Mencermati Situasi Jelang Pilkada Jawa Timur

Bagi yang sempat ke Jawa Timur, hari-hari ini, suasana jelang pilkada Jawa Timur sudah terasa, meski pilkada-nya sendiri masih setahun lagi (Juni 2018). Pemanasan dari masing-masing kubu sudah dimulai. Salah satunya ketika Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, berkunjung ke Blitar awal Juni lalu. Selain meresmikan monumen ayahnya, kehadirannya di Kota Blitar adalah untuk konsolidasi kader. Demikian juga warga NU, yang aspirasi politiknya disalurkan ke PKB dan PPP.

Dalam peta politik nasional,  Jatim menarik. Di provinsi ini pendukung tradisional idelogi nasionalis (PDIP) dan Islam (NU), boleh dibilang sama kuatnya. Dan garis politik itu linier dengan basis kulturalnya. Wilayah yang berbasis tradisi Mataraman, seperti kawasan Madiun, Kediri, dan Blitar, sejak lama dikenal sebagai lumbung suara PDIP, bahkan sejak era PNI (Partai Nasional Indonesia) dulu. Sementara wilayah “tapal kuda” seperti Situbondo, Bondowoso, Jember, dan seterusnya merupakan basis pendukung NU, dari generasi ke generasi.

Kemudian poros Surabaya – Malang, dua kota terpenting di Jatim, yang dikenal sebagai wilayah “budaya arek” secara umum cenderung ke NU, namun tetap ada kantong pendukung bagi partai nasionalis (PDIP). Sebagai kota kosmopolitan, Surabaya dan Malang tentu memiliki lapisan kelas menengah relatif besar, yang orientasi politiknya independen. Sehingga kemana arah dukungan mereka menjadi sangat dinamis.

Tipologi Geertz

Ketika antropolog Clifford Geertz, mengintrodusir tipologi masyarakat Jawa dalam tiga bagian, yakni abangan, santri dan priyayi, hal itu berdasarkan penelitian lapangan di Jatim, tepatnya di Pare, sebuah kota kecamatan di Kediri, yang kini lebih dikenal sebagai “kampung Inggris”. Artinya, sebuah desa dengan tradisi mataraman di kawasan Jatim bisa representatif dalam menjelaskan kultur Jawa, tanpa harus pergi ke kota pusat budaya Jawa, seperti Solo dan Yogya.

Tipologi Geertz masih terlihat jejaknya hingga sekarang, meski Geertz melakukan penelitian itu pada awal tahun 1950-an. Kelompok abangan dan priyayi umumnya berafiliasi pada partai sekuler, seperti PNI di masa lalu, atau PDIP di masa sekarang. Sementara kelompok santri sudah jelas ke NU, yang dalam praktiknya di lapangan biasanya memilih PKB atau PPP.

Tipologi Geertz sendiri sebenarnya kurang “konsisten”. Kira-kira begini penjelasan singkatnya, abangan dan santri adalah kategori dalam perilaku beragama, sementara priyayi adalah strata sosial. Dengan kata lain, priyayi bersifat vertikal, sementara abangan dan santri bersifat horizontal. Walau begitu teori Geertz masih relevan dalam menjelaskan orientasi politik dominan masyarakat Jatim.

Basis kultural yang berakar kuat seperti itulah, yang menjadikan organisasi massa Islam garis keras macam FPI atau FUI, sulit berkembang di Jawa Timur, mengingat warganya sejak dulu bersikap moderat dan toleran. Sementara kelompok seperti FPI adalah masuk ketagori kelompok intoleran.

Bisa dipahami ketika pada pilkada gubernur sebelumnya, tokoh politik sekelas Egi Sujana, tidak memperoleh sambutan memadai ketika maju sebagai cagub di Jatim. Meskipun kelasnya nasional, Egi kurang dikenal di Jatim, di kampungnya sendiri saja (Bogor) Egi belum tentu menang, terlebih di Jatim. Bagi warga Jatim, Egi bukan siapa-siapa, karena dia tidak memiliki basis kultural di Jatim, baik itu nasionalis atau yang Islam.

Krisis Kader

Terkait pilkada Jatim, ada hubungan yang unik antara PDIP dan NU. Bila di tingkat nasional, seperti dalam pilpres, biasanya selalu berkoalisi, namun untuk pilkada (Jatim) bisa lain ceritanya. Sebagaimana yang terjadi  sekarang ini.

Bila kubu NU  sudah satu suara dalam mengusung Gus Ipul, tidak demikian halnya dengan PDIP. Sejak awal PDIP akan mengusung nama Tri Rismaharini (Risma, kini Walikota Surabaya). Namun ketika Risma tidak bersedia, dengan alasan ingin menghabiskan jabatan selaku walikota, PDIP seolah limbung, karena belum tersedia calon alternatif.

Untuk partai sebesar PDIP, terlebih untuk kepentingan Pilkada Jatim, yang merupakan basis dukungan PDIP sejak lama, ketiadaan kader alternatif memang sungguh memprihatinkan. Bahkan kabarnya ada skenario, Risma diproyeksikan sebagai Cawagub, mendampingi Gus Ipul. Bila skenario ini benar terjadi, artinya sejak awal PDIP sudah menyerah. Idealnya, kalau benar asumsi bahwa Jatim merupakan “kandang banteng” (selain Jatim), seharusnya PDIP mengusung calonnya sendiri.

Kekalahan telak pasangan Ahok – Djarot dalam Pilkada Jakarta, merupakan pelajaran pahit, terkait soal kader. Benar, Ahok bukanlah kader asli PDIP. Tampaknya PDIP sedikit alpa dalam proses kaderisasi.

Sekadar perbandingan, untuk pilkada Jateng, PDIP juga sudah menyiapkan sejumlah nama yang dianggap andal, mengingat kubu Partai Demokrat sedang menyiapkan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Memang AHY terbilang “hijau” dalam politik, namun dengan didukung nama besar keluarga, serta sebuah tekad tidak mau gagal untuk kedua kalinya, menjadikan sosok AHY benar-benar diperhitungkan.

Sudah santer terdengar, bahwa (khusus) untuk menghadapi AHY, selain menyiapkan nama Ganjar Pranowo (selaku petahana), PDIP juga telah menyiapkan jurus pamungkas, dengan mengajukan nama Puan Maharani. Puan yang saat menjadi caleg dari dapil Solo, selalu memperoleh suara terbanyak, dianggap bisa mengimbangi AHY. Sungguh pertarungan yang menarik.

Namun yang menjadi problem, ada isu sumir yang menyebutkan, bahwa PDIP juga akan mengakomodasi kandidat dari luar, yang sungguh tidak kita sangka-sangka, yaitu Sudirman Said (mantan Menteri ESDM), yang kebetulan berasal dari Brebes (Jateng). Memang di belakang Sudirman Said ada nama Jusuf Kalla, yang artinya ada dana sangat besar di sana. Namun fenomena ini sangat mengkhawatirkan, ini bukan soal sekadar menang-kalah, namun lebih dari itu, yaitu soal martabat partai. Semua orang tahu, Jateng (kecuali Yogya) adalah basis pendukung setia pada figur Soekarno, sebagaimana dibahasakan dalam spirit “hidup atau mati mendukung Soekarno” (pejah gesang nderek Bung Karno).

 

Aris Santoso, sejak lama dikenal sebagai pengamat militer dan politik, kini bekerja sebagai editor buku

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR