Marthin Billa Ajak Generasi Milenial Perkuat Konsensus Nasional

Bulungan – Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR – RI) DR. Drs Marthin Billa menekankan bahwa ditengah lajunya perkembanggan zaman maka generasi muda sebagai pewaris negara harus tetap memegang jatidiri bangsa yang tegas dan teguh dalam ke – Indonesiaanya.

Hal tersebut disampaikan oleh pria yang akrab dipanggil MB tersebut didepan siswa – siswi pelajar STMKA Sajau, Bulungan, Kalimantan Utara (Kaltata) 26 November baru – baru ini. Menurutnya, saat ini bangsa Indonesia tengah diuji dengan berbagai persoalan yang apabila generasi muda tak waspada, tentu kerugian besar akan menimpa negara ini.

” Saya tekankan, bahwa negara lain tak mungkin melalukan agresi secara fisik. Tapi invansi dalam bentuk sosial, budaya dan ideologi yang tak sejalan dengan ideologi bangsa kita, sangat jauh berbahaya dari perang senjata,” tegasnya

Masifnya penyebaran berita palsu ( hoax ), propaganda yang mengandung fitnah hingga ujaran kebencian yang saat ini begitu fulgar dalam penyampaianya terutama di media sosial menurut MB adalah bagian dari skenario pihak – pihak lain yang menginginkan adanya perpecahan di Indonesia.

Apalagi, lanjut MB, saat ini media sosial bagaikan kebutuhan pokok masyarakat ya ng sebagian besar penggunanya adalah generasi muda (milenial) . Sehingga apabila kaum milenial tak bijak dalam menanggapi pemberitaan serta segala unggahan di media sosial, tak arif dalam menyampaikanya dan lebih parah lagi turut menyebarkan sebuah informasi yang tak jelas sumbernya; maka sama saja kaum milenial telah mengantar negaranya menuju keterpurukan.

” Kaum nilenial adalah generator negara ini dalam memperteguh peradabanya. Jangan sampai justru malah turut serta menjadi penyebab keterpurukan negaranya,” tandasnya.

Pria yang juga pernah mengantar Malinau menjadi Kabupaten dengan perkembangan pesat saat ia memimpin daerah itu mengingatkan bahwa segala propaganda yang menjurus perpecahan tersebut tak akan mampu menghancurkan keutuhan bangsa apabila semua pihak terutama kaum milenial berpegang pada falsafah bangsa yakni Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945.

” Empat pilar kebangsaan itu adalah warisan para pendiri bangsa yang telah menjadi konsensus nasional. Kalau dulu dipakai untuk mendirikan negara, maka kita juga wajib memakainya untuk mengisi kemerdekaan dalam mewujudkan peradaban,” tuturnya.

Sehingga Marthin meminta agar keempat pilar kebangsaan tersebut bukan hanya sekedar menjadi bahan seminar maupun hanya memjadi pembahasan semata, namun semua pihak dituntut untuk menjadikanya sebagai pegangan. Masih utuhnya kesatuan bangsa hingga saat ini, imbuh MB, karena adanya empat pilar kebangsaan tersebut.

” Jika ada sebuah negara yang terdiri dari beribu pulau dengan beribu suku dan berbagai agama hidup rukun menjadi satu, maka itu hanya akan ditemui di Indonesia. Dan itu terwujud karena kita masih teguh memegang empat pilar kebangsaan sebagai pedoman laku sehari – hari ” tegas MB.

Dalam acara yang juga dihadiri tokoh masyarakat Kalimantan Utara seperti Djalung Merang, Iwan Bambang dan aktivis serta tokoh muda perbatasan Mikael Pai tersebut Marthin juga menyinggung tentang paham berbau radikalisme yang saat ini merebak adalah salah satu ancaman keutuhan bangsa. Namun dengan tegas Marthin menolak anggapan yang mengkaitkan paham radikalisme dengan agama manapun.

” Menurut saya semua agama pasti mengajarkan kebaikan, cinta kasih dan kedamaian. Kalau ada yang melenceng dari itu, berarti bukan agamanya yang salah tapi orangnya,” pungkas Marthin.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR