Mengenal 3 Pasukan Elite TNI yang Tergabung dalam Koopssusgab Anti Teroris

Undang-Undang Anti Terorisme sudah disahkan. Salah satu hal yang tak lepas dari perhatian publik adalah keterlibatan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam pemberantasan Teroris. Tulisan ini akan memberikan gambaran bagaimana postur pasukan elite TNI yang tergabung dalam Koopssusgab (Komando Operasi Khusus Gabungan).

Untuk diketahui, keterlibatan TNI baru bisa dilakukan setelah dikeluarkanya Peraturan Presiden yang akan mengatur secara teknis pelibatan TNI dalam membantu Polri melaksanakan tugas pemberantasan terorisme di Indonesia. Ketika Perpres tersebut dikeluakan, satuan. pasukan elit TNI anti teror yang tergabung dalan Kopssusgab (Komando Operasi Khusus Gabungan) yakni pasukan anti teror yang dimiliki TNI, siap membantu Polri dalam memberantas aksi terorisme.

Diresmikan pada 9 Juni 2015 oleh Panglima TNI yang kala itu dijabat oleh Moeldoko, Koopssusgab dinilai mampu menambah kekuatan Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri dalam menanggulangi teror. Kopssusgab sendiri terdiri dari satuan dari 3 matra yakni TNI Angkatan Darat, Angkatan Laut dan TNI Angkatan Udara yang sedikit ulasan ketiga pasukan elit tersebut sebagai berikut:

Satuan Anti Teroris Kopasus

TNI AD: Satuan 81 Penanggulangan Teror (Gultor) Kopassus

Satuan ini berasal dari lingkungan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD. Satuan 81 memiliki spesialisasi dalam penanggulangan terorisme. Seorang personel Satuan 81 memiliki keahlian setara dengan delapan personel TNI biasa.

Kekuatan dari satuan ini tidak dipublikasikan secara umum mengenai jumlah personel maupun jenis persenjataannya yang dimilikinya, semua itu dirahasiakan Dansat-81/Kopassus saat ini dijabat oleh Kolonel Inf Tri Budi Utomo.

Cikal bakal pasukan khusus ini berasal dari pasukan yang yang bertugas dalam operasi Woyla pada 1981, membebaskan penumpang pesawat Garuda DC-9 Woyla di Bandara Don Muang, Bangkok, 31 Maret 1981. Komandan pertama Sat-81 adalah Luhut Binsar Panjaitan dan wakilnya adalah Prabowo Subianto.

Diantara prestasi yang ditorehkan Satuan ini adalah keberhasilan Operasi Mapenduma, yakni operasi pembebasan 26 sandera yang ditawan Gerakan Pengacau Keamanan (GPK) pimpinan Kelly Kwalik di Irian Jaya pada 15 Mei 1996. Satuan ini juga berhasil dalam Operasi penggerebekan Gembong Teroris Bom Bali, Noordin M Top.

Satuan-81 adalah merupakan salah satu organisasi bersenjata yang paling progresif didunia. Satuan-81 adalah merupakan unit kedua di dunia (setelah GSG-9) pemakai senapan serbu HK MP-5 dan produk Heckler & Koch lainnya. Selan itu, Detasement-81 juga adalah pelopor pemakaian PETN sebagai bahan peledak alternatif selain C-4 dan Semtek.

Denjaka

Detasemen Jalamangkara (Denjaka) TNI AL

Detasemen Jalamangkara atau yang lebih dikenal dengan nama Denjaka adalah satuan paling elit milik TNI Angkatan Laut. Anggotanya merupakan personel pilihan dari satuan pasukan khusus, yakni Komando Pasukan Katak (Kopaska) dan Intai Amfibi Marinir (Taifib). Konon keahlian dan kelebihan satu anggota prajurit Denjaka disetarakan dengan 120 orang prajurit TNI biasa.

Dibentuk pada 13 November 1984 Denjaka dikhususkan untuk satuan anti teror walaupun mereka juga bisa dioperasikan di mana saja terutama anti teror aspek laut.

Latihan anggota pasukan ini memang teramat berat. Bahkan ada yang menyebut,untuk menjadi Anggota Denjaka harus melalui latihan yang mencapai batas kemampuan dan kekuatan manusia.

Pada saat latihan anggota Denjaka dituntut untuk menguasai pemeliharaan dan peningkatan kemampuan menembak, peningkatan kemampuan bela diri, penguasaan taktis dan teknik penetrasi rahasia, darat, laut dan udara,  penguasaan taktik dan teknik untuk merebut dan menguasai instalasi di laut,  kapal, pelabuhan/pangkalan, dan pembebasan sandera di laut.

Beberapa prestasi yang pernah diukir satuan ini diantaranya operasi anti teror berhasil membebaskan kapal Sinal Kudus yang dibajak oleh perompak Somalia pada 2011 dan Pembebasan WNI yang disandera oleh Kelompok Abu Sayyaf. Denjaka juga terlibat dalam operasi Search and Rescue (SAR) AirAsia QZ8501 yang jatuh di Selat Karimata.

Denjaka adalah salah satu dari pasukan elit militer di dunia yang dilengkapi dengan in submachine gun MP5, HK PSG1, Daewoo K7, senapan serbu G36, HK416, M4, Pindad ss-1, CZ-58, senapan mesin ringan Minimi M60, Daewoo K3, serta pistol Beretta, HK P30 dan SIG Sauer 9 mm.

LOGO DENBRAVO

Satbravo-90 Paskhas TNI Angkatan Udara

Dibentuk pada 12 Februari 1990 satuan yang dulu bernama Denbravo 90 ini dikhusukan menjalankan operasi intelijen, melumpuhkan alutsista/instalasi musuh dalam mendukung operasi udara dan penindakan teror bajak udara serta operasi lain. Satbravo-90 memiliki spesialisasi dalam penanggulangan teror aspek udara. Disebut-sebut, 1 orang anggota Satbravo-90 mempunyai kemampuan setara dengan lima personel TNI biasa.

Sebagai salah satu pasukan elite, Satbravo – 90 Paskhas dilengkapi dengan Glock 17, Glock 19, SIg Sauer P226, Benelli M4 Super 90, H&K MP5SD3, H&K UMP45, H&K MP5K-PDW, Colt M16A4, SIg SG552, SIG SSG-3000, SIG SHR-970, PGM HECATE II, SAR-21, Colt M4A1, Steyr AUG A1/A2 dan beberapa persenjataan tempur yang tak diekspos ke publik.

Satbravo-90 telah teruji kemampuanya saat ditugasi mengendalikan Bandara Komoro dalam satgas ITFET (Indonesian Task Force in East Timor), Misi pemulangan TKI Cina, dan misi Geser Tim–Tim sebagai buntut lepasnya Tim–Tim dari NKRI. Satbravo-90 juga pernah terlibat dalan penanganan konflik di Ambon serta penangangan bandara di seluruh Nangroe Aceh Darusalam.

Kini ketiga pasukan elit tersebut siap utuk bergabung membantu Detasemen Khusu 88 anti teror Polri dalam menangani aksi-aksi terorisme di Indonesia. Sebagian besar rakyat Indonesia menaruh harapan dengan diaktifkanya kembali Koopssusgab, maka akan meminimalissir aksi-aksi teror yang telah mengoyak kedamaian NKRI.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR