Kyai Subchi, Pencetus Bambu Runcing Yang Belum Diangkat Sebagai Pahlawan Nasioanal

Foto Kyai Subchi

Memasuki bulan November, bangsa Indonesia akan kembali diingatkan oleh sebuah peristiwa kepahlawanan dari para pejuang NKRI dalam sebuah momentum Hari Pahlawan yang diperingati setiap tanggal 10 November. Ketika terdengar kata Hari Pahlawan, dibenak kita yang terlintas adalah perlawanan atau aksi heroik putra-putri pertiwi kala itu yang melakukan perlawanan terhadap colonial dengan senjata khas para pejuang yakni Bambu Runcing.

Namun sedikit dari generasi terutama generasi muda negeri ini yang mengetahui kapan pertama kali senjata Bambu Runcing tersebut diciptakan dan siapa pencetusnya. Adalah Kyai Subchi, seorang ulama’ kharismatik di kota Parakan, Temanggung, Jawa Tengah yang pertama kali memperkenalkan cucukan bambu sebagai alat atau senjata dalam melawan penjajah Belanda kala itu. Lantas siapa Kyai Subchi sebenarnya?

IMG-20171109-WA0003

Kiai Subchi lahir di Parakan, Temanggung, Jawa Tengah, sekitar tahun 1850. Subchi, atau sering disebut dengan Subeki, merupakan putra sulung Kiai Harun Rasyid, penghulu masjid di kawasan ini. Subchi kecil bernama Muhammad Benjing, nama yang disandang ketika lahir. Setelah menikah, nama ini diganti menjadi Somowardojo dan setelah menunaikan ibadah haji, namanya berganti menjadi Subchi.

Kyai Subchi adalah cucu dari Kiai Abdul Wahab yang merupakan keturunan seorang Tumenggung Bupati Suroloyo Mlangi, Yogyakarta. Kiai Abdul Wahab adalah pengikut Pangeran Diponegoro yang juga terlibat mengatur strategi dalam Perang gerilya Diponegoro dalam kurun waktu `1925-1930.

Ketika Pangeran Diponegoro ditangkap di Magelang pada 28 Maret 1830, Kiai Wahab kemudian mengundurkan diri untuk menghindar dari kejaran Belanda. Ia menyusuri Kali Progo menuju kawasan Sentolo, Godean, Borobudur, Bandongan, Secang Temanggung, hingga singgah di kawasan Parakan. Ditempat inilah Kyai wahab meneruskan cita-cita Pangeran Diponegoro dengan membuka kantong-kantong perjuangan berupa Pesantren.

Sedangkan Subchi kecil kala itu kecil dididik oleh orangtuanya, dengan tradisi pesantren yang kuat. Ia kemudian nyantri di pesantren Sumolangu, asuhan Syekh Abdurrahman Sumolangu (ayahanda Kiai Mahfudh Sumolangu, Kebumen). Dari tempaan pesantren inilah, Kiai Subchi menjadi pribadi yang matang dalam ilmu agama hingga pergerakan kebangsaan.

Awal Pergerakan Kyai Subchi Melawan Kolonialisme

Pada masa Pemerintahan Hindia Belanda , Kyai Subchi menyaksikan langsung betapa menderitanya masyarakat Parakan, Kedu dan Temanggung. Hal ini, karena kondisi ekonomi sangat sulit dan politik pemerintah Hindia Belanda yang memeras rakyat dengan tanam paksa, maupun sistem kerja paksa. Pun saat Jepang menduduki Tanah Jawa, kembali ia harus menyaksikan penderitaan akibat kebijakan Romusha dari Pemerintah Jepang . Pemberlakukan Romusha menjadikan warga terlantar, hidup sengsara, lahan pertanian terbengkalai, hingga sebagian warga menderita busung lapar karena sulitnya memperoleh makanan.

Menyaksikan hal tersebut, tersulut nasionalisme di hati Kyai Subchi untuk melwan kolonialisme di Parakan dan sekitarnya dengan menyerukan kepada para pemuda untuk melebur dalam Barisan Keamanan rakyat (BKR). Warga Parakan yang tergabung dalam BKR sempat melakukan serangan terhadap sembilan bekas Tentara Jepang yang akan menuju Ngadirejo. Ketika melewati Parakan, pasukan Jepang diserbu oleh warga yang terkonsolidasi dalam BKR. Peristiwa penyerangan ini, dikenal sebagai Peristiwa Batuloyo.

IMG-20171109-WA0002

Pada masa kemerdekaan, Parakan Temanggung menjadi simpul pergerakan untuk melawan penjajah. Ketika Pemerintah Hindia Belanda berusaha menggunakan strategi pemisahan wilayah, berupa garis demarkasi Van Mook, warga Temanggung juga bergerak untuk melawan diskriminasi politik yang dilancarkan Hindia Belanda. Atas inisiatif Kyai Subchi maka pada 30 Oktober 1945, terbentuklah kelompok Perlawanan masyarakat Parakan dan Temanggung yang bernama Barisan Muslimin Temanggung (BMT).

Setelah adanya Barisan Muslimin Temanggung, operasi warga untuk melawan penjajah semakin gencar. Santri-santri yang tergabung dalam barisan ini, menjadi bertambah semangat dengan dukungan kiai, terutama Kiai Subchi Parakan. Beberapa kali, BMT berhasil menyerbu patroli militer Belanda yang lewat kawasan Parakan.

Untuk memompa semangat nasioanlisme para pejuang yang tergabung dalam BMT, Kyai subchi meminta semua para pemuda untuk mengumpulkan sebatang bambu yang dibuat runcing ujungnya sebagai alat atau senjata perlawanan. Senjata dari bambu yang bernama Cucukan inilah kelak yang oleh bangsa Indonesia dikenal sebagai Bambu Runcing.

Setelah adanya Barisan Muslimin Temanggung, operasi warga untuk melawan penjajah semakin gencar. Santri-santri yang tergabung dalam barisan ini, menjadi bertambah semangat dengan dukungan kiai, terutama Kiai Subchi Parakan. Beberapa kali, BMT berhasil menyerbu patroli militer Belanda yang lewat kawasan Parakan. Perjuangan heroik BMT dan dukungan Kiai Subchi tersebut mengundang simpatik dari jaringan pejuang santri dan militer. Hingga tokoh-tokoh perjuangan seperti Jendral Soedirman, Kiai Wahid Hasyim, Kiai Zaenal Arifin hingga Moehammad Roem sengaja datang ke Parakan untuk meminta petunjuk strategi perjuangan dari Kyai Subchi.

Dalam catatan Kyai Syaifuddin Zuhri, Kiai Subchi menjadi rujukan perjuangan askar-askar atau barisan depan revolusi kemerdekaan. Diantara barisan pejuang yang menjadikan Kyai Subchi sebagai rujukan dalam perjuangan adalah , adalah Hizbullah di bawah pimpinan KH Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan Kiai Masykur, Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia di bawah pimpinan Bung Tomo, Barisan Banteng di bawah pimpinan dr. Muwardi, Laskar Rakyat di bawah pimpinan Ir. Sakiman, Laskar Perindo di bawah pimpinan Krissubbanu dan masih banyak lagi.

Disisi lain, Kiai Subchi dikenal sebagai seorang yang murah hati, suka membantu warga sekitar yang kekurangan. Jiwa bisnisnya tumbuh seiring dengan kesuburan tanah di lereng Sindoro – Sumbing. Pertanian menjadi andalan, dengan pelbagai macam tanaman yang menjadi ladang pencaharian warga. Dari berbagai sumber mengatakan bahwa Kiai Subchi juga sering membagikan hasil pertanian, maupun menyumbangkan lahan kepada warga yang tidak memilikinya.

Namun ternyata perjuangan Kyai Subchi atas andilnya sebagai pejuang kemerdekaan tak berbanding lurus dengan penghargaan yang negara berikan kepadanya. Alih-alih menetapkan pencetus Bambu Runcing tersebut sebagai pahlawan nasional, bahkan makamnya saja seakan-akan terabaikan. Bahkan ketika Redaksi sengaja berziarah ke makam Kyai Subchi di pemakaman Islam Sekuncen ,Parakan,Kauman,Temanggung, hampir-hampir tak dapat menemukan pusara dari Pejuang besar NKRI tersebut.

Bagaimana kita akan menjadi bangsa yang besar ,sedangkan kita acuh terhadap para pahlawan ? padahal Bung Karno dengan jelas berpesan :”Jangan sekali-kali melupakan sejarah !”

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR