Mengenang Imral Gusti, Aktivis 98 Yang Menghabiskan Hidupnya Untuk Perbatasan

Meninggalnya mantan aktivis Pro Demokrasi (Prodem) , Imral Gusti pada Selasa 12 November 2019, menjadi kabar duka bagi kawan – kawan seangkatanya semasa berjuang menuntut Reformasi di era 90an. Tak hanya bagi rekan – rekanya di Front Nasional atu Aldera, dimata para aktivis lainya, Imral merupakan seorang aktivis yang sederhana namun kaya akan gagasan.

“Beliau adalah salah satu dari sekian kawan yang teguh memegang idealismenya. Konsistensinya dalam dunia pergerakan dapat kita lihat setelah tuntutan Refornasi berhasil dengan lengsernya Pak Harto, beliau memilih untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat di Perbatasan,” tutur mantan aktivis Forkot’ Eeng Suhendi, Rabu (14/11/2019).

Diketahui, setelah Orde Baru runtuh, pada tahun 2000 Imral memutuskan menentap di Nunukan, Kalimantan Utara. Di Kabupaten yang sebagian wilayahnya berbatasan langsung dengan Sabah, Malaysia ini, Imral dan para aktivis perbatasan membentuk Barisan Anak Bangsa (BAB).

Salah satu ide dari pergerakanya di BAB dalam mengaktualisasikan nasionalisme, Imral meminta setiap baju seragam siswa Sekolah Dasar agar dipasang bet bendera Merah Putih. Pemasangan bet Merah Putih di baju siswa tersebut ahirnya diikuti sekolah – sekolah lain diluar Nunukan dan saat ini menjadi gerakan nasional.

“Berawal dari Nunukan lah, trus diikuti sekolah – sekolah di Jawa dan saat ini menjadi gerakan skala nasional,” papar Eeng.

Untuk membawa aspirasi masyarakat di Perbatasan, Imral memeperjuangkanya melalui Aliansi Masyarakat Sipil Untuk Indonesia Hebat (Almisbat). Alasan ia bergabung ke kelompok dibawah kendali Teddy Wibisana yang kemudian dilanjutkan oleh Hendrik Dikson Sirait itu, karena Imral menilai bahwa Almisbat adalah salah satu kelompok relawan yang dekat dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) namun tak jarang juga berani mengkritisi apabila ada kebijakan Pemerintah yang tidak berpihak pada masyarakat banyak.

Melalui Almisbat pula, Imral menjadi salah satu konseptor pergerakan Calon Daerah Otonomi Baru ( CDOB) Kabupaten Bumi Dayak (Kabudaya) Perbatasan. Sehingga kepergian Imral ke haribaan Sang Khalik merupakan duka mendalam bagi masyarakat di wilayah cakupan DOB Kabudaya Perbatasan tersebut.

“Bung Imral adalah Pejuang Kabudaya dan Idealis Sejati, karena ia adalah Ketua Konsulat DOB Kabudaya di Jakarta yang benyak berkontribusi terhadap perjalanan Kabudaya hingga saat ini. Sebagai seorang kawan, tentunya saya dan kami masyarakat Kabudaya sangat sedih dan kehilangan, iami berdoa agar ia diterimah disisi Tuhan Yang Maha Esa. Amin,” tutur Tokoh Muda Perbatasan, Lumbis Pangkayungon.

Kepergian Imral juga menjadi duka bagi Kader dan Simpatin Partai Bulan Bintang di Kalimantan Utara. Hal tersebut lantaran hingga ahir hayatnya, Imral adalah Sekretaris dari Partai besutan Yusril Ihza Mahendra tersebut. Bahkan Ketua DPW PBB Kalimantan Utara, Andi Zakaria menilai, akan sangat sulit mendapatkan kembali seorang kader seperi Imral Gusti.

“Saya harus jujur, sulit untuk mendapatkan pengganti seperti beliau. Kami keluarga PBB Kaltara benar – benar kehilangan seorang pemimpin, kawan dan juga sahabat,” ujar Andi

Tokoh Masyarakat yang juga Sekretaris Jenderal Indonesia Pilar Institute, Syafaruddin Thalib menilai bahwa Imral adalah sosok yang mampu menempatkan diri dalam lingkungan manapun. Sehingga meningalnya Imral sudah pasti menjadi duka cita warga Perbatasan.

“Beliau orang yang sangat supel, bijak dan bersahaja. Saya mewakili teman – teman di Nunukan mengucapkan bela sungkawa yang dalam. Semoga beliau berada dalam damai di alam keabadian,” tuturnya.

Hingga berita ini diturunkan, ungkapan duka cita terus berdatangan. Para pengguna media sosial nampak terus mengunggah ucapan bela sungkawa baik di linimasa maupun grup – grup aplikasi media sosial tertutup.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR