M Yamin dan Gerakan Mahasiswa 1980-an

Satu lagi tokoh gerakan mahasiswa 1980-an berpulang. Benar, kepergian Yamin pada akhir Maret lalu, terdengar sangat mendadak. Sampai beberapa hari sesudahnya, saya sendiri masih belum yakin benar, bahwa kawan kita Yamin, memang telah pergi untuk selamanya.

Begitulah bila waktu sudah berbicara. Yamin menyusul tokoh-tokoh gerakan mahasiswa 1980-an lain, yang lebih dahulu berpulang, antara lain Nuku Sulaiman (meninggal 2003), Bambang Harri (2008), Amir Daulay (2013), juga beberapa kawan lain, seperti Kacik (eks aktivis Surabaya) dan Didit (eks aktivis Malang). Mereka memang telah tiada, tapi sumbangsih mereka pada gerakan mahasiswa, niscaya akan selalu dikenang.

Yamin sendiri adalah tokoh gerakan mahasiswa dari Yogya. Mungkinkah ini sebuah kebenaran belaka, Yamin meninggal dalam perjalanan ke Yogya, tempat dia dibesarkan dulu sebagai aktivis gerakan mahasiswa dan gerakan sosial. Perjalanan “terakhir” Yamin tempo hari, juga dalam keperluan Yamin sebagai seorang aktivis, yakni selaku Ketua Umum Seknas Jokowi. Sekalian untuk menengok keluarganya, yang memang tinggal di Yogya.

Bermula dari Yogya

Dalam perjalanannya sebagai aktivis gerakan mahasiswa, Yamin menemukan lingkungan yang tepat: Kota Yogya yang selalu dinamis. Mulai sekitar tahun 1985 – bahkan mungkin sebelumnya- Yogya telah tumbuh menjadi sentral gerakan perlawanan terhadap rezim Soeharto. Bahkan ketika memasuki dawarsa 1990-an pun, kota ini tetap saja membara, ketika sekelompok mahasiswa Yogya memotori pendirian PRD dan SMID, organisasi yang paling redikal dalam melawan rezim Soeharto

Tidak bisa tidak, salah satu motor pergerakan Yogya adalah Kelompok (Komunitas) Rode, sejumlah mahasiswa UII yang tinggal pada sebuah rumah kontrakan, yang kebetulan terletak di Gang Rode, tak jauh dari kampus FH-UII. Yamin adalah bagian dari Komunitas Rode, bahkan salah satu pendirinya. Budiman Sujatmiko, yang saat itu masih tercatat sebagai pelajar SMA, juga sudah bergabung dalam kelompok ini.

Selain Komunitas Rode, ada beberapa kelompok yang sangat aktif di Yogya, seperti pers kampus UGM (M Toriq dkk), mahasiswa Filafat UGM (Weby, John Tobing dkk), IAIN Suka (Ahmad Suaedy dkk), ISI (Brotoseno dkk), UMY (Eko Dananjaya, Aam Sapulete, dkk), dan seterusnya

Saya masih ingat dengan baik, bila sedang berkumpul dengan teman-teman aktivis Yogya, kita bisa bebas mengekspresikan resistensi sikap perlawanan terhadap figur Soeharto. Kita dipersatukan oleh obsesi yang sama, yaitu menggulingkan rezim Soeharto. Dalam hal menentang rezim Soeharto, energi teman-teman Rode, dan Yogya pada umumnya seolah tak ada habis-habisnya.

Setiap singgah di Rode, selalu tidak lepas untuk “evaluasi” figur Soeharto. Dalam rumah yang sederhana, namun selalu hangat dan akrab, rasanya kita ringan-ringan saja mengungkapkan kritik tajam terhadap Soeharto. Mungkin ini semacam penyeimbang, mengingat yang mengagung-agungkan figur Soeharto jauh lebih banyak lagi. Ironisnya, salah satu pihak yang mengagung-agungkan Soeharto, adalah teman-teman segenerasi kami juga, namun dengan sikap politik yang sangat berseberangan, yakni mereka yang tergabung dalam KNPI, atau organisasi lain yang terafiliasi pada Golkar.

Bagi saya pribadi, salah satu yang menarik dari Rode adalah, meskipun rata-rata berlatar belakang HMI, namun ini bukan HMI yang biasa saya kenal. Selama ini HMI selalu dianggap “kanan”, selain karena label agama, juga karena citra HMI sejak dulu selalu dekat dengan kekuasaan. Sepanjang sejarahnya HMI selalu dijadikan kendaraan untuk mencapai kekuasaan. Hampir seluruh elite HMI saat itu, selanjutnya selalu berlabuh ke Golkar.

Sungguh, saya menemukan oase, sebuah HMI yang lain. Entah mereka belajar dari siapa, komitmen kerakyatan teman-teman Rode, sungguh luar biasa. Setahu saya mereka kurang dekat dengan Mas Didi Sutomo (Delanggu), atau Mas Imam Yudotomo, yang dianggap sebagai representasi kiri (baca: sosialis) di Jateng. Baru belakang mereka saling kenal, bahkan saya dengar salah seorang anak Mas Imam, kemudian juga bergabung di Rode. Dari wacana yang berkembang di Rode saat itu, tidak berlebihan kiranya kalau teman-teman di Rode, saya sebut sebagai sayap kiri HMI.

Seperti pengalaman pergerakan mahasiswa lainnya, pada generasi mana pun, baik yang sebelum atau sesudah kami, eksponen gerakan mahasiswa selalu terjadi lintas kampus (berarti lintas kota juga), yang memberi peluang adanya interaksi intensif di antara pelakunya. Pertemuan-pertemuan di masa pergerakan itu, banyak yang terus berlanjut hingga ke persahabatan abadi, seperti yang saya alami bersama Yamin.

Jaringan individu

Satu hal yang utama dalam memperjuangkan sebuah cita-cita, adalah pentingnya jaringan, agar cita-cita memiliki pijakan, tidak dipendam dalam kelompok sendiri yang sudah tentu terbatas kapasitasnya. Beruntung, karena di kota-kota lain sebenarnya sudah terdapat kantong-kantong perjuangan, dengan misi dan agenda yang sama. Cuma masalahnya, belum terbentuk sebuah jaringan di antara kantong-kantong tersebut.

Dalam upaya membangun jaringan di antara kantong-kantong tersebut, yang tersebar di berbagai kota, generasi 1980-an sangat terbantu dengan keberadaan moda transportasi kelas ekonomi, seperti bus antar kota dan kereta api. Rasanya kami berhutang budi dengan moda transportasi darat ini, karena menyediakan tiket yang murah, yang penting bagi kami sampai  tujuan, tidak berpikir soal fasilitas kenyamanan.

Yamin termasuk salah seorang aktivis yang paling sering melawat, biasanya bersama sahabat karibnya, Raziku (saat itu mahasiswa FE UII). Saya sendiri juga sering berpergian bersama Yamin, untuk menyambangi kantong-kantong pergerakan di kota lain, seperti Bandung dan Salatiga. Dalam sebuah pertemuan di Salatiga pula, di sebuah rumah kontrakan Stanley (kini Ketua Dewan Pers), pada seputar Desember 1988, dimatangkan rencana aksi guna membela rakyat korban pembangunan waduk Kedungombo.

Di masa itu, belum dikenal kemudahan teknologi komunikasi semacam HP dan email,  fasilitas komunikasi yang paling maju adalah telepon dan faksimili. Oleh karena itu, jaringan dibangun dengan benar-benar mengandalkan kekuatan fisik, artinya para aktivis harus rajin mengadakan perjalanan ke luar kota, menyambangi pos-pos gerakan mahasiswa di kota lain. Bila jaringan sudah terbentuk, tentu perlu dirawat, itu berarti sebuah perjalanan ke luar kota lagi.

Demikian juga bila akan mengadakan aksi bersama. Seingat saya, para aktivis masa itu, umumnya berlatar belakang keluarga sederhana, hingga memiliki pesawat telepon pribadi pun adalah sebuah kemewahan. Yang paling mungkin adalah pergi ke wartel atau ke telpon umum.

Pertanyaannya kini, seandainya di masa itu, telah dikenal HP atau fasilitas email, apakah generasi 1980-an menjadi lebih mudah dalam membangun jaringan, sehingga gerakannya akan memberi efek yang lebih dahsyat? Tidak ada jaminan tentang hal itu, saya tidak berani berandai-andai. Mungkin memang seperti itulah penanda zaman kami dulu, bahwa ketiadaan fasilitas HP dan email, bukanlah hambatan untuk terus bergerak. Akhirnya pilihannya kembali lagi dengan melakukan perjalanan darat, jadi lagi-lagi medianya adalah pertemuan “fisik” atau bertemu secara langsung dengan aktivis dari kota lain.

Dalam membangun jaringan, harus diakui Generasi 1980-an lebih sulit dari generasi sebelumnya, disebabkan tiadanya organisasi seperti Dewan Mahasiswa. Oleh karenanya dalam membangun jaringan, sangat mengandalkan pada rasa saling percaya dan persahabatan di antara para simpul gerakan, yang kebetulan beberapa nama di antaranya sudah berpulang: Yamin (Yogya), Bambang Harri (Bandung), dan Amir Daulay (Jakarta)

Papasan di Senayan

Sejak awal tahun 1998, gelombang demonstrasi mahasiswa demikian dahsyatnya, hingga berujung dengan mundurnya Soeharto pada 21 Mei 1998. Dengan tumbangnya Soeharto, sebagian besar mantan aktivis generasi 1980-an, tentu ikut lega, karena memang begitulah cita-cita kami dahulu, dengan  alasan itu pula, kami dulu berjuang.

Tentu saja kami sadar, yang paling berjasa dalam menumbangkan Soeharto adalah generasi 1990-an (khususnya Angkatan 98). Bila ada generasi 1980-an yang masih ikut “turun” saat itu,  peran mereka lebih sebagai relawan untuk penyiapan logistik, bukan lagi berperan aktif seperti dulu. Sesuatu yang wajar bila Angkatan 98 memperoleh kehormatan itu, mengingat ada sebagian dari mereka yang gugur.

Bagi sebagian aktivis 1980-an, bisa jadi tugas besar telah selesai, ketika Soeharto jatuh dari singasananya. Pada fase selanjutnya, menjadi pilihan masing-masing untuk melanjutkan kehidupannya. Demikian juga yang terjadi pada Yamin, saat itu saya mendengar Yamin terjun di politik, dengan bergabung ke PDIP, dan maju sebagai calon anggota DPR, melalui Pemilu 1999.

Cerita selanjutnya, saya kira kita semua sudah tahu: Yamin akhirnya bisa duduk sebagai anggota DPR di Senayan. Ketika dulu sering aksi di halaman Gedung DPR, tak terlintas sedikit pun pada benak kita, bahwa kelak suatu hari nanti, ada teman yang akan menjadi anggota DPR. Begitulah yang terjadi pada Yamin, jalan hidup manusia memang tidak bisa diramalkan.

Bila sedang berada di angkutan umum, yang kebetulan melintas di Jalan Gatot Subroto, saya sering teringat pada Yamin. “Kini kawanku Yamin ada di dalam gedung itu (DPR),” kira-kira seperti itulah suara hati saya.

Hingga pada suatu pagi (tahun 2000), sekitar jam 9 atau 10, saat sedang berjalan menyusuri trotoar depan Taman Ria Remaja Senayan (samping Gedung DPR), tiba-tiba terdengar ada orang memanggil namaku: aris…aris. Saya spontan berhenti, mencari asal suara itu. Ternyata orang itu memanggil dari dalam mobil, yang jalannya diperlambat, dan mobil itu pun menepi. Saya masih ingat dengan baik merk mobil itu, yakni BMW (sedan tipe kecil), dan berwarna pink.

Saya mendekati mobil itu, dan orang yang memanggilku juga turun. Ya Tuhan, ternyata sosok yang selama ini sudah saya kenal dengan baik. Ternyata yang memanggil tadi adalah Yamin, seorang kawan lama, yang hampir tiga tahun tidak jumpa. Kami saling berangkulan dan jabat erat. Bisa dibayangkan betapa kontrasnya penampilan kami. Yamin dengan kemeja rapih, layaknya seorang anggota parlemen. Sementara saya masih seperti dulu, hanya memakai kaos, celana jins, dan sandal kulit.

Memang penampilan sedikit berbeda, tetapi kehangatan persahabatan kami sama sekali tidak berubah. Setelah pertemuan itu, Yamin sempat mengundang untuk sebuah reuni kecil-kecilan aktivis generasi 1980-an, di rumah dinasnya di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan.

Mengingat kesibukan masing-masing, kami tidak bisa sering-sering jumpa. Paling hanya saling menyapa lewat telepon. Saat itu saya adalah staf rendahan (clerk) di Komunitas Utan Kayu, sebuah lembaga mirip-mirip NGO, saya sendiri bertugas di bidang penerbitan. Sementara Yamin tetap di jalur politik, dan saya juga mendengar, kalau dia sempat maju dalam pilkada (bupati) di Sumsel tahun 2005.

Pertemuan yang cukup intensif kembali tejadi pada 2008, saat sahabat kami Bambang Harri meninggal dunia. Yamin termasuk yang sangat kehilangan dengan kepergian Bambang Harri, mengingat komunitas Rode, awalnya juga terinspirasi dari keberadaan komunitas Pojok Dago (Bandung), dengan Bambang Harri sebagai tokohnya.

Yamin sempat mengadakan acara mengenang Bambang Harri di rumahnya di Yogya, dan juga ikut mendorong penerbitan buku kenangan tentang Harri. Waktu terus berjalan, kini giliran saya yang merasa kehilangan Yamin, dan berusaha menerbitkan buku kenangan tentang Yamin, sebagai penawar kesedihan.

 

Penulis: Aris Santoso, aktivis 80-an sahabat almarhum M Yamin

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR