Menimbang antara Cak Imin dan Gus Rommy, Siapa Paling Pas Menjadi Cawapres Jokowi ?

Tri Agus S Siswowiharjo, akrab dipanggil TASS, penulis, penyuka humor dan dosen di STPMD/APMD Yogyakarta

Dalam sebuah rapat koordinasi persiapan Asian Games, Presiden Joko Widodo bercanda, “Saya lebih banyak melihat billboard Cak Imin daripada billboard Asian Games.” Guyonan Jokowi tentu terkait banyaknya baliho Ketua PKB Muhaimin Iskandar alias Cak Imin, mempromosikan dirinya menjadi cawapres Jokowi. Namun kini ada pesaing Cak Imin merebut hati Jokowi. Siapa kalau bukan Ketua PPP, Muchammad Romahurmuziy alias Gus Rommy.

Berbeda dengan baliho Cak Imin yang menyertakan embel-embel cawapres, baliho Gus Rommy tidak menyebut itu. Hanya foto dan tulisan Gus Rommy serta di antaranya jargon Mari Bersatu Bangun Indonesia. Melalui akun Twitternya @MRomahurmuziy, Gus Rommy pada 11 Maret 2018 menunjukkan fotonya saat berada di pesawat presiden.

“Dari Cirebon ke Jakarta sore ini di pesawat RI 1 CN-235. Alhamdulillah belum beli tiket ditawari pulang bareng sama pak @jokowi, matur nuwun Pak,” tulis Gus Rommy.

Foto bersama Jokowi juga diunggah Cak Imin melalui akun Twitternya, @CakimiNow, Senin 17 April 2018. Tak hanya foto, Cak Imin ini juga mengunggah rekaman videonya saat hendak menaiki pesawat kepresidenan.

“Asyek juga nih naik pesawat presiden,” tulis Cak Imin sambil menunjukkan fotonya bersama Jokowi.

Mari kita menimbang plus minus antara Cak Imin dan Gus Rommy:

Saat ini Cak Imin elektabilitas lebih tinggi. Hal ini karena dia kampanye lebih awal setahun atau dua tahun lalu antara lain dengan memasang baliho di seluruh tanah air. Selain itu, modal lainnya adalah perolehan Partai Kebangkitan Bangsa 11.298.957 (9,04 persen) pada Pemilu 2014 lalu.

Namun keunggulan di atas bisa tertutup oleh beberapa hal yang menjadi kelemahannya. Pertama, partainya belum jelas mencalonkan siapa. Jelas bisa dibaca bahwa ia tengah main dua bahkan tiga kaki. Ini menyebabkan dirinya terkesan hanya mengejar cawapres, siapa pun presidennya. Seperti iklan teh botol. Pembentukan relawan Join (Jokowi – Cak Imin), lalu Prabowo-Cak Imin dan Gatot Nurmantyo-Muhaimin, menunjukkan dirinya tampak mencla-mencle.

Kedua, Cak Imin melalui pernyataan-pernyataannya terkesan memaksa Jokowi. Misalnya, “Jokowi akan rugi jika tidak memakai saya.” Cara ini jelas tidak nJawani dan bisa menjadi bumerang. Hal ini mungkin tak disukai Jokowi dan ketua-ketua partai koalisi pendukung Jokowi.

Ketiga, Cak Imin mempunyai masa lalu yang kurang cemerlang. Ia mempunyai hubungan kurang harmonis dengan keluarga Gus Dur terkait dengan kepemimpinan di PKB. Selain itu, saat menjabat menteri pernah mencuat kasus korupsi yang sempat diendus KPK. Ya isu bungkusan duren. Namun Cak Imin menjelaskan dirinya tak menerima apa-apa dan sampai sekarang KPK tak melanjutkan penyidikannya.

Bagaimana dengan Gus Rommy? PPP sudah jelas memutuskan mendukung Jokowi sebagai capres 2019-2014. Ia pun sering membela Jokowi yang sering diserang dengan isu pro asing, isu PKI dan anti-Islam. Gus Rommy dinilai banyak pengamat lebih mampu menerjemahkan visi pembangunan secara lebih konkret. Cara komunikasinya elegan dan luwes merupakan keunggulannya. Belakangan Gus Rommy mulai banyak memasang baliho dan iklan di TV. Ketua PPP ini tentu saja didukung perolehan suara pada Pemilu 2014 sebesar 8.157.488 (6,53 persen)

Keunggulan lain Gus Rommy adalah lebih muda dan gaul. Jika ditilik dari pemilih milenial yang jumlahnya mencapai 40%, Gus Rommy sepertinya lebih mudah dekat dan menggaet massa. Pertama, soal usia yang tidak terpaut jauh kerena relatif lebih muda tentu menjadikannya lebih mudah mendekatkan diri dengan kaula muda. Gus Rommy juga merupakan santri gaul, bukan hanya pandai mengaji tetapi juga pandai bermain musik. Musik merupakan bahasa universal menjangkau semua kalangan, generasi milenial menyukai hal-hal ringan dan menyenangkan seperti musik.

Namun kelebihan Gus Rommy di atas juga mempunyai beberapa catatan. Pertama, masa lalu PPP selalu berseteru dengan Jokowi. Sejak pemilihan walikota Solo, gubernur DKI Jakarta hingga pilpres 2014, PPP berhadapan dengan Jokowi. Sebagai pendukung Prabowo Subianto Gus Rommy mempunyai pasukan untuk mencari kelemahan Jokowi. Ia mewawancarai warga Solo. Hasilnya ia gagal menemukan kejelekan Jokowi.

Kedua, saat Pilpres 2014 muncul tabloid “Obor Rakyat” yang secara terang-terangan menyerang Jokowi dengan berita hoax. Ada yang mengaitkan “Obor Rakyat” dengan Gus Rommy. Namun ia mengelak, pengelola “Obor Rakyat” bukanlah relawan resmi Prabowo-Hatta. Mereka di luar kendali tim pemenangan. Dan para pelakunya pun sudah dihukum.

Kini, Gus Rommy juga sudah mulai tak malu-malu dirinya sebagai calon pendamping Jokowi. Karena itu, jika Gus Rommy juga gencar pasang baliho, maka suatu saat Jokowi akan mengatakan, “Saya lebih banyak melihat billboard Gus Rommy dan Cak Imin daripada billboard Asian Games.”

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR