MEA: MALAIKAT ATAU MONSTER?

Jakarta – Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) jadi salah satu penanda terpenting proses pergantian tahun kali ini. Setelah lama jadi wacana di berbagai forum diplomatik dan ilmiah, MEA pada akhirnya berlaku sejak 31 Desember 2015 ini.

MEA bertujuan agar daya saing negara-negara ASEAN meningkat serta dapat menyaingi Negara-negara maju dan kawasan ekonomi lain seperti Uni Eropa yang sudah lebih dulu dibentuk dan berjalan. Sesuai namanya, MEA meliputi sepuluh negara ASEAN terdiri dari Brunei Darussalam, Filipina, Malaysia, Thailand, Cambodia, Laos, Myanmar, Singapore, Vietnam, dan Indonesia.

Bermula sejak kesepakatan “ASEAN VISION 2020”, tentang penciptaan Kawasan Ekonomi ASEAN yang makmur, percepatan liberalisasi perdagangan, dan peningkatan pergerakan tenaga profesional pada Konferensi Tingkat Tinggi  ASEAN tahun 1997, waktu pelaksanaan integrasi ekonomi yang semula pada 2020 akhirnya dipercepat dan disepakati menjadi tahun 2015 melalui Bali Concord II tahun 2003.

Cetak biru MEA akhirnya ditetapkan di Kuala Lumpur-Malaysia pada 2006. Ada empat pilar utama dalam cetak biru MEA. Pertama, ASEAN sebagai pasar tunggal dan basis produksi internasional. Kedua, ASEAN sebagai kawasan dengan daya saing tinggi. Ketiga, ASEAN sebagai kawasan pengembangan ekonomi usaha kecil dan menengah. Dan keempat, ASEAN sebagai kawasan terintegrasi dan terkoneksi secara global. Dalam mekanismenya, berlaku prinsip pasar terbuka dan ekonomi pasar. Dengan kata lain, konsekuensi pemberlakuan  MEA adalah liberalisasi perdagangan barang, jasa, modal, dan tenaga terampil secara bebas dan tanpa hambatan tarif dan nontarif.

4 Pilar MEA

Potensi ASEAN

Meliputi 10 negara dengan penduduk mencapai 517.241.132 juta (IMF, 2012) yang setara dengan 8%

dari jumlah penduduk dunia, ASEAN merupakan kawasan pasar terbesar ke-3 di dunia. Dari waktu ke waktu negara-negara ASEAN juga mencatat pertumbuhan ekonomi yang cukup bagus di kisaran 5% – 6% per tahun dan diproyeksi stabil pada beberapa tahun mendatang.

Potensi ASEAN

Sementara itu World Economic Outlook (April 2015) mencatat angka pertumbuhan 2015 dan proyeksi hingga 2017 pada sejumlah negara utama Asia Pasifik.

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Negara Asia Pasifik (%)

Sumber: World Economic Outlook, April 2015
Sumber: World Economic Outlook, April 2015

Tantangan

Berkaca pada Uni-Eropa, tantangan dalam penyatuan ekonomi kawasan adalah penyamaan standar perekonomian. Tujuannya agar perdagangan antar wilayah relatif stabil. Salah satu standar itu adalah penggunaan mata uang tunggal. Meski begitu ketakseimbangan ekonomi antar wilayah di Eropa masih tetap terjadi. Sejumlah negara seperti Yunani, Portugal, dan Spanyol yang sangat mengandalkan sektor jasa justru malah terpuruk. Sebaliknya bagi yang berbasis industri, bermodal kuat, dan memiliki tenaga kerja terampil seperti Jerman, Belanda, Belgia, Uni Eropa justru memberi nilai lebih pada perekonomiannya. Skenario serupa, apakah MEA jadi malaikat atau monster bagi negara-negara Asia Tenggara? (np).

BAGIKAN

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR