Mengenang Agus Edy Santoso: Ideologi Semangka ala Agus Lenon

Foto Agus Edy Santoso akrab dipanggil Agus Lenon (dokumen FB pribadi)

Sabtu pagi (11/1) itu saya bergegas ke Condet (Jaktim), menuju rumah Agus Lenon, yang malam sebelumnya dikabarkan meninggal dunia. Saya sendiri mendapat kabar duka dari sahabat yang lain, yakni Satia (Bandung), yang bila bersanding dengan almarhum Agus Lenon, ibarat sebuah “pasangan legendaris”. Setelah mendengar kabar malam itu, mata menjadi sulit terpejam, pikiran saya menerawang pada masa-masa yang telah lewat.

Mungkinkah ini sebuah kebetulan belaka, Mas Mul (Mulyana W Kusumah) dan Agus Lenon, di masa hidupnya sama-sama tinggal di Condet. Saya datang melayat ke Condet saat Mas Mul meninggal (Desember 2013), dan kini kembali ke Condet, untuk melepas kepergian Agus. Benar, sejauh ingatan saya, saya mengenal keduanya dalam waktu hampir bersamaan, mungkin sekitar tahun 1984.

Sebagai mahasiswa tahun kedua atau ketiga di Jurusan Sejarah FSUI (kini FIB UI), saya boleh dikata haus akan pengetahuan dan informasi, rasanya materi pelajaran di kampus sudah tidak memadai lagi bagi dahaga ilmu ini. Sehingga setiap ada acara diskusi, tanpa perlu mencermati apa temanya, saya datangi saja. Salah satu tempat yang acapkali mengadakan diskusi adalah kantor YLBHI (LBH Jakarta), Jalan Diponegoro, yang kebeneran letaknya tidak terlalu jauh dari kampus saya di Rawamangun.

Dan kebetulan pula, berkat keberadaan tokoh semacam Bang Buyung dan Mas Mul, kantor YLBHI menjadi episentrum gerakan pro-demokrasi di Jakarta, jadi termasuk pula gerakan mahasiswa. Dalam situasi seperti itulah saya berkenalan dengan Mas Mul dan Agus pada suatu diskusi tahun 1984. Dalam setiap diskusi, sejak dulu saya selalu duduk di deretan belakang, dan hanya sekadar sebagai pendengar.

Seperti pada diskusi siang itu, pada meja narasumber, tampak Mas Mul dan Agus. Yang surprise bagi saya, keduanya membahas isu “kiri”, sesuatu yang sangat tabu dibahas masa itu secara terbuka, namun di kantor LBH semua isu bisa dibahas, termasuk isu kiri. Apa detailnya isi diskusi hari itu saya sudah lupa persisnya, namun sejak itu, hubungan saya semakin akrab dengan Mas Mul dan Agus. Satu hal yang saya ingat, Agus sekilas menyebut Ali Shariati (intelektual kiri Iran), dan Mas Mul menyebut Tan Lieng Djie (tokoh PKI 1948).

Khusus tentang Agus saya sedikit heran. Saya dengar dia masuk dalam pengurus PB HMI periode 1980-an itu, dan juga mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga (Yogya), namun kok menaruh minat pada isu kiri. Pada masa-masa itu, pengetahuan Agus tentang Tan Malaka masih lebih bagus dari saya, yang notabene seorang mahasiswa sejarah. Setiap bertemu, Agus selalu mengajak diskusi soal kiri, mulai dari Sarekat Islam (merah), buku-buku karya Aidit atau Tan Malaka, dan seterusnya.

Kebetulan berikutnya datang lagi, ketika saya harus menyusun tugas akhir selaku mahasiswa sejarah, lagi-lagi Agus yang menanyakan terus bagaimana perkembangannya, saya sendiri sampai risi bila bertemu dengannya. Itu bisa terjadi, karena tema yang saya pilih masih seputar Sarekat Islam (merah), yang menjadi perhatian Agus pula. Bahkan dengan nada bercanda (mungkin), Agus akan menerbitkan skripsi saya. Saya hanya tertawa geli mendengar tawaran itu, cukup pantaskah skripsi yang menurut saya biasa-biasa saja, untuk kemudian diterbitkan. Baru kemudian saya ingat, bukankah saat masuk pengurus PB HMI masuk sebagai koordinator penerbitan, sehingga untuk urusan produksi barang cetakan, Agus sangat sigap.

Dari perjumpaan dengan Agus itulah saya jadi mengenal kiasan ideologi semangka. Seperti buah semangka, yang luarnya hijau (HMI), tapi dalamnya merah (kiri). Saya sendiri, rasanya juga kira-kira seperti itu, berdasar pengalaman saya sendiri. Pada masa-masa awal kuliah saya sempat direkrut HMI, karena memang organisasi ini terbilang paling aktif mendekati mahasiswa baru.

Memasuki dekade 1990-an, saya dan Agus semakin jarang berjumpa, meskipun masih sama-sama bekerja di lingkungan LSM, namun pada lembaga yang berbeda. Hanya pada kegiatan tertentu kita saling jumpa, semisal keperluan konsolidasi ketika rezim saat itu semakin represif. Dalam masa-masa ini tentu ada pula pasang-surutnya hubungan kami, kita sudah sama-sama berkeluarga, selain ada perilaku Agus yang acapkali membuat kesal, tapi ya sudahlah, tak ada manusia yang sempurna.

Pada akhir Juli lalu, ibu saya terkasih meninggal dunia, dan saya sungguh sangat terpukul. Mental saya benar-benar drop. Kemudian Agus mengirim pesan ucapan dukacita melalui WA, dan ajakan ngopi sore untuk mengurangi rasa duka saya. Saya sungguh terharu, di saat dirinya masih kurang sehat, Agus masih meluangkan waktu untuk membesarkan hati saya.

Pada awal Agustus lalu, akhirnya jadi acara ngopi sore di sebuah kedai kopi di kawasan Sabang (Jl Agus Salim), Jakarta Pusat. Selain Agus, saya ingat ada sahabat-sahabat lama yang dulu aktif di Bandung, seperti Satia, Dudi, Paskah dan Endut (Miftah Fauzi). Sekadar mengingatkan, pada saat kita ngopi itulah, saat usai waktu maghrib, gempa sempat menguncang Jakarta. Saya sungguh tidak menyangka itulah menjadi pertemuan terakhir dengan Agus.

Semoga Agus sudah damai sekarang, di tempatnya yang baru. Semoga Agus senang pula, bila melihat sahabat dan kerabat yang datang saat menuju pemakamannya, tak jauh dari rumahnya. Pergaulan Agus yang luas, terlihat saat pemakamannya, seperti juga pemakaman sahabat kita lainnya, semisal Bambang Harri (Bandung, Februari 2008) dan Amir Daulay (Jonggol, Bogor, Juli 2013). Selamat jalan kawan-kawanku semua, semoga kalian semua bahagia, dan (mungkin) saling bersua.

 

Penulis : Aris Santoso, sejak lama dikenal sebagai pengamat militer (khususnya TNI AD). Kini bekerja sebagai editor buku paruh waktu
Penulis : Aris Santoso, sejak lama dikenal sebagai pengamat militer (khususnya TNI AD). Kini bekerja sebagai editor buku paruh waktu
BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR