Mutasi TNI dan Nilai Pluralisme

Pada Rabu (26 April) kemarin, Mabes TNI telah mengumumkan mutasi sejumlah perwira. Dua nama yang menarik perhatian dalam mutasi TNI tadi adalah Mayjen TNI Hinsa Siburian dan Kol Inf Maruli Simanjuntak. Mayjen Hinsa yang kini masih menjabat Pangdam XVII/Cenderawasih, akan dipromosikan sebagai Wakil KSAD. Sementara Kol Inf Maruli Simanjuntak (Akmil 1992, kini Danrem Solo) akan diangkat sebagai Wadan Paspampres. Dalam posisi yang baru, pangkat keduanya akan naik satu tingkat.

Dua perwira ini kebetulan sama-sama berasal dari Korps Baret Merah (Kopassus). Hinsa akan menjadi bintang tiga (letjen), sementara Maruli akan masuk strata pati sebagai brigjen. Bagi yang sempat memperhatikan mutasi TNI, promosi bagi keduanya tidak terlalu aneh. Hinsa misalnya, adalah lulusan terbaik di angkatannya (Akmil 1986), kemudian Maruli, sering diperbincangkan karena hubungan kekerabatannya dengan Menko Maritim Luhut B Panjaitan.

Aspirasi Pluralisme 

Nama Hinsa mulai dikenal publik, saat diangkat menjadi Komandan Satgas Kopassus (Tim Cendrawasih) di Papua, pasca insiden tewasnya Theys Hiyo Eluay, akhir 2001. Hinsa berhasil mengangkat kembali moril anggota Kopassus yang bertugas di Papua, yang sempat jatuh karena peristiwa tersebut. Kita masih ingat bagaimana publik menghujat anggota Satgas Kopassus terkait tewasnya Theys.

Setelah itu Hinsa masih sering ditugaskan ke Papua, hingga akhirnya menjadi orang nomor satu di Kodam setempat. Dengan kemampuan mengendalikan kawasan Papua yang selalu bergejolak, artinya bisa dikatakan, Hinsa adalah perwira yang cakap, dan layak untuk menjadi pemimpin masa depan, khususnya di lingkungan TNI AD. Dengan menjadi WAKSAD, rasanya tinggal selangkah lagi Hinsa akan menjadi orang nomor satu di Mabesad.

Bila Hinsa benar-benar menjadi KSAD nantinya, ini fenomena menarik. Karena sejak Jenderal Maraden Panggabean menjadi KSAD (1967-1969), belum pernah lagi KSAD yang berlatar belakang Nasrani. Sementara di matra laut dan udara, Kepala Staf berasal dari Nasrani adalah hal yang biasa.

Memang ini isu yang sangat sensitif, terlebih hari-hari ini, kita harus ekstra hati-hati dalam membahasnya. Terkait pilkada Jakarta misalnya, bagaimana polarisasi masyarakat benar-benar gamblang. Sungguh fenomena yang sangat mengkhawatirkan. Kita tidak pernah mengira fenomena ini masih terjadi setelah 70 tahun kemerdekaan. Saya sendiri tidak tahu dari mana masalah rumit harus diurai?

Saya kira kita masih bisa berharap pada institusi TNI, yang bisa menjujung tinggi aspirasi pluralisme, bahwa dalam memilih pimpinan berdasarkan prestasi yang bersangkutan, bukan berdasarkan ikatan primordial. Kita akan lihat nanti, bahwa TNI akan sanggup menjadi rujukan dalam praktik keberagaman.

Kemampuan Diuji 

Mirip-mirip dengan pengalaman Hinsa di Papua, Maruli mulai dikenal publik saat terjadi insiden penembakan di LP Cebongan, Sleman (Maret 2013). Saat peristiwa itu terjadi, Maruli menjabat sebagai Komandan Grup 2 Kopassus, di Kartosura, Solo. Ya benar, para pelaku penembakan itu adalah anak buah Maruli di Grup 2 Kopassus.

Maruli dalam waktu relatif singkat mampu mengonsolidasikan anak buahnya kembali, usai peristiwa yang sangat mengguncang nama baik Baret Merah. Setelah masalah reda, Maruli ditarik ke Jakarta, menjadi Komandan Grup A Paspampres, dekat-dekat setelah Jokowi dilantik sebagai Presiden.

Karier cemerlang  Maruli sering dihubung-hubungkan dengan ikatan kekerabatannya dengan Menko Maritim Luhut B Panjaitan. Kini tinggal bagaiman Maruli membuktikan pada masyarakat, bahwa promosinya benar-benar karena kemampuannya, bukan nepotisme.

Nasib Baik dan Karma 

Bagi perwira lulusan Akmil, ada yang disebut “garis tangan”, maksudnya jabatan atau pangkat semuanya sudah menjadi suratan nasib. Jadi kalau ada yang berlatar belakang “orang kuat” ya itu bagian dari nasib baik. Mereka umumnya sudah mahfum adanya realitas seperti itu, jadi tidak perlu terlalu dipermasalahkan, yang penting kita kerja sebaik-baiknya, siapa tahu nasib baik akan berpihak pada kita.

Dalam hal nasib baik, Maruli bisa dianggap lebih beruntung dari Kol Inf Tri Yuniarto (lulusan terbaik Akmil 1989). Berbarengan dengan promosi Maruli, Kolonel Tri Yuniarto baru saja ditetapkan sebagai Direktur Doktrin Kodiklat TNI AD, pos untuk brigjen. Sebagai lulusan terbaik di angkatannya, sudah berulang kali Tri Yuniarto didahului oleh rekan seangkatannya, bahkan adik kelasnya di Akmil, untuk masuk strata pati. Dengan kata lain promosi bagi Tri Yuniarto sebenarnya termasuk terlambat. Namun ini masih lebih baik, karena ada juga peraih Adi Makayasa yang akhirnya tidak jadi apa-apa.

Dalam perjalanan karier seorang perwira, dikenal juga apa yang disebut “karma”. Bahwa segala amalan baik (pun yang kurang baik), semuanya akan berbalas. Itu bisa kita lihat pada Kolonel AE Kawilarang misalnya, meskipun hanya sampai kolonel, namun namanya akan selalu dikenang sepanjang massa. Sebagai pendiri Kopassus, setidaknya setahun sekali, tatkala upacara hari jadi Kopassus, nama Kawilarang senantiasa berkumandang.

Berbeda halnya dengan figur semacam Letjen TNI Ali Moertopo atau Mayjen TNI Soehardiman (pendiri Soksi), mereka ini adalah jenderal dengan tipe politicking. Memang kekuasaan sempat mereka raih, namun posisinya menjadi paradoksal: memiliki banyak pengikut, namun di saat bersamaan musuhnya juga tidak sedikit.

 

Aris Santoso, sejak lama dikenal sebagai pengamat militer, khususnya TNI AD. Kini bekerja sebagai editor buku paruh waktu

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR