Kuliah Umum Goenawan Mohamad “Pada Masa Intoleransi” di Yogyakarta

Poster "Kuliah Umum" Goenawan Moehamad di Kafe Basabasi Yogyakarta (foto dokumen)

Sastrawan terkemuka Indonesia Goenawan Mohamad tampil di hadapan sekitar empat ratus orang di sebuah kafe Basabasi yang menurut pemiliknya, Edi Mulyono, sebagai kafe rakyat (2/2). “Semua kursi kalau penuh kapasitasnya tiga ratus orang. Tapi lihat mereka yang lesehan di depan dan yang berdiri di samping,” ujar Edi.

GM begitu banyak orang menyapa, mengawali “kuliah umum” dengan mengapresiasi Kafe Basabasi dan Diva Press. Di tengah orang khawatir barang cetakan kian tak laku rupanya acara seperti ini sangat ramai. Ternyata buku masih menjanjikan. Ia juga merasa senang bukunya diterbitkan (oleh Diva Press). “Selama ini buku saya diterbitkan Tempo, itu karena kasihan,” kata GM sambil terkekeh.

Penulis Caratan Pinggir di Tempo itu menjelaskan intoleransi dari mengutip kitab perjanjian lama, munculnya saling persekusi Kristen dan Katollik di Perancis dan Spanyol, intoleransi di India, sampai intoleransi yang dilakukan kelompok Wahabi.

Di India, intoleransi lebih rumit dari Indonesia. Di sana selain antar agama juga ada konflik antar kasta. Kita bisa melihat melalui film-film India. Dalam sebuah film India peraih Oscar, tentang anak Muslim yang memenangi sebuah kuis, ada seorang berandal Hindu yang sering mempersekusi warga Muslim. Kata berandal itu, satu kesalahan yang dilakukan korban, karena korban Muslim.

Goenawan Mohamad dan Edi Mulyono pemilik Kafe Basabasi (Tri Agus)
Goenawan Mohamad dan Edi Mulyono pemilik Kafe Basabasi (Tri Agus)

Namun India mempunyai Mahkamah Agung yang cukup berwibawa. Baru-baru ini ada sebuah film kontroversial. Percintaan antara tokoh Hindu dan Islam masa lalu. Oleh FPI-nya India, kata GM disambut tertawa pengunjung, artis cantik yang memerankan tokoh fiktif muslim itu dianggap menghina Hindu dan layak dihukum mati. Meski film itu tak beredar di tiga negara bagian tapi secara nasional tetap beredar dan artis aman. Itu karena MA India berwibawa.

Di Indonesia saat konflik etnis Dayak dan Madura merebak, membuat Franz Magnis Suseno heran, seolah agama tak bisa berbuat apa-apa. “Mereka yang rajin ke gereja ternyata banyak yang melakukan persekusi;” ujar GM mengutip Magnis.

Menurut GM sebenarnya dalam setiap.manusia ada multi identitas. Seorang Madura dia juga Islam dan pedagang misalnya. GM adalah orang Jawa asal Batang (Jawa Tengah). Toleran itu bisa merasakan orang yang berbeda tanpa menjadi orang lain. Intoleransi muncul karena ada pihak yang merasa terancam. Pemeluk agama atas pemeluk agama lain. Bahkan pemeluk agama merasa terancam oleh rasionalitas. Rasionalitas mengancam agama yang digmatis. Nanum rasionalitas yang menghasilkan teknologi juga mengancam kemanusiaan dan lingkungan hidup.

Kini di era demokrasi hukumlah yang harus dihormati. Meski kita tahu mereka yang membuat hukum di parlemen. GM mengibaratkan membuat hukum itu seperti membuat tahu. Prosesnya busuk tapi hasilnya enak. Meskipun ada juga tahu yang busuk.

Ada sekitar belasan anak muda yang umumnya mahasiswa bertanya kepada sastrawan berusia 77 tahun itu. Umumnya mereka pembaca caping maupun tulisan GM di media sosial, twitter misalnya. Ada yang bertanya tentang sastra, bagaimana mencegah intoleransi, sampai warna baju yang sering dikenakan GM.

Peserta Kuliah Umum Goenawan Mohamad di Kafe Basabasi Yogyakarta (Tri Agus)
Peserta Kuliah Umum Goenawan Mohamad di Kafe Basabasi Yogyakarta (Tri Agus)

Soal sastra, kata GM, dirinya jarang mau hadir di acara-acara semacam kongres budaya. Saya malas karena pertemuan itu akan dihadiri orang-orang yang gemar bertengkar bukan membicarakan karya. GM mengajak untuk lebih membahas karya seseorang daripada pribadi penulis.

Tentang gagasan mencegah intoleransi dengan lebih mengedepankan indentitas internasional, GM tidak setuju. Kita ini di dalam diri masing-masing sudah multi identitas. Biarlah jika ada intoleransi hukumlah yang bicara meski di Indonesia hukum masih belum adil dan berwibawa.

Terkait warna pakaian, GM jarang beli baju. Warna mungkin gelap dan terang. Ia mengutip mantan presiden AS Obama. Obama punya banyak dasi tapi warnanya nyaris sama, merah atau biru. “Saya tak mau berjam-jam hanya untuk memilih warna dasi yang akan saya kenakan. Lebih baik waktu untuk memikirkan kebijakan,” ucap GM disambut tepuk tangan.

Meski GM mau meladeni pertanyaan sampai jam 04.00, seperti jam tutup kafe, tapi karena suara GM makin serak, moderator diskusi Kian Santang harus menyudahi acara. GM sekali lagi mengapresiasi pemilik kafe Basabasi yang juga penerbit Diva Press Edi Mulyono. Kafe Basabasi yang baru berdiri dua setengah bulan ini, setidaknya sudah menghadirkan tiga pembicara yang bikin heboh penggemar sastra di Jogja. Sebelum GM adalah Sujiwo Tedjo dan Sapardi Djoko Damono. Lalu malam berikutnya tampil Ulil Abshar Abdalla . Mareat mendatang sastrawan yang tengah naik daun akan tampil: Eka Kurniawan.

Usai kuliah umum yang lebih tepat disebut diskusi itu, dilanjutkan penandatanganan buku oleh GM. Antrian panjang mahasiswa dan dosen muda serta penggemar sastra lainnya menunggu giliran bukunya ditandatangani sang penulis plus tentu saja foto bareng. Melihat antusias setiap gelaran acara buku, sepertinya Jogja layak disebut Ibukota Buku Indonesia.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR