Media Sosial Menjadi Sarana Penyebaran Ideologi Terorisme yang Paling Mudah

Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian, mengikuti rapat dengan Komisi III DPR (22/2/2017). FOTO: INDRA KUSUMA

Mudahnya masyarakat mengakses internet dan menjamurnya aplikasi media sosial, menjadikan media sosial sebagai salah satu kebutuhan masyarakat. Hal tersebut kemudian dimanfaatkan oleh para teroris, yang menjadikan media sosial sebagai sebagai sarana penyebaran ideologi terorisme.

Kecenderungan para pengguna media sosial yang cepat mempercayai pemberitaan tanpa cek- ricek dan lansung mengshare (membagikan) pemberitaan tersebut, adalah salah satu potensi empuk bagi pihak-pihak yang bertujuan negatif dalam melancarkan aksinya.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan salah satu pihak yang memanfaatkan hal tersebut adalah kelompok teroris. Tito menjelaskan, selain kelompok teroris merasa bebas menyebarkan ajaran dan ideologinya karena berlindung di balik payung demokrasi, mereka juga serasa mendapat angin untuk menyebarkan faham-fahamnya melalui jejaring internet terutama media sosial.

“Selain mengambil kesempatan kebebasan karena demokrasi, ideologi (terorisme) ini karena adanya kemajuan pengetahuan sosial teknologi informasi,” ungkap Tito, di Mabes Polri,Jakarta, Selasa (4/6/2018).

Tito ungkapkan bukti betapa media sosial menjadi hal yang paling gampang dan paling digemari oleh pihak-pihak yang yg mendukung terorisme. Dua wanita yang mencoba menyerang Mako Brimob beberapa waktu lalu adalah orang yang hanya belajat aksi teror lewat internet.

Menurut Tito, kedua wanita tersebut justru mendapatkan pemahaman ideologi terorisme melalui media sosial yakni aplikasi telegram. Bahkan menurut Tito,keduanya dibaiat melalui internet (vodeo call) dan bukan pembaiatan secara langsung.

Kelebihan internet atau dunia cyber yang borderless (tanpa batas), urai Tito, juga membuat jejak para teroris dan penyebar ajarannya tak terlihat, sehingga membuat mereka tak perlu lagi bergerak ke wilayah.

“Melalui media sosial, ajaran mereka bisa masuk di semua kalangan tak mengenal profesi dan latar belakang. Karena memang saat ini media sosial bisa diakses semua kalangan,” paparnya.

Untuk itu Tito berpesan agar masyarakat bijak dalam menggunakan media sosial. Melakukan cek ricek terhadap sebuah pemberitaan sebelum mempercayai apalagi menyebarkan berita tersebut adalah cara arif untuk mencegah ajaran-ajaran yang kontra Pancasila dapat berkembang. Tito juga meminta masyarakat untuk mencerna setiap informasi dan ajakan-ajakan yang dapat mengantar masuk pada ideologi terorisme.

“Gunakan juga kesempatan untuk menanyakan sesuatu yang didapat di media sosial kepada tokoh-tokoh lain untuk mendapatkan alternative. Jangan mencerna begitu saja informasi yang ujungnya mengajak aksi kekerasan apalagi membunuh masyarakat lainnya,” pungkas Tito.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR