Mukidi, Petani Kopi yang Menginspirasi

Mukidi, Petani Kopi yang Menginspirasi (Foto: Istimewa)

Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah yang sudah lama dikenal sebagai salah satu sentra tembakau nasional, bisa jadi suatu saat nanti berubah menjadi sentra kopi Indonesia. Kopi adalah komoditas masa depan di wilayah pegunungan ini. Anak muda yang getol menyebar virus petani kopi mandiri tak lain adalah Mukidi. Bagaimana Mukidi menginpirasi sesama petani?

Mukidi10Mukidi, adalah nama kecil dan tertera di akta kelahirannya, lahir di Desa Wonotirto Kecamatan Bulu Kabupaten Temanggung pada 5 Agustus 1974. Sebelum masuk SD, ayahnya meninggal dunia. Masa kecilnya dilalui dengan penuh perjuangan. Ibu Mukidi, demi menghidupi empat anaknya, membeli karung goni di Dusun Kwadungan Desa Wonotirto. Mukidi, kakaknya, dan ibu mengendong anak yang masih kecil berkeliling dusun dari rumah-ke rumah menanyakan siapa yang mau jual karung goni. Tidak hanya itu, bahkan keluarga itu juga sempat mencari sisa-sisa pupuk kandang di lokasi tempat nampung pupuk. Dengan semangat pula. Mukidi berhasil menamatkan sekolah di SMK Temanggung.

Inilah sebuah pelajaran bagaimana orang harus semangat mempertahankan hidup dengan membangun ekonomi dalam keluarga. Dalam keadaan apapun harus semangat. Pelajaran kemandirian dari kecil sampai sekarang membawa Mukidi mengimplementasikan kegiatan tentang pertanian mandiri.

Pada mulanya Mukidi berjalan sendiri. Ia mulai menanam kopi di areal miliknya di lereng Gunung Sumbing. Sementara itu, bagian besar warga dusun masih setia menanam tembakau. Mukidi meyakini kopi adalah masa depannya. Jika ada petani lain ingin mengikuti jejaknya menanam kopi, ia dengan senang hati berbagi. Petani sudah lama menderita, meski kadang kaya tapi sementara. Salah satu sebabnya karena petani sangat tergantung kepada pihak lain. Sebagai ilustrasi pada tahun 1980an, saat Mukidi masih kecil, orang pabrik rokok datang ke desa membeli tembakau, bahkan saat tembakau belum panen. Petani bisa menentukan harga yang paling baik. Kini saat mbakon (musim panen tembakau) para petani datang ke gudang-gudang pabrik rokok agar tembakaunya dibeli.

Pertanian mandiri salah satunya adalah bagaimana petani bisa olah hasil pertanian yang benar dan baik, bahkan bisa menghasilkan produk olahan yang mampu bersaing di pasar. Mimpi itu kini mulai nampak walaupun baru kecil, salah satunya adalah olahan Kopi Mukidi. Mukidi mengolah kopi dengan tangannya di rumah tinggalnya sekarang di Dusun Jambon Desa Gandurejo Kecamatan Bulu KabupatennTemanggung.

Mukidi selalu belajar membuah produk yang diminati konsumen. Produk yang dihasilkan dari kopi juga bervasiasi dari produk untuk selera orang pedesaan, sampai pada yang diminati oleh penikmat kopi. Tidak hanya bikin olahan hasil pertanian saja, ia juga memberikan edukasi kepada petani setempat untuk mengolah lahan yang sesuai kaedah konservasi. Kunci awal untuk bisa membuat produk pertanian baik adalah menyelamatkan tanah dari erosi permukaan dan mengurangi penggunaan pupuk kimia, sehingga ke depan kemapanan lahan dengan pupuk organik akan terwujud.

Mukidi2Kini nama Mukidi identik dengan petani mandiri dan kopi. Ia  melakukan kegiatan rutin bertemu dengan kelompok tani, bahkan bertemu perseorangan hanya sekedar ingin berbagi tentang konsep petani mandiri. Konsep petani mandiri tidak membatasi pada komoditas, karena banyak petani yang nantinya akan bergabung membentuk sebuah himpunan.

Mari kita lihat catatan kegiatan Mukidi di bawah ini:

Hari ini, Jum’at 04 Maret 2016 dilaksanakan diskusi dengan tema Petani Mandiri bersama teman-teman petani dari Kelompok Tani Sumber Rejeki Wonotirto Kec Bulu Temanggung

Hadir sebanyak 15 Petani yang sangat serius mendengarkan paparan Mukidi mengenai Konsep Petani Mandiri yaitu : 1. Bercocok tanam sesuai kaidah konservasi; 2. Menanam Aneka Tanaman / Produk; 3. Pengolahan Produk; dan 4. Menciptakan atau membuka Pasar untuk produk yang dihasilkan

Bila dibandingkan antara hasil tanaman musiman dengan tanaman tahunan ( diambil contoh : Kopi ) maka hasil perbulan perkapita kurang lebih 1:3 . Memang ada syarat untuk bisa menghasilkan 3x lipat keuntungan dengan bertanam kopi, yaitu sanggup prihatin selama masa awal tanam sampai panen perdana.

Banyak yang disampaikan, dan diuraikan ke 4 point tersebut, tak terasa diskusi berlangsung selama 3jam dengan ditemani sajian camilan dan Segelas Kopi Jowo. Juga dipraktekkan cara penyajian kopi tubruk dengan membandingkan Arabica Lereng Sumbing dan Arabica Lereng Sindoro.

Motivasi yang diberikan memberikan semangat rekan kelompok tani Sumber Rejeki untuk semakin serius mengelola dan bercocok tanam dengan kaidah konservasi dan tentunya akan menghasilkan Kopi Temanggung yang berkualitas Dunia.

Bagi Rekan-rekan petani atau himpunan tani yang ingin berdiskusi bisa mengatur jadwal untuk datang ke Rumah Kopi Mukidi, ataupun mengundang pak Mukidi untuk hadir. Semangat, salam Petani Mandiri!

Keyakinan mewujudkan mimpi kekuatan ekonomi petani mandiri harus dilakukan. Gagasan itu selalu dilontarkan ketika banyak tamu berkunjung di Rumah Kopi Mukidi dengan kopi serba Temanggung. “ini sebuah produk hasil dari petani mandiri, begitu paparnya.”

Bukan rahasia lagi, potensi industri kopi di Kabupaten Temanggung sangat luar biasa. Bahkan sebagian produk kopi sudah merambah pasar luar negeri. Namun butuh beragam strategi untuk mempopulerkan kopi Temanggung agar lebih membumi dan mendunia. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat Festival Kopi Temanggung 2015, antusias mendukung kopi Temanggung. “Strategi pemasaran yang efektif dan efisien, salah satunya melalui lapak digital dengan memanfaatkan media sosial seperti twitter atau facebook,” ujar Ganjar Pranowo saat acara dialog dan ngopi di Pendapa Pengayoman, Pemkab Temanggung, Sabtu malam (26/12/15).

Setiap produsen kopi, lanjut dia, jangan lupa mencantumkan nomor kontak, alamat email, serta akun facebook dan twitter. Sehingga,selain dapat membeli dengan datang langsung, konsumen juga dapat memesan kopi Temanggung melalui online. Terutama untuk konsumen luar kota maupun luar negeri. “Tapi produsen harus siap kualitas, termasuk mendesain kemasan semenarik mungkin. Bahkan saya ingin suatu saat ada franchise atau waralaba kopi Temanggung,” katanya.

Strategi lainnya, menurut dia adalah mendesain atau menciptakan suasana kafe atau tempat berjualan kopi yang menarik pengunjung. Karena konsumen sekarang datang ke kafe tidak hanya sekadar minum kopi, namun juga ingin menikmati suasana kafe sembari ngopi. Misal dengan memamerkan cara menyeduh atau proses pembuatan kopi, menyediakan fasilitas internet atau life musik, dan sebagainya.

Gubernur berharap untuk tahun berikutnya, festival kopi tidak hanya mempromosikan beragam jenis kopi dan penyajiannya. Tetapi juga melibatkan lebih banyak peserta, termasuk dari luar kota, memamerkan proses pembuatan kopi, serta mengenalkan hewan luwak kepada masyarakat. “Jangan lupa gencarkan sosialisasi festival kopi jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan. Tunjukkan kepada masyarakat luar, bahwa selain tembakau, kopi juga menjadi komoditas unggulan Temanggung,” tandasnya.

Mukidi kini sering diundang ke berbagai kota dan daerah pertanian (terakhir diundang ke Sarongge, Jawa barat), untuk berbicara tentang petani mandiri, bertani kopi, memperagakan mesin sangrai kopi buatan sendiri hingga membuat dan menyajikan kopi Temanggung yang rasanya sangat khas. Karena kepedulian dan aktivitasnya di bidang pertanian dan konservasi lahan, Mukidi masuk dalam nominasi Liputan6 Award SCTV Tahun 2013.

—————————————————–

Profil Mukidi:

Lahir: 5 Agustus 1975

Pendidikan: Lulus SMK Temanggung.

Produk Kopi: Kopi Mukidi, Kopi Jowo, dan Kopi Lamsi.

alamat blog: https://mukidi.wordpress.com

salah satu nominator liputan6 award SCTV tahun 2013 videonya bisa dilihat di http://video.liputan6.com/main/read/20/1134142/0/liputan6-pagi-02-05-2013-klip-6

alamat facebook: https://www.facebook.com/rizal.mukidi

alamat twitter : @mukidi5758

alamat email : mukidi5758@yahoo.com , mukidi5758@gmail.com

hp : 081 227 973 978, 087 834 080 977

BAGIKAN

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR