Millenialisasi BUMN

Dunia berubah begitu cepat. Sendi peradaban bertransformasi melampaui kebiasan manusia sebelumnya. Pada gilirannya eksistensi manusia tidak lagi menjadi faktor tunggal, atas lahirnya perubahan.

Millenial bukan jargon yang mudah diucapkan untuk meyakinkan masa depan, bahwa kita siap dengan segala konsekuensi perubahan. Millenial juga bukan mantra atau atributisasi yang melekat dalam tradisi verbal masyarakat kita belakangan ini.

Mengeja makna millenial, tidak lantas tiba pada definisi semata. Kita, sebagai bangsa Indonesia sedang dihadapkan oleh banyak tantangan. Juga seiring berjalan waktu, banyak peluang yang bisa di manfaatkan sebagai pembobotan kualitas keadaban kita.

Banyak orang sebut-sebut kita memasuki era disrupsi, tanpa pernah paham asal muasal terjadinya kondisi itu. Ya, tidak lengkap mengenal millenial tanpa mengerti proses terjadinya disrupsi.

Perkembangan teori Post-Modern sudah banyak melakukan analisis juga antisipasi terjadinya disrupsi dimasa depan. Disrupsi era, bukan saja dipahami sebagaimana asosiasi maknanya. Ditengah turbulensi perubahan secara radikal disrupsi, juga bisa berkonotasi positif.

Saat dimana, sistem konservatisme berhadap-hadapan dengan penemuan yang melampaui zamanya. Disrupsi lahir sebagai sebuah gejala penanda. Bahwa, perubahan sedang berjalan tanpa kita sadari secara kasat mata melalui kesadaran ego.

Di Indonesia, disrupsi menjelma menjadi banyak hal; relasi sosial, sistem politik, peluang bisnis juga benturan konfilik. Pertentangan ojek pangkalan dengan ojek online, produktivitas hoax atau modus baru penipuan adalah sentimen negatif dari proses disrupsi.

Namun jika kita tetap beroptimis, disrupsi juga melahirkan sebuah nilai baru yang positif. Dalam hal relasi sosial, praktik distribusi donor seperti dompet duafa, kitabisa.com, change.org adalah cara mempermudah membangun gerakan sosial secara kolektif serta transparan. Dalam peluang bisnis wujud “market place” adalah konektivitas antara produsen dan konsumen secara langsung. Bentuk layanan pemerintah sudah banyak melahirkan fitur-fitur pengaduan yang membuat kerja pemerintah responsif dan terukur secara publik.

Hal-hal ini lah yang membuat geliat baru dalam multi sektor kehiduapan berbangsa dan bernegara kita.

Disrupsi BUMN dan Solusi

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang kini dipimpin oleh Erick Thohir adalah salah satu entitas yang menjadi lokus kita. Alih-alih banyak berpendapat, bahwa harusnya BUMN kita bisa lebih maksimal dalam melihat pelbagai peluang bisnis yang ada ditengah kemajuan teknologi.

Nanti dulu, digitalisasi atau robotisasi sebuah industri tidak serta merta akan merubah inti bisnis itu sendiri. Ada faktor lain yang menjadi salah satu indikator penentu. Yakni; kebiasaan atau orang uraban lebih suka menyebut dengan istilah ‘kultur’.

Kultur percaya diri positif, kultur pekerja keras, kultur bertanggung jawab, serta kultur kreatif dan inovatif. Lantas siapa mereka yang memiliki aspek prasyarat ini. Sejauh optimisme masa depan anak millenial mewarisi serta tumbuh kembang ditengah sifat-sifat tersebut.

Dalam pembukaan Indonesia Millenial Summit 2020 oleh Mentri Erick Thohir, mebegaskan bahwa anak-anak millenial punya kesempatan atau potensi dalam mempimpin juga melakukan pengembangan dalam bisnis-bisnis BUMN.

Kita berharap sikap Erick Thohir tidak berhenti pada “gimmick”, justru ini perlu dimaknai sebagai pintu gerbang estafet generasi kepemimpinan dalam segala lini. Tentu memberi peluang masuknya generasi millenial bukan dengan sesuka hati. Tetap mengacu pada kaidah/aturan dibarengi standar kopentensi sesuai dengan core business BUMN.

Dalam rangka itu, setidaknya ada tiga kriteria yang kompatibel dengan kebutuhan BUMN dalam situasi terkini.

Millenial entrepreneur, adalah mereka yang fokus dan ulet dalam melakukan model-model pendekatan bisnis baru. Kehadiran entitas ini menjadi peluang penyerapan tenaga kerja yang efektif. Banyak dari mereka yang memiliki minat bisnis sejak kecil. Sehingga memiliki kekuatan visi membangun BUMN hingga kelas Internasional.
Karakter ini jika masuk dalam BUMN bisa melahirkan sebuah trobosan baru dalam sistem BUMN untuk bersaing di tingkat global.

Millenial Innovator, adalah mereka yang tekun pada sebuah pengembangan instrumental. Ini tidak selalu selaras pada status akademik. Mereka adalah anak-anak millenial yang mencetuskan sebuah cara pandang baru bahkan cenderung aneh, dibarengi dengan perwujudan material secara kongkrit. Mereka tidak harus melakukan penemuan-penemuan besar kaliber saintifik, mereka cukup menemukan hal-hal sederhana namun bisa membantu sebuah kerja-kerja teknis. Tipikal seperti ini cocok untuk BUMN yang konsern pada industri dan pengembangan teknologi. Mereka bisa melakukan optimalisasi teknologi yang sudah ada. Daya kreatifnya bisa menjadi energi positif dalam lingkungan kerja.

Millenial Social Influencer, adalah mereka yang mampu melakukan penggalangan kesadaran sosial atau gerakan politik kewarganegaraan. Mereka bisa kader partai politik ataupun non-partisan (non parpol). Tetapi setidaknya mereka disatukan dengan semangat yang kuat dalam gerakan membangun kesadaran hak warga negara. Mereka juga anak-anak yang memiliki independensi dalam bersikap. Sehingga, bisa menjadi pembanding kebijakan politik jika itu tidak relevan atas kebutuhan zaman. Biasanya karakter ini cocok untuk memperkuat fungsi pengawasan kinerja serta pengkaji kebijakan BUMN yang ada dengan kebutuhan warga negara.

Jika karakter-karakter millenial ini bisa diakomodir oleh Mentri Erick, boleh jadi tantangan disrupsi bisa diantisipasi. Millenialisasi bukan saja melakukan rekruit pegawai secara besar-besaran ke dalam BUMN, kendati melakukan serapan (absorb) atas prilaku positif generasi millenial itu sendiri. Dengan begitu, keberpihakan pemerintahan Jokowi terhadap masa depan menjadi begitu kokoh. Ya, ini adalah awal-awal dari proses estafet generasi kepemimpinan untuk Indonesia Raya.

 

Abi Rekso Panggalih

Penulis : Abi Rekso Panggalih-pemerhati masalah sosial

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR