Marah Ketika Islam Dikaitkan Dengan Teroris Tapi Tak Marah Terhadap Kelompok Teroris Yang Mengatasnakan Islam

Penulis :Eddy Santry, wartawan, Aktivis dan Anggota Banser

Tindakan  kekerasan berupa aksi teror yang terjadi dalam pekan terahir secara beruntun mulai dari Bom Bunuh Diri di Manchester, serangan bersenjata di Marawi, Bom Bunuh Diri di Jakarta dan yang baru-baru terjadi, Bom Mobil di Afghanistan, bukan hanya aksi dari sebuah kebiadaban yang mengoyak sendi-sendi kemanusiaan yang adil dan beradab, namun juga sebuah penodaan terhadap indahnya kesucian bulan Ramadhan. Berjuta pernyataan duka mengalir dari berbagai belahan bumi untuk korban-korban keganasan aksi yang menewaskan puluhan orang itu dan tak ketinggalan disertai kecaman terhadap para pelaku dari aksi biadab tersebut.

Hal itu dapat dimaklumi, karena itu adalah fitrah dari manusia yakni untuk bersimpati dan berempati. Namun kita juga terhenyak bahkan sudah pasti juga tersentak marah ketika empati terhadap pelaku teror dinisbatkan pada agama tertentu yakni Islam. Dari hal terbut,penulis berusaha instropeksi dan bertanya pada hal-hal yang telah terjadi sehingga orang dengan  mudah melabelkan Islam dengan Teroris. Dan menurut saya, manusiawi juga jika ada pihak yang berfikiran demikian terhadap Islam belakangan ini, walau pemikiran  itu salah dan tidak adil.

Kita contoh saja, ketika seekor macan tutul memangsa hewan ternak, hal yang terlintas dalam fikiran dan spontan diaminkan oleh mulut kita, adalah harimau telah makan ternak. Kita tidak mau berfikir lebih lanjut bahwa ada ada macan kumbang, loreng dan lain sebagainya dalam species harimau itu.

Ketika sekelompok Burung Emprit memakan padi disawah, dalam framing kita pasti langsung terlontar perkataan burung memamakan padi. Kita tak mau tahu bahwa ada betet, kutilang, elang dan ribuan jenis lainya. Tapi karena yang memakan padi itu adalah hewan jenis burung, maka kita merasa tak bersalah dengan fikiran kita itu.

Begitupun pada kejadian manusia, ketika kelompok Ma Ba Tha mengatasnamakan agama Buddha melakukan tindakan intoleransi terhadap Umat Islam di Myanmar, karena yang melakukannya identik dengan agama Buddha, maka tanpa Tabayyun (cek & ricek) terlebih dahulu kita langsung menghakimi dengan fikiran dan ucapan bahwa Umat Buddha di Myanmar telah berlaku aniaya terhadap Muslim dari etnis Ronghya. Padahal mayoritas Umat Buddha sendiri sangat tdk sepakat dengan apa yang dilakukan oleh kelompok Ma Ba Tha tersebut. Dan sekali lagi,kita tak pernah merasa bersalah dengan fikiran dan penghakiman yang kita ucapkan.

Pun ketika ISIS dan kelompok teroris lainya melakukan kekejian, orang-orang diluar Islam spontan akan mengatakan bahwa Islam telah melakukan kekerasan. Mereka tidak mau berfikir lebih lanjut bahwa Islam juga melaknat apapun baik sikap dan perbuatan yang bernuansa kebiadaban. Tapi karena mereka melihat yang melakukan kekejian tersebut adalah individu atau kelompok yang beratribut Islam, maka hal yang pertama terlintas adalah, Islam telah melakukan tindakan terorisme.

Sikap diam terhadap kelompok radikal adalah pembelaan tersembunyi kepada terorisme 

Umat manapun pasti akan marah apabila agamanya dinisbatkan sebagai agama radikal apalagi sebagai agama teroris, tak terkecuali dengan Umat Islam. Tetapi ketidaksukaan terhadap presepsi publik yang mengatakan bahwa Islam adalah agama teroris hendaknya dapat kita bantah dengan tindakan konkrit sebagai pembuktian bahwa Islam adalah agama yang dapat menjadi rahmat buat alam semesta (rahmatan lil alamin).

Pertama tentunya adalah dimulai dari diri kita sendiri. Muhasabah (instropeksi) adalah jalan yang tak bisa dibantah untuk dilewati. Karena dengan instropeksi akan lahir sebuah evaluasi dan jawaban, apakah prilaku kita sudah sesuai dengan nafas-nafas Islami atau justru hanya menjadikan keagungan islam sebagai kedok pembenar dari nafsu dan kepentingan pribadi.

Dan kedua adalah instropeksi keluar. Selama ini kita sudah kehilangan sikap obyektif yang hanya mampu marah pada pihak-pihak yang mengatakan bahwa Islam sebagai Agama Teroris, tetapi kita tidak mampu untuk marah kepada individu dan kelompok-kelompok yang menjadikan kesucian dan simbol-simbol Islam sebagai atribut atau ciri khas dari kelompok tersebut.

Kita hanya mampu marah ketika orang lain mengkait-kaitkan ISIS dengan Islam tapi kita jangankan untuk marah, untuk mengecam ISIS yang menggunakan atribut Islam saja kita tidak berani. Kita hanya mampu menentang lewat ucapan bahwa Islam bukan radikal, tapi kita diam terhadap kelompok-kelompok yang menjadikan Islam sebagai kedok aksinya.

Atau justru kita tidak sadar, bahwa ketika kita keras bersuara menentang presepsi orang yang mengatakan Islam adalah teroris, tetapi diam terhadap kelompok-kelompok teroris yang menggunakan Islam sebagai atributnya, itu secara tak langsung kita tengah memberi semangat kepada kelompok-kelompok radikal tersebut untuk menjalankan aksinya.

Dalam arti lain, kita sedang membela secara sembunyi-sembunyi dari aksi-aksi biadab yang mereka lakukan. Teroris tersebut juga serasa mendapat semangat untuk aksi-aksi selanjutnya, karena yang mereka lakukan akan terus dibela dengan uacapan “Islam bukan Teroris”, tapi mereka serasa disetujui untuk terus menggunakan atribut dan simbol-simbol Islam.

Seharusnya, peristiwa ketika Nabi Muhammad (Rasulullah saw) bersabada “Apabila Putriku Fatimah terbukti mencuri, maka Demi Allah, Aku sendiri yang akan memotong tanganya”, dapat menjadi tuntunan kita bahwa menegakan keadilan dan kebenaran, harus dimulai dari diri kita sendiri. Dan yang lebih penting, pesan dari sabda Rasulullah SAW tersebut adalah, kita diwajibkan untuk bertindak tegas terhadap yang bersalah dan menyimpang,sekalipun itu adalah dari umat Islam sendiri.

Ketika Presiden Jokowi mengucapkan akan menggebuk kelompok atau ormas yang anti Pancasila, ada saja pihak-pihak yang masih mempersoalkan. Bagaimana jika sebagai seorang Muslim Joko Widodo mengatakan sebuah kebenaran dengan ucapan “Gebuk kelompok yang mengaku Islam tapi sikapnya tidak Islami” ?

 

Penulis :Eddy Santry, wartawan, Aktivis dan Anggota Banser

BAGIKAN

18 KOMENTAR

  1. Islam itu merangkul,bukan memukul. Tepat sekali apa yg dikatakan Pak Edy Santry ini, bahwa saat ini kita sdg dalam masa suram akibat sekelompok orang yg tega mengatasnamakan agama demi kepentingan kelompoknya.

  2. Elu kali yang nggak marah.. Banser kebanyakan ngomong. Kalian marah nggak waktu ada pembakaran masjid di Tolikara? Diem aja kan? Berarti kalian membenarkan dong pembakaran masjid tersebut? Trus gimana komentar banser tentang diundangnya para “teroris” pembakar masjid tersebut ke istana presiden? Diem aja kan? Jadi secara nggak langsung banser juga melakukan pembenaran dong. Uang dari orang-orang kafir yang kalian makan berbuah penyakit hati dan rusaknya aqidah kalian.

  3. Sebenarnya sudah banyak yg menentang mereka yg berbuat anarkis mengatasnamakan islam tapi selalu kalah dalam berdebat dan di intimidasi oleh mereka2 yg di kritik, di katakan tidak membela agamanya dsb.

  4. Yg sy heran, selama ini knp ndak ada yg berani untuk menyampaiakan hal spt ini. ? pdhl ini adlh realistin dan sgt haq untuk disampaikan. salut buat abang Edy yg sdh brani menyampaikan yg haq adlh haq , batil adlh batil.

  5. Tulisan yg bnr2 keren. sgt mudah dipahami, tdk njlimet dan sarat makna. mudah2an di Indonesia semakin banyak tokoh2 sprti ini.

  6. Pemikiran pak Eddy Santry ini sbnrnya mewakili suara2 kmi yg selama ini tdk kmi dpt keluarkan krna kebuntuan dan ketakutan .

  7. Tulisan ini menggambarkan isi hati dan pikiran sy slm ini, islam tdk bs disamakan dgn teroris walaupun para teroris itu sendiri mengaku islam, tp umat muslim jg jgn diam sj ketika trjadi aksi teroris hrs bereaksi dgn keras dan ikut melawannya trtm utk para ulama spy lgsg bereaksi ketika trjadi aksi teroris, dan yg utama bintang utama yg slm ini jd kontroversi yaitu fatwa mui dmn smua umat muslim mndorong spy mui mengeluarkan fatwa trkait ceramah2 : 1.ceramah radikali, 2.ceramah yg mengandung radisme 3.ceramah yg mghina/melecehkan pancadila dan uud’45 4.ceramah yg melecehkan/mghina agama org lain 5.cetamah yg mghina para pendiri bangsa ini 6.ceramah bhw jihad bom bunuh akan msk sorga dll

  8. Yg sy heran, knp ucapan spt ini justru muncul dari pemikiran seorang wartawan. apakah Polri ngga prna punya pemikiran spt ini? salut bwt Pak Eddy Santry.

  9. Semoga negeri ini akn banyak sosok-sosok yg bkn hanya berfikiran namun jg berani berbicara sprti Mas Eddy Santry ini. tegas,lugas dan welas asih.

  10. Teroris itu cuma sekian saja, tepatnya masih segitu saja, dan baru itu saja yang di lakukan
    Tapi kita tak sadar begitu banyak sel yang jika di indikasi sebagai teroris, mereka akan mengatakan dan selalu di benarkan oleh banyak pihak, bahwa mereka benar, dan bukan mereka atau yang seperti mereka yang sebenarnya teroris

  11. nah ini yg aq cari. muter2 nyari ucapan yg tepat,ahirnya nemu jg “Marah Ketika Islam Dikaitkan Dengan Teroris Tapi Tak Marah Terhadap Kelompok Teroris Yang Mengatasnakan Islam”

  12. iya jg seh. menentang org yg nyebut islam sbg teroris tp diem aj wkt kelompok teror pkai atribut islam. sm aj tuh dgn menyetujui islam digunakan oleh teroris.

  13. Memang bnr. kl kita hnya marah pd yg ngatain islam adlh teroris nmun kta tdk mau marah pd organ atau kelompok teroris yg mengatasnakan islam, berarti sm sj kita membenarkan mrka yg bilang islam adlh teroris.

Tinggalkan Balasan ke Retno Syalindri Batal membalas