Menguak Royalty Lagu Wajib Nasional Karya L Manik, Amanah yang Diemban Anak Band Ini

Group Band Foxy Muse saat konpers di Menteng Jakarta Pusat, menjelaskan tentang rekaman lagu wajib nasional karya L Manik (Foto Budi ACE)

Lagu wajib nasional hampir setiap waktu didengarkan oleh hampir seluruh masyarakat, di berbagai ruang publik. Tetapi bagaimana dengan hak royalty lagu wajib nasional bagi pencipta dan keluarganya? Salah satunya adalah Mendiang Liberti Manik atau L. Manik, pencipta lagu wajib nasional, ‘Satu Nusa Satu Bangsa’,

L Manik boleh berbangga hati, karena karya kembali diadaptasi oleh anak band bernama Foxy Muse. Salah seorang vokalis Foxy Muse, Jane Putri, juga menunjukan kebanggaannya bisa membawakan dan merekam lagu wajib nasional karya mendiang L Manik. Band yang dibentuk baru setahun lalu, menjelaskan hal tersebut dihadapan sejumlah wartasan dalam Konprensi Pers di D’Lab, Menteng, Jakarta (14/08).

“Menyanyikan lagu nasional dan lagu daerah adalah bagian dari kebangggaan kami sebagai anak bangsa, tapi baru kali ini kami merekamnya, ” aku Jane Putri.

Foxy Muse yang memilih jalur fusion, mencoba menginterpretasikan kembali lagu ‘Satu Nusa Satu Bangsa’ dalam nuansa yang lebih ringan sederhana. Alasannya, menurut Putri, karena mereka ingin lagu nasional yang pernah di daur ulang oleh band Cokelat sekitar tahun 2007 itu, kembali happening dikalangan anak muda, para millenials.

“Selama ini lagu-lagu wajib nasional hanya dinyanyikan pada saat-saat tertentu saja. Kami ingin lagu-lagu dengan tema nasionalisme ini bisa menjadi keseharian para millenials yang kini banyak menghabiskan waktu mereka dimedia sosial sambil dengerin macam-macam lagu,” papar Putri yang diamini rekan-rekannya, Cindy Permata (vokal), Amanda Prasyta (kibor), Paulus Priyadi (bass), Gerald Smith (drum) dan Rio Hamonangan (gitar).

Ada fakta menarik tentang lagu ‘Satu Nusa Satu Bangsa’, yang dikemukakan Raja Manik, ponakan L. Manik yang kini dipercayakan sebagai publisher hak cipta sejumlah karya L. Manik, seperti ‘Desaku’ dan ‘Nyiur Melambai’. Menurut Raja Manik, sejak tahun 2002 silam, ahli waris tak pernah lagi menerima royalti lagu wajib nasional karya L Manik. Padahal jumlah royalti tidak seberapa besar.

“Untuk lagu Satu Nusa Satu Bangsa,  royalti yang diterima tak lebih dari sejuta rupiah dalam setahun, sebelum Bapak Tua L. Manik wafat,” ungkap Raja Manik, yang menyebutkan ada belasan lagu rohani karya L. Manik yang royaltinya belum sempat diurus.

Raja Manik menegaskan, bahwa keluarga tidak terlalu mempermaaalahkan royalty. “Soal royalti kami tidak mempermasalahkannya, tapi jangan juga pihak terkait meremehkan karya Bapak Tua kami, L. Manik, ujarnya.

Mendengar kisah itu, Cindy Permata dan Amanda Prasyta, yang tak lain adalah adik kandung Jane Putri, bersama personel Foxy Muse lainnya, bersepakat akan membantu pihak ahli waris untuk menelusuri kembali jejak-jejak royalti lagu wajib nasional karya mendiang L Manik, yang didengarkan oleh hampir seluruh masyarakat, di berbagai ruang publik diseluruh Indonesia.

“Melalui kesempatan ini, saya ingin menganjurkan kepada Foxy Muse untuk mengemban amanah penting yang belum pernah dilirik oleh band manapun, yaitu membantu ahli wsris L. Manik mendapatkan hak royaltinya secara obyektif,” usul Harto Krisbiantoro, seorang ahli Brand Image, putra Kris Biantoro.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR