Mantan Presiden Habibie, Terapi ‘Buku Cinta’ dan ‘Opera Ainun’

Habibie menjawab pertanyaan wartawan, seputar Opera Ainun di TIM

Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie (81 thn), Presiden diawal reformasi ini, tak bisa membendung air matanya, saat menyaksikan ‘Opera Ainun’ yang dihelat oleh PT Opera Ainun Inc, anak perusahaan dari Perkumpulan Lima Dimensi. Perhelatan dilakukan di Teater┬áJakarta, Taman Ismail Marzuki oleh, pada Hari Kamis (25/05), bertepatan dengan Peringatan Kenaikan Isa Almasih.

“Saya emosionil, saya tidak bisa menyembunyikan air mata dan rasa haru yang amat dalam. Karena hari ini, 7 tahun 3 hari, Ibu Ainun wafat, meninggalkan saya dan anak-anak serta cucu-cucu, serta menyisakan kenangan yang tak terlupakan selamanya,” ungkap ahli pesawat terbang ini, usai menyaksikan Preview ‘Opera Ainun’ yang di Sutradarai Ari Tulang bersama musisi Purwacaraka yang menata sejumlah komposisi dalam nuansa orkestrasi yang mengesankan.

Gagasan membuat ‘Opera Ainun’, sesungguhnya berasal dari pembaca novel asal German, yang ditulis Habibie tentang kehidupannya dan kisah asmaranya bersama istrinya, Almarhumah Ainun, Novel yang bertajuk “Untung Ada Tuhan”, menjadi best seller di German itu, berkisah tentang Ainun dimata Habibie. dimulai saat usia keduanya masih belasan tahun. Kemudian menikah. Lalu melanjutkan studi ke German. Kembali ke tanah air, menjadi wapres, presiden. Hingga akhirnya, ajal menjemput istri tercinta. Dan Habibie, mengalami depresi yang berkepanjangan sepeninggal Ainun.

“Ini seperti titik temu antara kisah cinta Rome and Juliet dengan kisah asamara Laela and Majenun. Kedua kisah tersebut adalah cerita legenda yang ditulis ribuan tahun silam. Ada gap horizontal dalam kisah Romeo and Juliet, serta gap vertical antara Laela and Majenun. Sementara kisah saya dan Ibu Ainun, adalah true story, tanpa gap. Tapi merupakan titik temu tentang cinta sejati,” urai Habibie panjang lebar, untuk melukiskan pengalaman hidup dan kisah cintanya nan romantis.

Pemeran Opera Ainun: Farman Purnama dan Andrea Miranda (Budi Ace Indeksberita)Pemeran Opera Ainun: Farman Purnama dan Andrea Miranda (Budi Ace Indeksberita)

Diakuinya, bahwa menulis buku adalah anjuran dari dokter yang menangani kondisi depresi Habibie sepeninggal Ainun. Ada 4 opsi yang diberikan dokter padanya, yaitu: melupakan sama sekali tentang Ainun, meminum obat penenang anti depresi, pasrah menghadapinya atau menulis buku tentang Ainun. Habibie pun memilih menulis novel.

“Jika menulis buku bisa menenangkan hati saya, maka Opera Ainun yang dibuat oleh para seniman hebat Indonesia ini membuktikan bahwa Cinta Sejati tak kan terpisahkan, bahkan oleh maut sekalipun. Buktinya hari ini, saya masih merasakan kehadiran Ibu Ainun dalam diri saya, meskipun almarhumah telah berada dalam dimensi lain,” ulas Habibie, yang mengatakan bahwa menulis buku adalah kegiatan ‘hi-touch’, berbeda dengan menulis rumus-rumus membuat pesawat, merupakan kegiatan ‘hi-tech’.

Menurut Habibie, tadinya Opera Ainun ditawarkan akan dimainkan oleh seniman di German, tapi ia menolaknya dengan halus. Kemudian, ia memilih seniman Indonesia saja, yang dianggapnya jauh lebih cocok untuk mengemasnya. Kurang lebih, sama seperti penggarapan film Habibie. Karena ini tentang kisah cinta dengan adat dan adab ketimuran, tentang sepasang kekasih dengan latar belakang etnis dan budaya Indonesia.

Sementara itu, Purwacaraka yang dipercaya untuk menggarap Opera Ainun ini, mengemukakan kerja kerasnya dalam menyiapkan garapan musikalnya, musikalisasi naskah dan menyiapkan scoring untuk menjaga dramaturgi opera tersebut. “Agar terlihat lebih hidup dan emosinya lebih dapat, kami harus memilih kisah-kisah asmara Om Rudy (sapaan akrab Habibie, Red) yang yang kuat dengan pemilihan musik yang tepat,” terang Purwacaraka, yang mengikuti perjalanan Habibie hingga ke German, untuk mendapatkan ide musikal yang menyatu dengan cerita.

Adegan romantisme, Habibie dan AinunAdegan romantisme, Habibie dan Ainun

Gagasan Opera yang muncul sejak setahun lalu , oleh Sutradara Ari Tulang, harus disiapkannya hanya dalam waktu lebih kurang seminggu untuk durasi 60 menit, lebih singkat dibanding pada pertunjukan utama, nantinya lebih kurang 150 menit.

“Saya baru masuk pada pertunjukan yang ke empat kalinya ini. Meski ini hanya preview sebelum pertunjukan utama yang lebih kolosal, namun saya menyiapkan dengan sepenuh hati agar pesan yang inspiratif ini juga sampai ke hati,” jelas Ari Tulang, yang, menjadikan preview ini sebagai medium untuk melihat kekuatan sekaligus kelemahan dari pertunjukannya, agar kelak pada pementasan di Amsterdam pada bulan Januari 2018, semuanya berjalan lancar dan sempurna, agar sejajar dengan opera berkelas dunia, seperti Aida, La Boheme, Hamlet dan Phantom of The Opera.

Dalam pertunjukan di Kota kota besar dunia nantinya, seperti di Amterdam, juga Paris, Wina dan Berlin, Ari Tulang mengemukakan akan ada perubahan setting dan blocking, yang disesuaikan dengan suasana asli dimana kisah asmara antara Habibir dan Ainun, tumbuh bersemi. Termasuk perubahan narasi dan dialog, yang skenarionya ditulis oleh Titien Wattimena, dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris.

BJ Habibie bersama Budi Ace (indeksberita) usai pertunjukan Opera AinunBJ Habibie bersama Budi Ace (indeksberita) usai pertunjukan Opera Ainun

Meskipun masih dalam sekala preview, namun pertunjukan Opera Ainun, terbilang sukses dan nyaris sempurna, dengan penampilan ekspresif dan mengagumkan dari Andrea Miranda sebagai Ainun yang bersuara Soprano dan Farman Purnama sebagai Habibirle dengan Tenor-nya.

Keduanya merasa sangat beruntung dan bangga diberi kepercayaan besar menyanyi sekaligus berakting layaknya Ainun dan Habibie.

“Tadi saya sangat terharu dan emosionil. Ini tantangan dan pengalaman yang luar biasa. Alhamdulillah edisi preview ini saya bisa melewatinya dengan baik. Mudah-mudahan pada pertunjukan utama nanti, akan lebih baik dan mendekati sempurna, ” imbuh Andrea penuh harapan, yang diamini Farman.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR