Menunggu Pangkostrad Baru dan Kasum TNI Baru

Setelah Letjen Edy Rahmayadi (Akmil 1985) resmi pensiun (dini), posisi Pangkostrad dengan sendirinya akan lowong, oleh karenanya perlu dicarikan Pangkostrad baru sebagai penggantinya. Sejak lama posisi Pangkostrad selalu dianggap strategis, selain membawahi jumlah pasukan yang besar, juga karena posisi Pangkostrad selalu masuk nominasi calon KSAD.

Kini, makna strategis bisa bertambah lagi, bahwa KSAD yang baru nanti merupakan kandidat kuat Panglima TNI berikutnya. Sudah santer disebut-sebut kandidat terkuat pengganti Letjen Edy adalah teman sekelasnya di Akmil 1985, yakni Mayjen Doni Munardo, yang kini masih menjabat Pangdam III Siliwangi. Wajar pula bila Doni Munardo digadang-gadang sebagai calon Pangkostrad, mengingat kariernya yang sangat lancar selama ini, terutama saat berdinas di Kopassus dan Paspampres.

Baret Merah dan Baret Hijau

Pada setiap mutasi TNI (khusunya matra darat), selalu ada upaya menjaga keseimbangan jabatan strategis antara perwira yang berasal dari Baret Merah (Kopassus) dan Baret Hijau (Kostrad dan Raiders). Perlu juga diterangkan, bahwa perwira asal Baret Merah bisa saja pada suatu waktu ditugaskan di lingkungan Baret Hijau, karena kualifikasinya memungkinkan.

Dengan kata lain, seorang perwira Kopassus pada perjalanan karirnya bisa mengenakan dua warna baret. Namun perwira asal Baret Hijau tidak bisa ditugaskan di jajaran Kopassus, karena juga berdasar alasan kualifikasi.

Dengan demikian Mayjen Doni Munardo bisa memimpin Kostrad, karena Doni berasal dari Baret Merah. Secara kebetulan Doni sebelumnya juga pernah bertugas di Kostrad, yakni sebagai Komandan Brigif 3/Para Raiders yang bermarkas di Makassar.

Namun perlu juga diajukan nama lain sebagai nominasi Pangkostrad, karena sejatinya Doni
hanyalah salah satu kandidat. Kandidat lain yang bisa disebut adalah Mayjen Jaswandi dan Mayjen Tatang Sulaiman.

Merujuk mutasi baru-baru ini, perwira Baret Merah yang masuk posisi strategis di level bintang dua adalah Mayjen TNI Jaswandi (Akmil 1985) sebagai Pangdam Jaya. Sementara dari Baret Hijau (Akmil 1986) adalah Mayjen Tatang Sulaiman, yang baru saja diangkat sebagai Wakil KSAD, dalam posisi yang baru ini, Tatang akan berpangkat Letjen. Dari catatan yang ada, Mayjen Jaswandi belum pernah ditugaskan di Kostrad. Sementara Tatang Sulaiman adalah yang menggantikan Doni Munardo sebagai Komandan Brigif 3 Kostrad, Makassar.

Calon Kasum TNI

Di tengah konfigurasi antara Baret Merah dan Baret Hijau, juga muncul nama Mayjen TNI Kustanto Widiatmoko (Akmil 1987), yang berasal dari Baret Hitam (kavaleri). Mayjen Kustanto, meski dari segi angkatan terbilang muda, namun sudah dua kali menjadi pangdam, yaitu Pangdam IX/ Udayana dan Pangdam V/Brawijaya. Posisi Kustanto hari ini adalah Aster (Asisten Teritorial) Mabes TNI.

Karena latar belakang korps, yaitu kavaleri, maka Kustanto tidak bisa menjadi Pangkostrad, yang secara tradisi merupakan domain pati asal korps infanteri. Bisa jadi Kustanto akan diproyeksikan pada posisi lain yang juga bintang tiga, salah satunya pada jabatan Kasum (Kepala Staf Umum) TNI. Posisi Kasum TNI saat ini memang dijabat pati matra laut, yakni Laksdya Didit Herdiawan (AAL 1983), yang kemungkinan besar akan segera diganti, karena Laksdya Didit sudah menjelang pensiun.

Berdasarkan tradisi selama ini, selalu ada kombinasi antar-matra pada posisi Panglima TNI dan Kasum TNI, sebagai orang kedua di Mabes TNI. Bila sekarang Panglima-nya sudah dijabat pati TNI AU, maka idealnya adalah pati TNI AD yang mengisi pos Kasum TNI. Mengingat posisi TNI AD yang khas, dalam “duet” Panglima TNI-Kasum TNI, sebaiknya selalu ada unsur perwira dari TNI AD.

Kustanto bisa dianggap representasi ideal perwira yang dibutuhkan TNI saat ini, setidaknya berdasarkan dua alasan. Pertama, soal tahun kelulusan di Akmil, yakni tahun 1987, yang artinya tidak jauh berbeda dengan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto (AAU 1986). Kedua, soal keluasan wawasan dan beragamnya lahan penugasan.

Perlu saya tegaskan, bila saya menyebut nama Mayjen Kustanto, saya sama sekali tidak bermaksud mempromosikan beliau secara personal. Saya hanya sekadar memberi gambaran bagaimana kira-kira sosok KasumTNI yang tepat. Bila yang kemudian terpilih sebagai Kasum adalah lulusan Akmil 1987 yang lain, sebut saja Mayjen M Herindra (lulusan terbaik Akmil 1987, mantan Danjen Kopassus dan Pangdam Siliwangi), tentu tidak jadi masalah .

 

Aris Santoso , sejak lama dikenal sebagai pengamat militer, khususnya TNI AD. Kini bekerja sebagai editor buku paruh waktu.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR