Malari Selalu Menjadi Inspirasi Gerakan Mahasiswa

Hariman Siregar saat peringatan Malari di Yogyakarta (foto dokumen)

Setiap tanggal 15 Januari selalu ada kegiatan mengenang Peristiwa Malari, sebuah gerakan mahasiswa skala besar yang terjadi pada Janari 1974. Beda dengan gerakan mahasiswa lain, seperti aksi mahasiswa yang digalang Generasi 78 atau generasi 1980-an, yang hanya dikenang secara personal oleh para eksponennya, jadi sangat terbatas.

Setidaknya ada dua alasan, mengapa selalu ada kegiatan mengenang Malari setiap tahun. Pertama, nilai historis dari peristiwa tersebut, itulah aksi masif pertama menentang rezim Soeharto, yang belum genap satu dekade berkuasa. Kedua, adanya figur yang kuat, yakni Hariman Siregar, yang selalu menjadi idola aktivis gerakan mahasiswa dari generasi ke generasi.

Salah satu pihak yang masih rutin mengadakan peringatan, adalah komunitas mantan aktivis mahasiswa, dengan Hariman Siregar sebagai figur sentralnya. Untuk melestarikan spirit Malari, Hariman mendirikan lembaga bernama Indemo (Indonesia Democracy Monitoring) pada 15 Januari 2000, alias tepat pada tanggal kerusuhan Malari.

Bisa jadi Hariman terinspirasi oleh Ali Moertopo, yang pada 1971 mendirikan lembaga yang masih eksis sampai sekarang: CSIS. Meski telah meninggal pada Mei 1984, sosok Ali Moertopo abadi lewat CSIS. Setidaknya setiap lima tahun sekali selalu diadakan seminar atau sarasehan mengenang kepergian Ali Moertopo. Pada momen seperti itulah, nama Ali kembali berkumandang, sehingga selalu ada ruang bagi para pengagumnya untuk memuliakan namanya.

Menurut salah seorang fungsionaris Indemo, yang juga dikenal sebagai penyair, Bambang Isti Nugroho, semangat Malari akan selalu aktual, bahkan jauh hari pasca-Reformasi 1998. “Semangat meneguhkan demokrasi dan mewujudkan keadilan sosial masih terus bergelora di jejaringi kaum prodemokrasi Indonesia. Pasca reformasi 1998, berbagai problematika kebangsaan seperti liberalisme, disintegrasi sosial, hingga masalah pemenuhan hak sosial ekonomi masyarakat, terus berkelindan dan belum mampu diakomodir oleh negara sebagai perwujudan kedaulatan rakyat,” menurut Isti baru-baru ini.

Lazimnya banyak peristiwa besar lainnya, ada banyak lapisan dalam Peristiwa Malari. Pada lapisan pertama (permukaan), Malari adalah sebuah aksi mahasiswa berskala besar yang acapkali dianggap sebagai rintisan gerakan kaum muda dalam menentang rezim Soeharto. Sebagai sebuah gerakan mahasiswa, Malari memunculkan seorang tokoh legendaris, yaitu Hariman Siregar, yang menjadi inspirasi bagi aktivis gerakan mahasiswa generasi berikutnya.

Hariman Siregar sendiri adalah pribadi yang unik, artinya orang dengan nama sebesar dia, Hariman tetap bisa menjaga jarak dengan kekuasaan. Kemampuannya menjaga jarak dengan kekuasaan, menjadikan dirinya figur independen, dan selalu bebas menyampaikan kritik pada penguasa, pada rezim apa pun.

Salah satu nasihat yang penting untuk diingat bagi aktivis pada umumnya adalah soal kejelasan soal nafkah, sehingga tidak menjadikan aktivis bergantung pada pihak lain, khususnya pada penguasa. Hariman memberikan contoh dirinya, sebagai seorang dokter, dan memiliki klinik, meski tidak terlampau besar, namun cukup sebagai nafkah keluarga.

Tampaknya Hariman prihatin dengan nasib aktivis pada umumnya, yang mungkin karena terlalu bersemangat, beberapa di antaranya tidak sempat menyelesaikan studinya, sehingga sulit dalam mencari nafkah, ketika masanya sebagai aktivis sudah usai. Nasihat Hariman tersebut bisa dijadikan pegangan bagi aktivis gerakan mahasiswa generasi berikut.

Dalam konfigurasi militer di Tanah Air, tidak selamanya Malari membawa kemuraman. Malari telah membawa berkah tersendiri dengan munculnya tokoh generasi baru TNI, yang sebelumnya (mungkin) sama sekali tidak diperhitungkan, yaitu Benny Moerdani. Meski usianya sedikit di bawah rata-rata lulusan MA Yogya, Benny masih bisa dimasukkan ke dalam kategori Generasi 45. Pasca-Malari, Soeharto melakukan penataan ulang lembaga intelijen, termasuk unsur pimpinannya. Dalam konteks ini Benny—yang saat itu menjalankan tugas diplomatik di Seoul—dipanggil ke Jakarta.

Hampir semua peristiwa besar di Tanah Air tidak bisa dipisahkan dari konflik internal militer, demikian bunyi sebuah adagium. Peristiwa Malari adalah salah satunya. Berdasarkan pengetahuan selama ini, Peristiwa Malari dipicu rivalitas antara Jenderal Soemitro (Pangkopkamtib/Wapangab) versus Mayjen Ali Moertopo (Aspri Presiden merangkap Deputi Kepala Bakin). Rivalitas di antara kedua belah pihak sudah berlarut-larut dan memperkeruh situasi politik di Jakarta. Keduanya akhirnya disingkirkan juga oleh Soeharto.

Jalan sejarah atau jalan hidup seseorang acapkali tidak bisa diduga. Demikian pula karier Benny, yang bermula dari seorang perwira yang selalu berdinas di bidang intelijen dan berakhir sebagai Pangab (1983-1988). Sungguh fenomenal dan mungkin akan sangat sulit terulang di masa depan. Sebelum gambarnya muncul di media saat dilantik sebagai Pangab pada Maret 1983, terakhir kali Benny muncul di media massa saat memperoleh Bintang Sakti dari Presiden Sukarno pada 1963. Praktis dalam rentang waktu 20 tahun, hanya dua kali wajah Benny muncul di media cetak dan elektronik. Ia memang perwira intelijen sejati.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR