dalam operasi penerjunan di atas wilayah Dili, ketika Operasi Seroja baru saja dimulai, awal Desember 1975. Namun pada operasi tempur di Timor Timur (Timtim) berikutnya, yakni tahun 1978, jalan hidup Ronny berubah drastis.

Melawan Diri Sendiri 

Setelah lulus dari Akmil tahun 1972 dengan pangkat letnan dua, Ronny ditempatkan sebagai Danton (komandan peleton) di Yonif Linud 502 Kostrad, yang bermarkas di Malang. Dalam hari pertama Operasi Seroja (Desember 1975), Yonif 502 termasuk pasukan yang diterjunkan guna menguasai Dili, bersama satuan lain, seperti Yonif Linud 501 Kostrad (Madiun) dan Grup 1 Kopassus. Ronny selaku salah satu Danton juga ikut diterjunkan, inilah pengalaman pertama Ronny dalam pertempuran sesungguhnya. Terlibat dalam  Operasi Seroja pada periode awal ini, memang riskan, mengingat informasi soal kekuatan lawan dan kondisi medan sangat minim.

Karena itu bagi perwira yang terlibat, mendapat apresiasi tersendiri dari pimpinan, misalnya dengan kemudahan dalam mengikuti pendidikan dan kenaikan jabatan, termasuk Ronny sendiri tentunya. Ini terlihat bagaimana para Komandan satuan yang terlibat dalam operasi penerjunan itu, semuanya menjadi jenderal, seperti Letkol Warsito (Akmil 1961), Komandan Yonif 502, jadi atasan Ronny, yang sempat menjadi Panglima Divisi Infanteri 1 Kostrad dan Pangdam Udayana. Kemudian Komandan Grup 1 Kopassus Letkol Inf Soegito (Akmil 1961), yang kelak menjadi Pangdam Jaya dan Pangkostrad. Dengan kata lain Ronny  juga sudah memiliki “modal”  prestasi  dari Operasi Seroja.

Kolega Ronny di Yonif 502 yang lain yang segenerasi dengannya, yang pernah sama-sama bertugas di Timor Leste dulu, sebagian besar juga menjadi jenderal. Perwira dimaksud antara lain Mayjen Ismed Yuzairi (Akmil 1971, almarhum, mantan Dankipan B Yonif 502), Mayjen T Rizal Nurdin (Akmil 1971,  almarhum, terakhir Gubernur Sumut, mantan Dankipan A), dan Mayjen Songko Purnomo (Akmil 1971, mantan Kasi 3/Personel). Sementara posisi Ronny terakhir  saat di Yonif 502 adalah Dankipan C.

Selesai penugasan pertama di Timtim, Ronny memperoleh kesempatan sebagai anggota Kontingen Garuda VIII/3 untuk menjaga perdamaian di Timur Tengah (Januari – Oktober 1977), tepatnya di Gurun Sinai. Penugasan sebagai anggota Kontingen Garuda termasuk langka, karena tidak setiap perwira TNI memperoleh kesempatan tersebut. Pengalaman penugasan sebagai anggota Kontingen Garuda bisa dijadikan portofolio untuk promosi nantinya. Sekali lagi Ronny memperoleh tambahan catatan prestasi.

Namun naas itu datang pada penugasan kedua di Timor Timur, tepatnya bulan Desember 1978. Dalam sebuah pertempuran, lengan kiri Ronny tertembak, hingga terpaksa harus diamputasi. Ronny sempat putus asa, seolah masa depan menjadi gelap, dia sempat membayangkan, apalah artinya seorang perwira infanteri (linud pula), dengan tangan yang invalid. Sementara satuan infanteri sangat mengutamakan kesiapan fisik. Di sinilah terjadi pergulatan dalam diri Ronny.

Pada bagian ini pembaca dapat memperoleh hikmahnya, benar pameo yang mengatakan, seberat-beratnya perang melawan musuh, masih lebih berat menghadapi diri sendiri. Ronny berpandangan, Tuhan rupanya mendengar doa-doanya selama ini, hingga secara perlahan dia bisa mengatasi rasa frustrasinya. Dukungan keluarga (utamanya istri) sangat membantu memulihkan rasa percaya diri Ronny.

Tetap Bermakna 

Akhirnya kesempatan baik itu datang juga, Ronny diterima kuliah di AHM (Akademi Hukum Militer), hingga berlanjut pada PTHM (Perguruan Tinggi Hukum Militer). Memang pada hari-hari pertama duduk di bangku kuliah, Ronny sempat merasa berat menjalaninya, bagaimana mungkin dia dididik sebagai perwira infanteri untuk tugas di lapangan, kini harus duduk manis di belakang meja. Namun pencerahan itu datang juga, bahwa Ronny kuliah demi membesarkan anak-anaknya kelak.

Setelah lulus kuliah, dan sempat kembali bertugas di lingkungan TNI AD, ada kesempatan bagi Ronny untuk dikaryakan, yakni bertugas di luar TNI, namun statusnya sebagai perwira tetap berjalan, agar pangkatnya bisa naik terus. Seorang anggota TNI bisa dikaryakan di luar TNI, memang bagian dari  Dwifungsi ABRI, yang kini sudah tidak berlaku lagi. Pada saat itu Ronny dikaryakan di Pertamina, sebagai koordiator keamanan.

Saat bertugas di Pertamina itulah, kehidupan ekonomi keluarga Ronny sangat terbantu, hingga mampu menyekolahkan kedua anaknya sampai perguruan tinggi. Ronny merasa sangat bersyukur, dia yang sempat merasa “tersingkir” dari kesatuannya di TNI AD, ternyata tetap bisa menafkahi keluarganya. Bagi Ronny, berjuang demi keluarga tidak kalah maknanya dibanding berjuang untuk keluarga.

Saat baru saja pensiun dari TNI, dan menjelang purna tugas dari Pertamina, kegelisahan Ronny kembali datang. Sehubungan rencana Presiden BJ Habibie mengadakan referendum bagi rakyat Timor Timur. Kini semua telah menjadi sejarah, pada akhirnya memang Timor Timur benar-benar lepas, yang meninggalkan kepedihan mendalam bagi para prajurit yang pernah bertugas di sana, salah satunya adalah Kolonel Ronny.

Terkait dengan perjuangan di Timor Timur dan perjuangan bagi keluarga, Ronny merangkumnya dalam kalimat puitis berikut ini: “Pada akhirnya biarlah orang yang menilai makna dan arti perjuangan kami di Timor Timur. Apabila perjuangan kami tidak diingat bangsa ini, setidaknya biarlah anak cucu kami yang akan mengenang kami sebagai Pejuang Bangsa.”

Sekadar catatan penutup, apa yang dialami Kolonel Ronny  sebenarnya tidak memenuhi prinsip keadilan dalam pembinaan karir. Bandingkan dengan tokoh semacam Mayjen Purn Soehardiman dan Mayjen Purn Amir Murtono, yang bisa mencapai strata pati (mayor jenderal) melalui jalur politik praktis, yakni sebagai pimpinan Golkar. Sementara orang seperti Ronny, yang jelas-jelas menyabung nyawa dalam operasi tempur, dan sampai tangannya diamputasi, tidak memperoleh penghargaan setinggi itu.

 

Aris Santoso, sejak lama dikenal sebagai pengamat militer, khususnya TNI AD. Kini bekerja sebagai editor buku paruh waktu

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR