Minum Kopi di Jogya: Keunikan Konsep Hal Utama

Kesimbangan antara Keunikan dengan Kualitas

Kedai kopi juga marak di Jogyakarta. Oemah Kopi tempat awal yang saya kunjungi. Tempatnya tidak terlalu besar dan memang khusus untuk minum kopi. Di termpat ini selain menyediakan kopi original dari berbagai daerah, dan ini menjadi nilai yang ingin dijual oleh Pak Sasongko pemilik kedai kopi ini, juga nenyediakan kopi dengan rasa durian dan kayu manis.

“Kami menyediakan kopi dari berbagai daerah, ini yang jadi kekhasan kami, ada dari Lampung, Toraja, Sidikalang, Banjarnegara. Kami di sini menggilingnya, proses roastingnya sudah dari mereka yang kirim ke kami” demikian pak Sasongko menjelaskan.
Selain kopi original, kedai ini juga menyediakan kopi dengan tambahan flavour seperti durian dan kayu manis. Dan rasa durian pada kopi durian, ternyata juga berasal dari ektraksi buah durian yang mereka buat sendiri.

Tempatnya cukup ramai, buka dari pukul 19.00 sampai selesai. “Definisi ‘selesai’ adalah sampai pelanggan terakhir pulang. Jadi tutupnya bisa jam 5 pagi’ kata Arief ‘special guide’ saya.  Harga di oemah kopi disesuaikan dengab harga mahasiswa, yaitu murah meriah. Rasanya…? Lumayan lah, dengan standar roasting cenderung dark.

9ad03f34c14826541cca2fb1208bfe73Tempat kedua adalah Mataram Luwak coffee terletak di Bantul. Saat berkunjung, pengunjung dipersilahkan untuk mencicipi dengan gratis. Yang mereka jual adalah bubuk kopi luwak.  Hanya kelebihannya mereka menunjukan prosesnya, karena sasarannya adalah turis. Tapi proses itu sebatas proses setelah biji kopi di jemur 1 minggu, menjadi green bean, lalu contoh kopi yang sudah di roasting, plus 6 ekor luwak yang mereka pamerkan di kandang. Karena sasarannya adalah turis, maka harganya tentu mahal. Greenbean 100 gram di jual dengan harga  Rp.200 ribu, itu harga sangat premium walau untuk tingkat eceran.

Jenis kopi yang mereka jual adalah arabika luwak, dengan slogan rendah cofein dan tanpa acidity. Saat saya coba, slogan itu tercermin dalam rasa. Tapi bagi penikmat kopi, kopi arabika tanpa cafein apalagi tanpa acidity, susah rasanya mendefinisikan rasanya. Apalagi dengan harga setinggi itu. Yah mungkin ini bagus untuk mengedukasi bahwa kopi luwak bukan hal yang kotor terutama untuk turis asing.

Tempat ke tiga adalah Kedai Kopi di ring road utara Condong Catur. Tempat 2 lantai, menjual kopi dan makanan kecil yang lengkap. Untuk jenis arabika yang mereka sajikan juga beragam. Bahkan mereka menyediakan jenis natural process yang menjadi favorit saya, yaitu Java Preanger Malabar. untuk awal saya mencoba Java Arabika. Rasanya enak, digoreng dengan medium, acidity nya pas sesuai jenis Arabika. Setelah itu habis, cangkir kedua saya coba Java Preanger yang saya suka…lengkap lah liburan saya ini

Jadi dalam menjual kopi, menunjukan keunikan itu penting, tapi menyajikan kualitas rasa tentu lebih penting. Karena kita bukan sekadar sedang menjual tapi bersama-sama berusaha bagaimana meningkatkan konsumsi kopi, sehingga pasar dalam negeri meningkat .

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR