Mayjen Pranoto, Soekarnois Bernasib Malang

Foto Sampul Buku Biografi Pranoto Reksosamodro (Istimewa)

Peristiwa 1965 sungguh seperti badai, dia bisa menyambar siapa saja, tanpa pandang bulu, bahkan seorang jenderal pun bisa kena imbasannya. Bila yang menjadi korban adalah rakyat jelata kita sudah biasa mendengarnya, namun kali ini adalah seorang jenderal (bintang dua), yakni Mayjen Pranoto Reksosamodro.

Penerbit Kompas beberapa waktu lalu, baru saja menerbitkan biografi Mayjen Pranoto, seorang perwira tinggi yang bernasib tragis, bisa diibaratkan sebagai from hero to zero. Kita akan kembali ingat pada kalimat klise namun masih bermakna: manusia boleh berencana, namun Tuhan jua yang menentukan.

Mendampingi Soeharto

Pranoto sejak awal bertugas di jajaran Kodam IV/Diponegoro, jadi Pranoto sama-sama bagian dari Rumpun Diponegoro, seperti Gatot Soebroto, Bambang Sugeng, Ahmad Yani, Soeharto, Sarwo Edhi, dan seterusnya. Kariernya mengalir lancar, hingga sempat menjadi orang nomor satu di Kodam Diponegoro. Setelah menjadi Pangdam Diponegoro, Pranoto ditarik ke Jakarta, oleh KSAD Letjen Ahmad Yani, yang baru saja dilantik pada Juni 1962, menggantikan Jenderal AH Nasution. Oleh Ahmad Yani, Pranoto dipercaya sebagai Asisten III/Personalia KSAD, adapun jabatan KSAD saat itu disebut sebagai Menteri/Panglima AD.

Namun prahara peristiwa G30S mengubah semuanya. Pranoto harus menerima kenyataan, kariernya sebagai jenderal kandas. Pranoto sendiri tidak paham sepenuhnya mengapa Jenderal Soeharto, yang baru saja berkuasa, dan notabene adalah koleganya sejak di Kodam Diponegoro, memecatnya dan kemudian mengirim Pranoto ke RTM (rumah tahanan militer) Budi Utomo (Jakarta Pusat). Kemudian sempat juga dipindahkan ke Inrehab Nirbaya, di daerah Pondok Gede, Jakarta Timur, ini sebetulnya penjara juga, hanya sedikit lebih manusiawi, karena berbentuk paviliun, mengingat penghuninya umumnya adalah mantan perwira tinggi.

Satu hal perlu dicatat, selama Soeharto dan Pranoto masih sama-sama bertugas di Kodam Diponegoro, yang menggantikan posisi Soeharto selalu Pranoto. Sejak menjadi komandan resimen di Salatiga, komandan resimen di Solo, Kasdam sampai menjadi Panglima Kodam di Semarang, keduanya selalu beriringan, Seolah Pranoto merupakan alter ego bagi Soeharto. Namun saat di Semarang itulah, hubungan keduanya mulai renggang.

Salah satu faktor penyebabnya, saat menjadi Panglima di Semarang, Soeharto sudah mulai coba-coba terjun di dunia bisnis, tanpa sepengetahuan Pranoto. Atau mungkin Soeharto sengaja tidak melibatkan Pranoto, meskipun Pranoto adalah orang kedua di Markas Kodam, selaku Kepala Staf. Terlebih saat menjabat Kepala Staf, Pranoto sedang memperoleh tugas belajar di seskoad (Bandung), jadi tidak bisa hadir setiap hari di Markas TT IV (Kodam IV).

Jenderal Soekarnois

Dalam peralihan kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto pada tahun-tahun 1965-1966, memang diwarnai banyak nama jenderal. Maksudnya, Soeharto dalam meretas jalan menuju kekuasaan membawa gerbong berisi jenderal-jenderal yang setia padanya,  yang kemudian menjadi penyangga pemerintahannya. Pada umumnya para jenderal yang muncul dadakan ini, berkumpul di sekitar Istana dan Golkar, parpol instan bentukan rezim Soeharto.

Namun di sisi lain, Soeharto juga menyingkirkan sejumlah perwira tinggi, yang sekiranya dianggap tidak masuk dalam lingkarannya. Bila kita perhatikan, perwira tinggi yang disingkirkan Soeharto, sebenarnya bukan perwira sembarangan, seperti Pranoto tersebut. Dari TNI AD, selain Pranoto, ada nama Mayjen U Rukman (mantang Pangdam Cenderawasih awal 1960-an), Mayjen Moersjid (mantan Deputi Operasi Men/Pangad pada masa Ahmad Yani), Brigjen Soehario (Hario Kecik, mantan Pangdam Mulawarwan di Kaltim), dan lain-lain.

Ketiga nama yang disebut terakhir, di masa mudanya dikenal sebagai jago perang. Moersjid misalnya, meski sudah menyandang pangkat Brigjen masih menyempatkan diri terjung langsung dalam Operasi Laut Aru (Januari 1962), yang sangat terkenal itu, dimana dalam peristiwa ini telah gugur Komodor Jos Sudarso. Demikian juga dengan Rukman, salah satu ikon dari Divisi Siliwangi saat perang kemerdekaan. Sementara Hario Kecik (meninggal 2013), jagoan perang di palagan Jawa Timur, khususnya pertempuran 10 November 1945.

Satu hal yang masih kurang dipahami sampai sekarang, mengapa Soeharto bisa begitu mudahnya membuang figur-figur hebat seperti itu? Mungkinkah Soeharto tidak ingin bila ada jenderal lain yang menyaingi dirinya? Tidak terlalu jelas. Karena pada sesi berikutnya, penyingkiran masih terus berlanjut, seperti AH Nasution (mantan KSAD), Ibrahim Ajie (Pangdam Siliwangi), HR Dharsono (Pak Ton, Pangdam Siliwangi), M Jassin (mantan Deputi KSAD), dan seterusnya.

Bagi Pranoto sendiri, dia sendiri merasa hanya setia pada figur Soekarno, termasuk juga perwira lain seperti Moersjid atau Rukman. Kalau kemudian mereka dianggap memiliki keterlibatan dalam peristiwa G30S, memang sulit diterima nalar, baik oleh yang bersangkutan maupun masyarakat awam.

Bisa jadi ini adalah bagian dari tragedi kehidupan. Bagaimana tidak, orang dengan susah payah meniti karier, dari perwira pertama sampai menjadi jenderal. Setelah menjadi jenderal malah “dibuang”, bukan dimanfaatkan tenaga dan pikirannya. Sungguh kesia-siaan yang tak berujung.

 

Aris Santoso, sejak lama dikenal sebagai pengamat militer, khususnya TNI AD. Kini bekerja sebagai editor buku paruh waktu.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR