Kulineri di Sukabumi, Kehangatan di Bandros Ata

Selain kue Mochi dan bubur ayam, di kota Sukabumi  terdapat kuliner dari “ban”. Yang dimaksud adalah Bandros, Bandrek, dan Bansus (bandrek susu). Bandros adalah penganan berupa kue berbahan utama tepung beras, parutan kelapa, dan santan. Sementara Bandrek adalah minuman yang terbuat dari campuran gula merah dan jahe. Untuk menambah aroma dan rasa yang mengguggah, bisa ditambah dengan sedikit rempah-rempah.  Penganan dan minuman khas Priangan, ini paling pas dinikmati saat panas atau hangat.

Jika anda singgah di Sukabumi, kehangatan itu setidaknya dapat ditemukan di Bandros Atta. Lokasinya berada di salah satu ruas jalan terkenal di tengah kota, Jalan Gudang No. 4. Persisnya, sekira 15 meter saja dari perempatan lampu merah. Karenanya, banyak yang menyebutnya  Bandros Gudang.

Tak ada secuil pun “kemewahan” di sana.  Alih-alih, segalanya justru nampak sederhana dan terbuka. Karena, inti dari tempat itu hanya berupa emperan toko makanan, luasnya kurang lebih 1,5 x 3 meter persegi. Untuk duduk di sekitarnya, hanya tersedia empat bangku kayu sepanjang satu meteran,  serta beberapa pasang bangku plastik sekedarnya.

Di sini ditawarkan beragam menu Bandros, seperti rasa strawberry, keju, atau vanilla. Menu lain pelengkap kudapan selain bandrek dan bansus adalah telur ayam kampung setengah matang, kopi, STMJ, dan air jeruk. Bagi warga Sukabumi, serta pendatang dari luar kota, Bandros Atta adalah salah satu destinasi kuliner favorit di malam hari. Maklum, tempat itu buka antara pukul 08.30 malam hingga pukul 06.00 pagi.

Ketika indeksberita.com datang (Sabtu malam, 13/02/2016), suasana nampak cukup ramai. Sebagian pembeli yang tak kebagian bangku, terlihat duduk lesehan di trotoar seberang jalan. Bahkan ada diantaranya berada sekira 25 meter dari “pusat kegiatan”. Sebelumnya, mereka pesan makanan atau minuman lewat Rendi. Dialah yang wara-wiri menghantarkannya kemudian.

Bayarnya belakangan, ketika perut kenyang dan badan sudah menghangat. Kejujuran pelanggan tempat itu sepertinya dapat diandalkan.

Untuk melayani tak kurang dari seratusan pelanggan yang datang selama buka 9,5 jam tiap malam, selain Rendi,  juga ada Mang Nono (peracik minuman), Agus (pembuat Bandros), dan Iwan (bagian umum).

Keterkenalan Bandros Gudang, boleh jadi selain karena kekhasan rasa dari resep bandrosnya, juga karena usianya. Tempat itu buka pertama kali pada tahun 1973 oleh Mbah Ata. Rendi dan kawan-kawan sekarang adalah generasi ketiga yang meneruskan usaha rintisan Mbah Ata, itu.

Yang lebih menyenangkan, pembeli tak perlu mengeluarkan uang banyak untuk menikmati makanan dan minuman di Bandros Atta. Karena harganya cukup terjangkau. Bandros aneka rasa dijual dengan harga Rp 8.000,00 per porsinya. Sementara, harga untuk minuman berkisar Rp 3.000,00- Rp 8.000,00. Sedangkan untuk menu spesial telur ayam kampung setengah matang, pembeli cukup membayar Rp 6.000,00 saja.

Tak heran jika kemarin, kami berdua hanya membayar Rp 28.000 saja untuk menikmati satu porsi bandros, empat butir telur ayam kampung setengah matang, dan dua gelas bandrek susu. (Nanang Pujalaksana)

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR