Mengurai Sengkarut Harga Tiket Pesawat

Antrian Pesawat di Salah Satu Landasan Pacu Bandara Soekarno Hatta Jakarta (istimewa)

Saat ini tak sedikit orang-orang berteriak tentang harga tiket pesawat yang mahal melebihi harga yg selama ini “terkesan murah”. Memang itu benar, saya sendiri mengalami bahwa memang harga tiket saat ini jauh lebih mahal dari sebelum-sebelummya. Pertanyaannya, mengapa bisa jadi begitu mahal ?

Pertama adalah jumlah Maskapai yang menciut

Salah satu alasan mengapa harga tiket pesawat naik tajam adalah semakin sedikitnya jumlah maskapai yang melayani penerbangan reguler di Indonesia. Praktis pemain domestik yang tersisa hanya GARUDA INDONESIA Group (BUMN) dan LION AIR (swasta). Ditambah pemain luar (AIR ASIA) Hal ini membuat mereka leluasa menaik-turunkan harga tiket sesuai beban operasional dan target profit yang ingin diraih.

Pemerintah hanya berwenang menentukan harga tiket batas bawah atau harga terendah agar tidak terjadi kanibalisasi sesama maskapai dan batas atas atau harga tiket termahal, agar maskapai tidak semaunya menarik keuntungan. Pemerintah juga berwenang menentukan standar kelayakan operasional maskapai dari aspek keselamatan penerbangan. Hanya di situ peran pemerintah, dalam hal ini Kementrian Perhubungan berdasarkan Undang Undang.

Alasan kedua adalah beban Maskapai yang meningkat

Beban maskapai itu artinya biaya operasional yang menjadi acuan dalam pembentukan harga tiket, lazim dikenal sebagai harga pokok produksi (HPP). Apa saja itu? Banyak, diantaranya: operasional tekhnis pesawat utk mengudara; avtur, SDM (pilot, crew tekhnisi) dan management perusahaan (gaji, kantor, asuransi, dll), ground handling atau operasional pesawat di darat; (apron, parkir, otoritas bandara, terminal penumpang, dll); bunga bank yg harus dibayar utk pembelian dan atau penyewaan pesawat; biaya perawatan (maintenance) pesawat; pengembangan SDM (pelatihan, baik utk crew, pilot, tekhnisi maupun manajemen); biaya pemasaran (marketing), kerja sama pihak ketiga yg memangkas profit (travel, online ticketing, dll). Biaya-biaya di atas terus meningkat setiap tahun sementara konsumen berharap harga tidak pernah naik secara signifikan.

Ketiga adalah beban rute dan okupansi

Karena maskapai yg beroperasi dengan rute begitu banyak hanya tersisa dua maskapai besar maka mayoritas rute yang dilayani seringkali sangat tidak menguntungkan. Karena jumlah penumpang yg diangkut (seats occupancy) sangat rendah, fluktuatif dan hanya mengandalkan peak seasons yang hanya 4-5 kali setahun.

Akibatnya, tidak terjadi subsidi silang (margin yg memadai) antara rute gemuk dgn rute kering, kesenjangannya semakin jauh. Hal ini terjadi karena ekspansi besar-besaran kedua Group Maskapai di atas pada masa lalu, yang akhirnya mematikan semua pesaing mereka, dan sekarang menjadi beban bagi mereka dan merugikan penumpang.

Celakanya, semakin naik harga tiket demand tidak selalu berarti memperbesar profit mereka secara signifikan. Tetapi tidak bisa dihindarkan karena beban yang terlanjur besar. Penutupan rute yg merugi bagi maskapai bisa berdampak munculnya saingan, yg akan semakin mempersulit mereka atau bahkan mungkin penalti dari pemerintah. Itulah kenapa Presiden Jokowi beberapa hari lalu mengundang investor/maskapai asing utk beroperasi di Indonesia. Tiada lain agar terjadi kompetisi yang lebih sehat dan rasionalisasi dari dua maskapai besar yang saya sebut di atas.

Alasan selanjutnya dari kenaikan harga tiket Pesawat tersebut karena berubahnya pola konsumsi

Sampai kurang lebih lima tahun lalu, preferensi konsumen lebih besar pada penerbangan dalam negeri, terutama untuk kebutuhan leissure (piknik). Tetapi trend sudah berubah, beberapa tahun terakhir orang Indonesia semakin intens berkeliling dunia untuk berwisata. Potensi pasar ini dimanfaatkan benar oleh maskapai-maskapai besar luar negeri, yang memang basis operasi utamanya adalah penerbangan internasional. Akibatnya, harga yg mereka tawarkan tidak dapat disaingi oleh Garuda dan Lion yg sejatinya adalah penerbangan domestik. Hanya beberapa rute di Asia yg memberikan keuntungan bagi Garuda dan Lion, utamanya tujuan ke negara-negara ASEAN….di luar itu semuanya merugi, padahal investasi sudah kadung dilakukan.

Lalu bagaimana cara mengatasi persoalan ini?

Salah satu cara yang paling cepat adalah mengurangi rute dan atau frekewensi penerbangan, sehingga beban dan HPP maskapai berkurang. Meskipun itu belum tentu dapat segera mendorong harga turun, konskwekensi nya sudah dapat diduga terjadinya kebijakan merumahkan/PHK karyawan.

Cara lain, bisa dengan mendorong pemerintah utk membantu memangkas biaya operasional bandara (ground handling) dan biaya avtur pesawat. Tetapi ini tentu menyangkut dua entitas usaha lain yang berpotensi dirugikan, yaitu Angkasa Pura dan Pertamina.

Namun yang paling tepat, agar sifatnya holistik dan jangka panjang adalah bila pemerintah mampu mengundang pemain baru di pasar domestik agar terjadi persaingan yang lebih sehat secara alamiah. Dengan demikian, rasionalisasi dua maskapai besar itu juga akan terjadi secara natural! Sebab sekarang, tidak ada lagi istilah penerbangan murah (low cheap carrier) dan semboyan “everybody can fly” adalah slogan usang belaka.

Untuk negara kepulauan seperti Indonesia dan melihat potensi pasar online….harga tiket dan logistik yang tinggi akan berdampak buruk.

Opini Deddy Sitorus, Wakil Direktur Relawan ia tercatat sebagai Calon Anggota Legislatid (Caleg) peraih suara terbanyak se Dapil Kalimantan Utara dari PDI Perjuangan.

Dedy Sitorus

Tulisan ini sebelumnya pernah diunggah di Facebook pribadinya dan dimuat di indeksberita.com atas izin yang bersangkutan

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR